Lukas 10:1-11.
Oleh: Pdt.Hallie Jonathans.
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Pertama-tama kita harus ingat bagaimana Tuhan Yesus memperingatkan para Rasul dan para 70 Murid untuk bersedia membayar harga kemuridan mereka. Tuhan Yesus memperingatkan 4 (empat) hal: 1. Dalam Lukas 9:23 , Tuhan menyatakan:”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku. Karena siapa mau menyelamatkan nyawanya ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”. Pelayanan pertama dalam Kerajaan Allah ini adalah Penyangkalan Diri. Kalau kita tidak mau menyangkal diri maka kita tidak layak bagi Kerajaan Allah. Sebabnya adalah karena ego kita tetap besar, kita tidak mau menjadi hamba Tuhan, kita mau menjadi Bos dalam Kerajaan Allah. Proses penyangkalan diri amat lama , apalagi kalau kita tetap saja tinggi hati. Masalah dalam kemuridan kita terhadap Tuhan terletak dalam : a. Hanya memprihatinkan diri, Concern with self. Bukankah kita juga seperti itu? Tidak peduli bagaimana dengan Tuhan dan bagaimana dengan orang lain. Pokoknya kita harus hidup serba menyenangkan. Perasaan kita jugalah yang harus terus disenangkan. Comfort adalah kata kunci kita. Meninggalkan semua comfort atau kesenangan hidup kita adalah hal yang tidak mungkin. Kita bayangkan banyak Bapa Gereja berasal dari Keluarga yang Kaya dan Terhormat, tetapi mereka meninggalkan semua itu dan masuk ke dalam kemiskinan rasuli serta tidak memiliki apapun. Istri saya meninggalkan hidup yang berkelimlahan di rumah ayahnya, untuk tinggal bersama saya, menempati rumah yang sedikit lebih baik dari rumah bedeng di Semarang. Penyangkalan diri yang utama adalah penyangkalan sifat diri, kesombongan diri, menanggap diri paling hebat, menganggap orang lain tidak berarti, hanya saya yang berarti, hanya saya yang harus menjadi perhatian, hanya saya yang memerlukan perhatian. b. Loyalitas kelompok yang terlalu Sempit. Dalam gereja kita sering bertindak bukan sebagai sekawanan domba milik Allah yang mengikuti langkah kegembalaan-Nya mendahului kita tetapi kita mau menjadi Kelompok yang Harus Didengar. Loyalitas kita bukan kepada Kerajaan Allah tetapi kepada diri sendiri dan kelompok kita. Ini yang disebut Too Narrow Group Loyalty. Dengan demikian kita menjadi tidak cocok atau pas bagi Kerajaan Allah. Lalu apa jadinya kalau satu kelompok beradu dengan kelompok lainnya? Terjadilah Tabrakan dalam Jemaat. Coliding in the Church. Padahal ada nyanyian berbunyi indah: “Di Gereja yang harus bersatu, agar nyata manusia baru, datanglah Kerajaan-Mu, datanglah-datanglah, datanglah Kerajaan-Mu”. Mari kita semua bertobat dari berada dalam kelompok-kelompok yang akan menghabiskan energy kita dan bahkan akan memperluas kebencian. Kelompok itu hanya akan membuat kita gemar makan puji. Kelompok memuji kita kalau kita menyediakan segala sesuatu bagi kelompok. Lihat saja hancurnya koalisi politik di Indonesia. Kita semua harus kembali ke Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus. Sebagai orang beradab kita tercengang melihat ulah demonstran mendemokan bahwa Presiden kita, Dr Susilo Bambang Yudhoyono diibaratkan sama dengan Kerbau yang dungu dan lambat. Kita malu melihat perilaku beringas di jalan, di demo, bahkan di mana-mana. Saya tentu berharap bahwa Gereja tetap merupakan Tempat Percontohan Damai Sejahtera karena adanya Penyangkalan Diri yang sungguh dalam diri kita.2. Dalam Lukas “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Dahulu para Rasul dan Murid kemudian harus hidup dalam pengembaraan, meninggalkan rumah tinggal mereka dan terus berada dalam perjalanan missi mengabarkan Injil Tuhan Yesus Kristus. Sekarang tidak demikian. Para Penginjil dan Pendeta sudah tak dapat meninggalkan tempat yang comfortable , berupa penginapan atau hotel yang mewah. Kalau dapat semua kamar harus ada ACnya. Semua harus lengkap. Saya rasa Tuhan Yesus tidak menginginkan kita hidup amat sengsara dengan semua ketidak-nyamanan itu. Tuhan tidak melarang kita hidup nyaman. Tuhan menghendaki agar kita memiliki Sistim Nilai yang bukan terpusat pada Comfortabilitas. Jangan kita hanya terpaku pada comfort after comfort. Nyaman dan lebih nyaman lagi.Kenyamanan jangan memenjarakan kita.Kenya -manan harus menjadi penunjang bagi pelaksanaan tugas pelebaran Kerajaan Allah atau pelayanan dalam Kerajaan Allah. Kita malahan mencatat betapa kecilnya pensiun yang diterima oleh para Janda Pendeta. Kalau kecilnya Pensiun Pendeta itu merupakan tantangan untuk tetap bekerja dalam Kerajaan Allah itu.
3. Tugas-tugas Filialitas, atau Tugas Mengasihi Keluarga dan Sesama. Filialitas bisa menjadi dan bahkan sering menjadi halangan bagi pelebaran Kerajaan Allah. Bagaimana dengan tugas mengasihi keluarga atau persekutuan, dll? Tuhan Yesus tidak menyangkal pentingnya Filialitas itu. Tetapi Tuhan menyatakan bahwa ada tuntutan yang lebih tinggi yang harus kita penuhi. Tuntutan itu adalah tuntutan mengikut Tuhan Yesus. Hal menguburkan bapanya, menjadi penting, tetapi itu tidak penting apabila kita harus melakukan tugas pelayanan Kerajaan Allah. Tuhan Yesus berkata:”Biarlah orang mati mengubur -kan orang mati, tetapi engkau pergilah dan beritakanlah kerajaan Allah di ,mana-mana”.
Filialitas lain adalah Pamitan sebelum memasuki Ladang Kerajaan Allah. Luar biasa perlunya. Bukankah perlu dilakukan Ibadah Pengutusan yang mewah? Juga kalau Wisuda Purna Bhakti harus mewah? Harus makan banyak? Harus banyak pidato, meskipun sering kita lihat lain di mulut lain di hati. Hal demikian Tuhan katakan tidak perlu. Kita harus tetap berada dalam kesederhanaan atau simplisitas orang beriman.
4. Tuhan Yesus melihat bahwa semua bentuk Filialitas itu membawa kepada banyak “interupsi-interupsi” yang mengganggu perhatian kita terhadap Kerajaan Allah. Yang harus kita lakukan adalah pelayanan tanpa terhalang oleh interupsi filial yang kurang perlu. The task in the Kingdom of God, requires a man’s uninterrupted attention.
Tuhan Yesus berkata:”Setiap orang yang siap membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”. (Lukas 9:62). Kalau kita tak tahu membajak, maka agak sulit membayangkannya. Membajak itu harus kuat dan lurus, atau menurut garis lengkung yang harus ditempuh. Dan itu harus dilakukan tanpa gangguan dalam membajak. Kalau menggunakan binatang kerbau , maka kerbau itu akan bingung ke mana arah yang dituju apabila kita masih melihat ke belakang dan lupa bahwa kita sudah berada pada batas tegalan sawah . Jalannya bajak itu akan tidak lurus atau tidak searah yang dikehendaki.
Masalahnya adalah apakah kita layak untuk Kerajaan Allah? Are we fit for the Kingdom of God? Bagaimana kalau kita tidak layak? Kalau tidak layak, maka kita beroleh kesempatan untuk menjadi layak. Allah prihatin dan berbelas kasihan atas kita. Allah mau dan mampu menebus kita. Kita harus tahu ketidak-layakan kita. Kita harus mengakui ketidak-layakan kita. Kita harus menerima arahan Allah dan pernyataan Allah atas kita, agar kita layak bekerja dalam Kerajaan-Nya.
Tuhan tahu hati kita. Apakah kita memang mau hidup dan mengabdi pada-Nya atau sedang mengumpulkan credit point untuk nanti kita mendapatkan Reward berdasarkan Credit Points kita. Seharusnya, karena Tuhan telah menyelamatkan dan menebus saya, maka saya hanya harus menyenangkan hati Tuhan, harus mengabdi kepada Tuhan. Tuhan pasti akan memedulikan take care akan semua perkara hidup saya.
Urusan kita adalah urusan Kerajaan Allah. Masalah menguburkan Ayah kita, masalah Pamitan , masalah untuk Perpisahan dan lainnya janganlah menjadi halangan untuk Single Focuseness kita dalam pelayanan dan dalam Prioritas dan Sistim Nilai Kerajaan Allah. The purpose is to set forth the supreme importance of the Kingdom of God, and the supreme loyalty which the Kingdom of God demands of us.
Untuk itulah Tuhan Yesus kemudian mengutus para murid yang berjumlah tujuh puluh itu untuk mengabarkan Injil Kerajaan Allah. Bukan dengan masing-masing “gaya” tetapi dengan hanya satu “gaya”, yaitu “gaya/style” kemuridan yang tidak memperkenankan suatu interupsi sosial, ekonomis maupun politis atau kepentingan diri atau kelompok apapun menghalanginya dari fokus pada pemberitaan atau pelebaran Kerajaan Allah itu.
Urusan kita adalah kepentingan Kerajaan Allah. Bukan kerajaan kita atau kerajaan kita-kita. Menerima Injil berarti menerima keselamatan dan hidup. Para murid harus berdoa bagi tersedianya pengerja dalam ladang Allah atau dalam memberitakan Kerajaan Allah. Mereka sendiri harus menjadi pengerjanya juga. Kalau kita menolak Injil Kerajaan Allah maka itu berarti bahwa kita berada dalam penghakiman dan kematian. Bagaimana tidak? Kita tetap akan tenggelam dalam dosa kita, kita tetap akan memelihara semua kehendak kita yang semuanya berpusat pada diri kita, kepentingan kita, semua serba kita-kita-kita, aku-aku-aku!. Rasul Paulus berkata:”Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. (Galatia 2:18c-21).
Hal pengutusan dua-dua adalah umum juga bahkan dalam sending Yahudi. Itu dimaksudkan agar ada kawan seperjalanan, ada proteksi, ada saksi. Harus juga ada usaha menambahkan pekerja dalam mengerjakan ladang Allah ini. Harus sadar bahwa kita Tuhan berkata:”Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Apakah kita bersedia menuai apabila tuaian itu akan menggigit bahkan memahayakan dan membunuh kita? Injil Tuhan adalah Injil Mulia. Tetapi orang memperlakukan para pengerja dalam ladang Allah secara tidak mulia. Para pengerja kerajaan Allah selalu dihina, dicemooh, kepada mereka ditimpakan berbagai tuduhan, they were not noble or honorable treated. Tuhan Yesus sudah memperingatkan kita semua:”Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh, dan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad, dan akan saling menyerahkan, dan saling membenci”. (Matius 24:9-10). Kedurhakaan akan bertambah dan kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai kesudahannya, akan selamat. (Mat 24:13).
Siapakah yang sebenarnya Anak Domba yang diutus ke tengah-tengah serigala? Hanya Tuhan Yesus Kristus, Anak Domba Allah satu-satunya, yang bahkan harus mati ganti kita, agar kita ditebus dan diselamatkan.
Jangan bawa uang atau persediaan terlalu banyak, secukupnya saja. Itu berarti dalam perjalanan missioner kita , kita harus bergantung pada Tuhan saja.
Hari ini Salam Damai Sejahtera atau Peace Greeting menjadi serius bagi saya. Sebab benar Firman Tuhan, ada pasti orang yang menolak Salam Damai Sejahtera kita. Terlihat pada body languagenya, bahasa tubuhnya, pada suara dan cara bercakap dengan kita. Tuhan katakan Take Your Peace Back!. Bagi dunia, damai sejahtera adalah kenyamanan, kurang konflik, hidup untuk yang sesaat saja, tetapi bagi orang percaya, damai sejahtera yang dimaksudkan adalah “Damai sejahtera yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”. (Filipi 4:7). Sembuhkan orang sakit, sebab banyak juga orang yang sakit rohani. Serukanlah:”Kerajaan Allah sudah dekat padamu!”. “The Kingdom of God has come near you”.
Do not work for money, work for the pleasure you find in work, work for the satisfaction there is, in developing things, in creating. Work for the love of work. Lakukan pekerjaanTuhan dengan sukacita. Dalam Kerajaan Allah atau dalam Pekerjaan Allah Tuhan mengutus orang yang berterimakasih atas keselamatan mereka. Ia mengutus orang untuk membuat pembedaan yang amat nyata baik secara kwantitaip maupun secara kwalitatip,we have to make a difference for the Kingdom of God.Ingat dalam pekerjaan Tuhan, Allahlah yang menguasai. God is in charge!. Marilah kita bekerja dalam Ladang-Nya, dalam Kerajaan-Nya , dengan jelas berseru :”Kerajaan Allah sudah dekat padamu!”. Amin.
