Berita

Terimakasih, Penghargaan & Dorongan bagi para Ibu dalam Komunitas Apapun.(rev)

22 January 2010, 13:00

oleh : Pdt.Hallie Jonathans.

Segenap Ibu yang kami kasihi dalam Tuhan,

Hari ini 22 Desember 2009, kita semua merayakan Hari Ibu Indonesia. Sejarahnya diawali pada Kongres Perempuan Indonesia I , 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitata-ma di jalan Adisucipto. Hasil Kongres itu adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Lebih lanjut dinyatakan bahwa organisasi perempuan sudah ada sejak 1912. Para pahlawan wanita abad 19 mengilhaminya. Mereka adalah M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, R.A Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said, dll. Apa yang menyebabkan mereka bersatu seperti itu? Pikiran pertama adalah :

1. Menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib perempuan Nusantara.

2. Melibatkan para perempuan dalam perjuangan pemerdekaan Indonesia.

3. Melibatkan para perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa.

4. Memberikan perhatian kepada serta berjuang mengatasi perdagangan anak-anak dan kaum perempuan.

5. Perbaikan Gizi dan Kesehatan bagi Ibu dan Balita.

6. Mencegah Pernikahan Dini bagi perempuan.

Pada saat itu tak ada gembar-gembor kesetaraan gender. mPikiran dalam Kongres itu adalah murni Indonesia. Jadi kita harus menghargai sangat pikiran besar Perempuan Indonesia. Kongres Perempuan Indonesia III memutuskan penetapan 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu. Pada peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953, perayaan Hari Ibu dilakukan di 85 Kota Besar dari Meulaboh sampai ke Ternate. Dekrit Presiden Soekarno. No. 316 1959, menetapkan 22 Desember adalah hari Ibu, dan dirayakan secara nasional. Kita kurang merayakannya. Mungkin karena sibuk dengan persiapan Natal dan terlalu sibuk dengan urusan remeh-temeh akhir-akhir ini.

Tahun 1973, Kowani menjadi Anggota Penuh dari International Council of Women(ICW). ICW adalah dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa. Cita-cita itu tentunya dietruskan dengan perhargaan kepada Para Ibu. Dalam hal ini kita amat maju. Kita menuliskan penghargaan melalui pelbagai media, memberikan bunga, menggantikan Ibu di dapur dan tak memperkenankannya bekerja berat. Diskusi dan Talkshow tak terkatakan. Namun semua itu belum juga menjamin garis juang Ibu bagi Pembebasan, Pengisian Kemerdekaan, dan dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Ini tentunya termasuk dalam bidang ekonomi, politik, budaya dan sosial lainnya. Mengapa tersendat? Sebab kita selalu berhenti pada Ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan anak. Itu amat penting dan merupakan inti kehidupan bersama. Namun, kini kita harus mengakui bahwa semua itu tidak cukup. Domestikasi Ibu amat manis nampaknya. Tetapi perjuangan Ibu tak sampai di situ saja. Pahlawan Wanita R.A Kartini telah mencatat bagi bangsa ini perlunya wanita keluar dari kegelapan menuju terang pembebasan wanita. Meskipun ia tak berdaya melawan poligami bahkan hidupnya teramat penuh dengan kepedihan karena terpenjara dalam poligami itu, namun suaranya lewat surat-suratnya amat berharga. Orang dapat saja meragukannya, tetapi Ibu R.A Kartini sudah mencatat sejarah emas perlawanan wanita atau perempuan dan sekaligus Ibu. Siapakah Ibu? Bukan hanya yang telah melahirkan dan membesarkan anak, tetapi juga mereka yang pernah mengandung tetapi tidak sampai melahirkan anak. Dewi Sartika tahun 1904 mendirikan Sekolah pertamanya, dengan nnama Sekolah Istri. Lalu dirubah menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Sampai 1912, Dewi Sartika telah mendirikan 9 Sekolah. Alm. Marianne Katoppo, S.Th (2000), mencatat bahwa jumlah sekolah itu mencapai 50% dari kseluruhan sekolah di Pasundan.

Politik Etis Pemerintahan Belanda memang menghasilkan peluang-peluang bagi bangsa Indonesia untuk mendapatkan pendidikan. Meskipun praktek nya adalah pendidikan terbatas bagi orang yang juga terbatas. Yah antara mereka yang tidak sama dengan mereka yang mendapatkan persamaan kewargaan Belanda terdapat jurang yang dalam. Saya mencatat peraihan jenjang pendidikan tinggi dan menengah, merupakan kebanggan pendidikan , dengan kwalitas prima. Sampai hari ini kwalitas pendidikan dan kemandirian seperti itu amat jauh , atau tak menjadi realitas lagi. Pendidikan kejuruan telah juga amat maju dan terbuka, sampai kepada Sekolah Teknik dan Sekolah Teknik Tinggi. Ada pendidikan Guru , ada pendidikan Dokter Medis.Jangan lupa terdapat juga pendidikan Pendeta. Pendidikan Tentara untuk Darat, Laut dan Udara serta Polisi juga mulai dikembangkan. Nama-nama pendidikan itu mungkin kurang tepat, tetapi amat hebat ouput pendidikannnya. Semua amat prima. Pendidikan telah dimulai dengan baik.

Bagaimana seterusnya perjuangan mendapatkan persamaan hak pendidikan bagi perempuan? Itu dilakukan oleh organisasi Poetri Merdeka. Lahir tahun 1912, mendapat dukungan Budi Oetomo, sebagai organisasi laki-laki. Bagaimana perkembangannya kemudian? Organisasi-organisasinya adalah :

1. Pawiyatan Wanito (Magelang , 1915).

2. Percintaan Ibu kepada Anak Temurun (PIKAT) (Manado 1917).

3. Purborini. (Tegal, 1917).

4. Aisyiah atas bantuan Muhammadiyah, (Yogyakarta, 1917).

5. Wanita Soesilo , (Pemalang, 1918).

6. Wanito Hadi, (epara, 1919).

7. Poteri Boedi Sedjati, (Surabaya 1919).

8. Wanito Oetomo dan Wanita Moeljo, (Yogyakarta, 1920).

9. Serikat Kaum Iboe Soematra, (Bukit Tinggi, 1920).

10. Wanito Katolik, (Yogyakarta, 1924).

Semua ini dicatat oleh Sukanti Suryochondro: 1995. Organisasi perempuan ini menyebarkan cita-citanya melalui majalah. Itulah bentuk komunikasi dengan publik.

Secara umum, sifat tujuan organisasi tersebut adalah:

1. Sosial dan kultural dan pendidikan.

2. Memperjuangkan nilai-nilai baru dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

3. Mempertahankan ekspresi kebudayaan asli melawan aspek-aspek kebudayaan Barat yang tidak sesuai.

4. Kegiatan Sosial-Budaya, termasuk Kesenian dll.

Bayangkan, sibuknya Perserikatan Perkumpulan Istri Indonesia, (PPII), memperhatikan:

1. Perhatian pada Lingkungan Keluarga dan Masyarakat.

2. Kedudukan perempuan dalam hukum Perkawinan (Islam).

3. Pendidikan dan Perlindungan anak-anak,

4. Pendidikan Perempuan,

5. Perempuan dalam Perkawinan.

6. Mencegah perkawinan anak-anak.

7. Nasib Yatim Piatu dan janda.

8. Pentingnya peningkatan harga diri perempuan.

9. Kejahatan Kawin Paksa.

Tahun 1935, dibentuk Badan Penyelidikan Perburuhan Kaum Perempuan, yang menyelenggarakan Rapat Umum untuk perempuan buruh batik di Lasem, Jawa Tengah.

Dibentuk pula Badan Pemberantasan Buta Huruf,

Badan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak.

Pada Kongres Perempuan II, Maret 1932, isu Nasionalisme dan Politik muncul. Perhatian diberikan pada Sanitasi di Kampung dan Tingginya Angka Kematian Bayi.

Suwarni Pringgodigdo, mendirikan organisasi perempuan yang aktif dalam perjuangan politik. Istri Sedar (1930), menerbitkan jurnalnya. Upaya menentang poligami menjadi amat penting, sebab poligami merugikan perempuan.

Luar biasa perjuangan ini. Kalau saya melihat Liturgi Hari Ibu yang dikeluarkan oleh Dewan Wanita untuk merayakan Hari Ibu , 22 Desember ini, dilakukan pada hari Minggu yang beragam dalam bulan Desember oleh Jemaat-Jemaat / BPK Persatuan Wanita GPIB, sama sekali jauh dari perjuangan Wanita atau Perempuan dan Ibu Indonesia. Untuk tahun depan dibentuk Panitia Hari Ibu dengah tugas membuat Wawasan dan Liturgi serta Aksi Hari Ibu. Secara umum GPIB amat ketinggalan merumuskan dengan tepat tugas dan fungsi perempuan /wanita dan ibu dalam perubahan zaman seperti ini.

Perempuan dan Ibu yang mendukung perjuangan suaminya dalam upaya pemerdekaan Indonesia, dibuang ke Boven Digul.Perjuangan Maria Ulfa, anggota Volksraad, ternyata gagal. Ia kemudian menjadi Menteri Sosial pada Kabinet Syahrir II, 1946. dan S.K Trimurti menjadi Menteri Perburuhan pada Kabinet Amir Syarifudin (1947-1948). Pada pemuli 1955, gerakan perempuan Indonesia berhasil menempatkan perempuan sebagai anggota parlemen.

Jadi itulah pergerakan wanita atau perempuan dan ibu dalam konteks pembentukkan bangsa ke arah kemerdekaan.

Kekuatan Kolonial yang paternalistuk menekan laki-laki tetapi perempuanlah yang sebenarnya yang paling menderita baik dalam kehidupan publik maupun pribadi. Nasionalisme sering juga menekan rasa kedaerahan, hal ini harus kita catat sebagai upaya negatip. Ini semua berakhir dalam kegiatan positioning dalam organisasi saja. Posisi itu bersifat antagonis. Hak politik wanita dan laki-laki adalah sama.Legalitas itu dijamin dalam pasal 27 UUD 1945. Lalu lahir UU 80/1958, menjamin pembayaran yang sama atas pekerjaan yang sama bagi perempuan dan laki-laki. Sistim penggajian berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Dalam GPIB memang tak dilakukan pembedaan. Para Pendeta Wanita mendapatkan upah dengan skala gaji yang sama. Hanya Tunjangan Istri yang diberikan kepada kaum Pendeta Laki-laki. Sedangkan kepada Pendeta Wanita tak diberikan Tunjangan Suami. Sebabnya adalah, karena Suami bagaimanapun adalah Pencari Nafkah Utama. Namun dalam perkembangannya, banyak sekali Para Suami dari Pendeta Wanita yang menggantungkan dirinya pada pendapatan Gaji istri, sehingga dibuatlah keputusan memberikan Tunjangan Suami. Meski agak aneh tetapi itu merupakan kebutuhan. Suami-suami itu kemudian mencari pekerjaan menunjang kerja Istri mereka.Kalau suami dan istri adalah pendeta dalam GPIB , maka dapat saja suami ditempatkan dalam satu Jemaat tertentu dan istrinya dalam Jemaat lain.Mungkinkah tetap terpelihara hubungan suami istri dalam satu rumah? Bahaya ini mungkin perlu dilihat dan ada kebijakan yang lebih menjamin suami dan istri serta anak-anak dalam satu rumah, dus bukan dua rumah.

Kegiatan Dapur Umum dalam Perjuangan Kemerdekaan dan seterusnya amat terkenal. Kini kegiatan Bazaar menjadi kegiatan yang justru menghasilkan.

Kita harus mencatat sekarang pelbagai pergerakan perempuan di Daerah dan di Pusat. Sampai juga di Tingkat Propinsi, Walikota, Kecamatan dan Kelura -han. Rasanya keadaan sudah cukup parah, sebab jumlah perempuan dan ibu di wilayah kita saja, sudah amat besar. Dalam Jemaat juga sudah amat beragam. Banyak adalah Ibu Rumah Tangga, tetapi banyak pula Kaum Profesional, dll. Kalau dapat, mari kita miliki strata kategori, tingkat pendidikan dan tingkat kesejahteraan, serta kemampuan membiayai pendidikan dan kesehatan anak, termasuk kesehatan Ibu dan perempuan sendiri. Bea Siswa juga amat diperlukan di masa depan. Yang kita miliki adalah bea siswa minimalis. Dalam bidang kesehatan juga diperlukan peningkatan menjadi Klinik Kesehatan GPIB. Spirit untuk melaksanakannya terhalang oleh besarnbya kebutuhan dana penunjang kegiatan ini. Semua catatan di atas adalah berdasarkan tulisan dari Mukhotib MD, dan kemudian Widyastuti Purbani. Yang terakhir mencatat bahwa Wanita atau Perempuan dan Ibu harus berada pada level perjuangan pembangunan bangsa Indonesia. Jadi upaya yang amat luas. Bukan lagi pada ranah primordial sampai-sampai mengurusi soal-soal klenik, tetapi mengurusi soal kehidupn nyata berdasarkan iman akan Tuhan Yesus Kristus, bagi para Ibu, Wanita atau Perempuan dalam GPIB. Paduan Suara penting tetapi mendengarkan suara rintihan para perempuan yang tidak punya uang membayar kuliahnya, kostnya, apalagi kebutuhan lain, perlu mendapatkan perhatian dan jalan keluar. Bagaimana Ibu dan Sanitasi, Ibu dan Kehamilan serta Melahirkan dengan selamat, serta memberikan ASI dan nutrisi dasar lainnya bagi perkembangan pertumbuhan dan kecerdasan anak, merupakan tantangan yang hebat. Wajah perjuangan Persatuan Wanita GPIB harus mengalami perubahan yang signifikan, sebab bila tidak demikian PW GPIB hanya menjadi gerakan seremonial, eventual tanpa makna teologis dan sosial, serta kharitatip sambil tetap berenang dalam kemiskinan dan kebodohan., keterbatasan dan pembatasan banyak anggotanya yang tak terlayani. Hari Ibu Indonesia bukan Hari Perayaan, tetapi Hari Komimen Perjuangan untuk Pembebasan, Kamandirian dan Kemajuan Perempuan dan Ibu tanpa pernah lagi sekedar berjalan di belakang suaminya.

A.Nunuk Muryati menulis, bahwa wanita bukanlah manusia yang di pinggiran, tetapi berada sejajar dengan laki-laki. Wanita bukanlah sekedar ada, sekedar melengkapi, dan sekedar ikut sebagai pelengkap penderita. Demikian kata A Nunuk Muryati.

Bukankah mereka habkan menjadi sangat menderita? Meski diberi harta, nampaknya mereka tak disapa dengan hormat. Atau mereka menjadi ketakutan karena mendapatkan tekanan dari kaum pria untuk bersikap tidak adil dan juga tidak arif.

Diperlukan menjadi wanita super, sebab peran ganda yang ditunjukkan wanita atau ibu itu, sambil karir dan profesi, tetap menjalani kehidupan rumah tangga, bersama pasangannya. Itu dilakukan dengan tulus, kasih dan penuh tanggungjawab. Wanita atau perempuan dan ibu harus tetap memperkaya diri dengan pengetahuan, ketrampilan, hingga informasi yang berguna bagi buah hatinya dan juga dirinya. Tentu bukan sekedar perlunya asupan Cerelac bagi anaknya tetapi perlu nutrisi sosial, sains dan infokom yang memperkaya asupan nutrisi jasmani dan rohani bagi para Wanita/Perempuan dan Ibu. Dari pada menghadiahkan Blackberry yang hanya akan menambahkan semangat chatting dan kegiatan browsing yang ujung-ujungnya konsumtif melalu, bawalah dia mendaki “Blueberry Hill”, bukit keindahan dan damai sejahtera dalam rumah, keluarga, jemaat/Gereja kita, dan dalam masyarakat kita, ya di kota kita, di Daerah asal kita, yah di Negeri tercinta, Indonesia.

Selamat Hari Ibu bagi semua Ibu dan Perempuan Indonesia dan GPIB.

Saya ucapkan Selamat Hari Ibu kepada segenap Ibu , Pimpinan dan Anggota Persatuan Wanita GPIB Martin Luther,Para Ibu dan Perempuan dalam Jemaat, Majelis Jemaat/PHMJ, GPIB Martin Luther, dan kepada Dewan Wanita GPIB dan para Perempuan dan Ibu di Majelis Sinode GPIB. Juga tak lupa kepada Istri saya , Inneke Jonathans-Huwae.

“Sio Tete Manisee, jaga beta pung Mamaee”. Nyanyian itu mungkin masih dapat dinyanyikan bagi mereka yang masih memiliki ibu di dunia. Saya berterimakasih atas apa yang dilakukan Ibu saya , Ibu Winny Willemien Jonathans-Loen bagi saya, bersama ayah saya, Jozef Cornelis Jonathans. Saya teringat akan adik saya, Hanlee Jonathans.

Bacalah akhirnya citra Ibu dan Perempuan Alkitabiah, dalam Amsal 31:10-31. WOW! What A Wonderful Woman!.