Berita

Siapakah Yang Seperti Yahweh?

6 August 2012, 10:50

Hakim-Hakim 17:1-6.
Oleh : Pdt.Hallie Jonathans.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Bila itu pertanyaannya, maka yang seperti Yahweh adalah Mikha. Namanya Mikhayehu, nama pendeknya Mikha. Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pemandangannya. Itulah berita singkat zaman Mikha. Kita tidak heran, sebab pada zaman sekarang dengan adanya pemerintahan lengkap dalam Model Trias Politica, kita masih melihat banyak orang melakukan apa yang dikehendakinya atau apa yang benar menurut pemandangannya. Pemandangan sekarang adalah uang, harta, kuasa dan semua perangkat materialisme yang hedonis meski berbalut kekudusan agamawi. Kasus terakhir adalah korupsi pengadaan Kitab Suci. Mikhayehu hidup bersama ibunya di pegunungan Efraim. Itu bagian sentral dari dataran tinggi Palestina yang terbentang luas antara Bethel sampai Esdraelon. Mikhayehu telah mencuri uang milik ibunya, uang yang telah dikhususkan bagi Tuhan. Tentulah perbuatan itu berakibat buruk atas pencurinya, sebab ada janji dan ada tabu, sebab digolongkan sebagai barang kudus yang tak boleh disentuh oleh manusia. Untuk keluar dan menghindarkan diri dari kutuk itu, maka Mikhayehu harus membalikkkan hatinya dan mengatasi masalah itu iapun harus mengakui perbuatan salahnya itu. Uang itu harus kembali ke fungsi sebagai uang yang telah dikuduskan bagi Tuhan. Uang itu dapat kembali digunakan untuk keperluan yang telah ditetapkan oleh Ibu dari Mikhayehu itu. Lihatlah betapa lebih lengkapnya Berita Acara Pemulihan Uang Kudus bagi Tuhan. Saudara pernah membaca Berita Acara Hukum Pidana? Rumit juga bukan? Meski usianya sudah amat uzur, en toch masih “in kracht” yah, masih dipakai utuh yah. Tetapi lebih hebat Berita Acara Hukum Kekudusan ini. Dengar apa yang dikatakan oleh Mikhayehu. Meskipun ia seperti Yahweh, itu namanya, tetapi nampaknya ia tidak mencerminkan karakter Yahweh sedikitpun. Ia mencuri. Ini pengakuannya:”Uang perak yang seribu seratus itu, yang diambil orang dari padamu, dan yang karena itu kau ucapkan kutuk- aku sendiri mendengar ucapanmu itu- memang uang itu ada padaku, akulah yang mengambilnya”. Saya betul-betul heran, tak ada saksi, tak ada hakim, tetapi Mikhayehu membuat pengakuan yang amat lengkap dan akhirnya menyatakan uang itu ada padanya. Weleh-weleh-weleh, bila kita bandingkan dengan semua peradilan korupsi dan cek pelawat, entah apalagi urusannya, semuanya menyatakan tidak tahu. Jangankan uangnya kembali, hukuman korupsi juga ringan-ringan saja. Beda benar dengan pengakuan Mikhayehu bukan? Dus pengakuan begini hanya tinggal ada di Alkitab. Para penegak keadilan pasti juga akan terheran-heran melihat mudahnya menemukan kebenaran itu, di tengah kasus pencurian yang amat berani sebab mencuri uang nazar, kata orang di Ambon. Praktek Uang Nazar mungkin sudah dilupakan, sebab Piring Nazar diganti dengan Uang Persembahan Persepuluhan GPIB, ganti Persembahan Tetap Bulanan. Kembai ke laptop. Saya juga sedang mengetik di komputer dan hasil ketikan terbaca di kaca monitor. Yah tentang pengakuan Mikhayehu itu. Untung Ibunya adalah orang Israel. Kalau orang kita-kita mungkin Ibu itu akan memaki-maki anaknya, meskipun membuat pengakuan lengkap seperti yang disyaratkan oleh Buku Hukum Acara Pidana Pencurian. Mungkin dimulai dengan kata-kata : (Bagian Kebun Binatang atau Kerajaan Setan dan Penghulu-penghulunya), Anak Tak Tahu Malu, Anak Tak Takut Tuhan, Terkutuk, terkutuk, terkutuk, mana uangnya, mana uangnya? Masih utuh atau sudah berkurang. Awas yah, tetap engkau terkutuk, tetapi kembalikan uang itu. Itu uang kudus”. Tetapi cara menyapa anaknya malah tidak kudus sama sekali. Bisa Anda bayangkan kalau hal ini dilakokankan oleh Standup Comedy, bakal seru banget yah. Saya juga heran, kok Ibunya tak marah besar. Apakah Ibu ini tahu bahwa peristiwa itu akan dikanonkan menjadi Alkitab baik Yahudi maupun Kristiani? Yah maksudnya, bahwa ia berlaku amat manis terhadap anaknya. Dengar, ia berkata:”Diberkatilah kiranya anakku oleh Tuhan”. Luar biasa ini. Mendoakan anaknya setelah anaknya melakukan kesalahan berlipat ganda. Bahkan memastikan Tuhan akan memberkati anaknya. Kali ini tak boleh ada yang membantah. Ini dikatakan dan dipastikan oleh manusia. Ini merupakan lebih dari doa dan harapan. Ini amat dekat dengan kepastian yang amat niscaya. Can not be otherwise. Uang itu sekali lagi ada dan utuh jumlahnya termasuk pecahannya. Giliran pemilik uang kudus itu sekali lagi menguduskan uang itu, menyatakan kekudusan uang itu. Kudus artinya disendirikan untuk maksud Tuhan, Set apart for God’s purpose. Setelah serah terima uang, dus bukan serah terima jabatan karena uang hilang, maka kata Ibunya: ”Aku mau menguduskan uang itu bagi Tuhan, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan, dan patung tuangan dari uang itu. Maka sekarang uang itu aku kembalikan kepadamu”. Kalau hal ini terjadi pada zaman ini, penuhlah berita mass media, cetak atau elektronik bahkan misktik mungkin. Astaga, begitukah? Pencuri bukan hanya diampuni dan direstorasi, setelah dimiskinkan langsung sebesar seribu seratus uang perak itu, uang yang dicurinya, tanpa potong uang pelarian, mungkin, mungkin, maka sang pencuri uang kudus direstorasikan seutuhnya dan bahkan mendapat berkat dan mendapatkan kembali uang itu. Tetapi sekarang bukan uang curian yang akan dibelanjakan di Mesir atau entah di mana saat itu ada kota metropolitan terbesar. Uang itu untuk membuat patung pahatan dan patung tuangan. Ibunya memberi dua ratus uang perak kepada tukang perak untuk membuat patung tuangan, lalu patung itu ditaruh di rumah Mikhayehu. Mirip siapakah patung itu? Tak ada idola lain atau wajah lain yang menonjol, dus hanya tersisa wajah Mikhayehu. Yah harusnya seperti wajah Mikha, pasti. Nama lengkapnya Mikhayehu bukan? Jangan tanya what is in a name. Even The Lord, Adonai , is residing in a name. Membuat patung pahatan dan patung tuangan. Ini pasti berlawanan dengan Hukum Ke 2 dari Dasa Titah: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun,yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah.atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu,yang membalaskan kesalahan bapak kepada anak-anaknya, kepada keturunan ketiga dan keempat, dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang , yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku”. Inilah bedanya NKB dengan KJ dan PKJ. Atas usul Pdt Obed Sahulata, Ketua Yayasan Persekutuan Pembaca Alkitab atau Scripture Union itu, beliau yang amat terkenal itu, KJ dan juga PKJ memuat Doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli. Hal itu amat benar dan membantu kita semua, tak salah mengucapkannya. Yah dalam setiap ibadah. Tetapi apa yang dilakukan oleh NKB menjadi amat hebat, sebab selain Doa Bapa Kami, dan Pengakuan Iman Rasuli, dicetaknya juga Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel dan……Dasa Titah. Hebat sekali sebab Hukum 6,7,8,9 dan bahkan 10 amat sering dilanggar. Bolehlah kita terus menerus menjadikan Dasa Tutah sebagai Amanat Hidup Baru, dalam Ibadah di manapun, kalau dapat sepanjang Minggu-minggu Pentakosta yang panjang ini. Yield not to temptation, jangan mendekati pencobaan sedemikian itu. Apakah Gita Bhakti II sudah terbit? Di mana bisa mendapatkannya? Semoga ada Dasa Titahnya juga selain Doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli. NKB masih punya hal lain, Hukum Kasih dan Ucapan Bahagia. Inilah Happy Endnya. Akhirnya benar-benar menggembirakan, membahagiakan, asalkan kita bersikap benar di hadapan Tuhan dan sesama. Berkat dan kutuk bukan sekedar formula mati tak berdaya, tetapi benar-benar menghadirkan hal baik atau sebaliknya, mendatangkan bencana atau penyakit. Bagaimana kita sekarang? Sering kita sebut Tuhan adalah Kepala Gereja. Tetapi dalam prakteknya, kita melebihi Tuhan dan bertindak sebagai kepala gereja, tanpa melibatkan Tuhan dan menempatkan-Nya sebagai Kepala atau Pemimpin dan Tuhan atas Gereja. Wajah-wajah kita di zaman narsistik menjadi lebih terkenal dan lebih indah dari wajah Tuhan. Bahkan wajah Tuhan sangat jarang kita tayangkan. Coba masuk ke rumah kita, foto kitalah yang terbesar, sedangkan foto Tuhan Yesus, kecil saja. Lain sekali dengan Film The Passion of The Christ, dari Sutradara Mel Gibson. Tonton sekali lagi Film itu. Wajah Kristus begitu jelas, meskipun berdarah-darah, penuh kasih, wajah-Nya terus menerus kita lihat, bukan? Keren sekali wajah-Nya. Salib beberapa gram di dada perempuan atau juga laki-laki terlihat indah. Apalagi kalau bentuknya agak lain, seperti Swiss Cross itu. Keren sekali. Para Pendeta mendapatkannya saat Wisuda Purnabhakti. Bangga sekali mengenakannya bukan? Kalau dikatakan kita bangga, maka kita tidak terpaku pada keindahan salib itu. Kita terpaku atas keindahan Tuhan Yesus Kristus bagi kita, sebab Dialah Juruselamat dan Penebus kita. Tetapi Salibnya jangan terlalu besar. Jangan dipakai di angkot, sebab akan merupakan undangan bagi pihak tertentu untuk memilikinya dengan cara kekerasan. A cross pin is a continual reminder of what is most precious in our faith, begitulah ungkapannya. Setiap rumah punya patung pahatan atau tuangan? Kita punya Kamar Doa bukan? Kalau ada Ruang Tamu, Ruang Keluarga, Ruang Makan, bukanlah harus ada Kamar Doa juga bagi kita? Di sanalah kita, suami istri bergumul dengan Tuhan, memohon pertolongan-Nya dan mendengarkan Firman-Nya. Kalau dapat bernyanyi nyanyian rohani di sana. Apakah berdosa mempunyai a Little Temple di Rumah Mikhayehu? Yang pasti kita akan menyangkal semua tuduhan bahwa kita mempunyai A Little Temple in our House. Boleh-boleh saja. Tetapi sering Rumah menjadi A Self Worship House, atau Rumah di mana kita menyembah diri kita, ,menyembah keberhasilan kita, menyembah Prestasi kita. Lihat saja pajangan-pajangannya. Mikhayehu bisa menyembah dirinya, bisa menyembah dewa atau dewi lain. Tetapi yang jelas, Mikhayehu tidak menyembah Yahweh. Kalau kita menyembah Tuhan, maka kita dapat menerima salam dari Rasul Paulus:”Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus, dan dari Timotius, saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami, dan kepada Apfia, saudara perempuan kita, dan kepada Arkhipus teman seperjuangan kita, DAN KEPADA JEMAAT DI RUMAHMU.(Filemon ayat 2). The Church in thy house. Ini bukan berhala atau praktek ibadah yang dirumahkan. Ada Jemaat Rumah, yah di Rumah itu sering mereka berkumpul dan beribadah. Kebebasan seperti itu kini amat kurang. Apakah ada Ruang Ibadah di Pabrik? Harusnya ada. Ada Ruang Ibadah di tempat umum lain? Harusnya ada. Meskipun hanya sebuah ruang yang kecil saja. Yang ada sekarang terbatas saja, bukan? Inginnya ada Ruang-Ruang Doa bagi Semua Agama di Tempat Umum. Kembali ke Alkitab. Zaman Mikhayehu saja dibutuhkan Pemimpin. Di Gereja harus ada pemimpin.Di negara harus ada presiden atau raja, seperti di Israel. Tak ada Pemimpin, menyebabkan kekacauan di semua bidang kehidupan. Oleh sebab itu presiden dan raja harus memberikan pimpinan yang jelas. Ketiadaan pemimpin saat itu menyebabkan kekacauan dan kerugian yang besar, baik secara materiiil maupun secara spiritual. “The lack of a ruler is the the source of Israel’s political and spiritual confusion”. Demikian sumber yang saya kutip. Akankah kita dapat keluar dari keadaan kacau, sampai kedelaipun susah didapat, sehingga tahu pun menjadi hilang dari tukang Batagor? Sudah lupakan saja zaman keemasan di mana Rudy Hartono secara bertutut-turut tujuh kali (atau lebih) menjuarai All England, juga Liem Swie King dst, sebab sekarangpun kita kena diskwalifikasi dalam bidang Badminton di Olimpiade London?. Lupakan pasangan Susy Susanti dan Allan B, Pasangannya menjadi Juara Olimpiade pertama saat Badminton diterima menjadi Cabang Olahraga yang dipertandingkan. Yahwehlah yang sebenarnya adalah Pemimpin Israel dan Dunia ini. Kepada-Nyalah kita harus taat. Yahweh adalah Allah yang sangat peduli akan penderitaan manusia, perhambaan dan bahkan keadilan sosial serta HAM. Hendaklah semua Pemimpin Dunia mematuhi-Nya dalam semua hal yang dikehendaki-Nya bagi keadilan, perdamaian dan kesejahteraan dunia. Ingat sekali lagi, hanya Yahwehlah yang memperhatikan sehebat itu. Ia bukan saja Pembebas Israel, tetapi Ia adalah Pembebas Dunia dalam Kristus Tuhan kita. Kita harus mengejar ketertinggalan kita dalam bidang ekonomi, kesejahteraan, pendidikan, kesehatan dan jaminannya, upah atau pensiun di bawah UMK atau UMR dll. Untuk itu kita harus membenahi Disiplin Rohani kita, menyatakan Iman Percaya dalam Akta Keselamatan yang nyata bagi diri dan sesama. Kita terpanggil untuk menunjukkan solidaritas rohani kita dengan dareah yang dilanda bencana, seperti terakhir di Ambon yang menelan begitu banyak korban dan di mana saja. Juga ke daerah lain yang bahkan dilanda bencana Konflik Agraria. Berbagi kasih dan sumberdaya, saat ada bencana tetapi terutama juga saat kita mulai mendapatkan banyak keuntungan dan keberhasilan. Biasanya kita malah menjadi makin pelit atau self centered. Akhirnya, pentingnya Hukum Indonesia ditegakkan. Hukum Nasional, Hukum Positif, bagi semua. Penegakkan hukum menjadi masalah besar, tetapi sekali lagi, marilah kita berdoa agar Semua Pemimpin kita di Dunia ini diberkati Tuhan dan mendengar serta patuh kepada Tuhan dan Konstitusi. Bayangkan kalau Puncak bukan menjadi Hutan Lindung lagi? Banjir-hancurlah seluruh Jakarta dsk. Milikilah Kepatuhan yang Komprehensif. Jadilah bagian yang integral dalam menangani segala sesuatu. Ingat Dasa Titah.Ingat Hukum Kasih. Amin.