Berita

PRILAKU KRISTIANI DI TENGAH PENDERITAAN. 1 Petrus 2:11-17. Pdt.Hallie Jonathans.

25 June 2009, 14:34

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Pertama-tama kita harus sadar bahwa umat Kristiani berada dalam penindasan dan bahkan dibunuhi oleh Penguasa Roma saat itu, apalagi dalam perilaku Kaisar Nero yang merupakan satu puncak dari holocaust orang Kristen. Entah bagaimana, nampaknya berbahaya menjadi orang Kristen sebab selalu akan dikejar-kejar. Sebelumnya orang Yahudilah yang terbanyak dikejar, dibunuh dan dianiaya. Dari perhambaan di Mesir sampai Pembuangan ke Babilonia, dan akhirnya dalam holocaust yang mereka derita di Kamp Nazi, di Eropa, dengan angka 6 Juta Yahudi mati. Inilah yang dikatakan oleh Presiden suatu negara yang kabarnya terpilih kembali, bahwa bangsa Yahudi yang harus dihapus dari peta dunia. Pada saat presiden itu berpidato di PBB, maka terlihat Duta Besar suatu Negara Barat ikut bertepuk tangan. Pdt Benny Hin menyatakan hal itu. Saya berharap Indonesia tidak turut bertepuk tangan atas ajakan presiden itu. Mungkin presiden mengutip saja Mazmur 83:5; di mana tertulis kata-kata para musuh Israel:”Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga nama Israel tidak diingat lagi”. Siapakah mereka itu? Mazmur menjelaskan bahwa mereka adalah para penghuni kemah Edom, dan orang Ismael, Moab dan orang Hagar, Gebal, Amon dan Amalek, Filistea, penduduk Tirus, Asyur yang bergabung dengan mereka, dan bani Lot. Pada saat Indonesia mulai merdeka, masalah orang Kristen mungkin tidak terasa. Tetapi setelah ada pemberontakan dengan memakai latar belakang agama tertentu, mulailah kebebasan orang Kristen terganggu. Bahkan mulai peristiwa tahun 1967, pembakaran gereja-gereja, dan kemudian terus meluas sampai pembakaran gereja di Jawa Timur, meluas sampai ke Mataram, di mana dua gedung Gereja ludes dibakar, bahkan termasuk Gereja yang Baru dibangun. Lalu kita masuki saat ini. Isu masuknya Undang-Undang Syariah, dari masalah Haram-Halal, entah mungkin sampai sistim pendidikan, sistim berbusana, pembedaan karena agama, dan akhirnya pemenangan eksekutif dengan latar belakang apa yang dapat diperoleh oleh sebagian masyarakat. Menyedihkan. Orang masih bisa bicara, bahwa Pancasila perlu diberdayakan. Banyak pihak memandang rendah Dasar Negara. Mereka mau dasar negara yang lain. Bukan mereka semua, tetapi para pemimpin mereka. Bagaimana sikap Rasul Petrus tatkala itu, tatkala zaman yang memang memojokkan orang Kristen? Rasul Petrus yang dianggap kurang dari Rasul Paulus, justru mengobarkan suatu semangat yang mengherankan. Ia menyampaikan kewajiban orang Kristen di tengah suatu Masyarakat Sekular. Masyarakat Sekular artinya masyarakat yang amat duniawi hidupnya. Rasul Petrus pertama-tama menginginkan kita mengetahui siapakah diri kita. Kita adalah pendatang dan perantau. Petrus menyebut orang Kristen sebagai saudara-saudara yang kekasih. Lihat ayat 11. Saudara yang kekasih, aku menasehati kamu,supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. Aliens and strangers. Petrus tahu benar bahwa bagaimana kita berpikir tentang diri kita menentukan cara hidup kita dalam kehidupan kita. How we think about ourselves , determines the way we live our life. Bagaimana pikiran anda tentang diri anda, siapakah anda menurut anda, who do you think yourself to be. Pertanyaan ini tidak diajukan oleh Psikolog ternama di kota, tetapi oleh seorang Rasul, mantan Penjala Ikan, alias Nelayan. Cara kita hidup ditentukan oleh paham kita tentang siapakah kita kira diri kita, bagaimana kita berpikir tentang diri kita, sedemikianlah cara kita hidup. Adalah cara kita berpikir tentang diri kita,bukan cara kita merasa siapa diri kita yang penting. Jadi kalau kita berada dalam banyak soal, menghadapi Syariah, menghadapi diskriminasi dengan alasan apapun, dalam berbagai bidang dan jabatan apapun. Maka kata Rasul Petrus APA YANG KITA RASAKAN TIDAKLAH PENTING. Yang penting adalah apa yang kita pikirkan,tentang siapakah kita. Apa yang kita pikir tentag diri kita sebagai seorang dalam kesatuan dan persekutuan in union and communion, dengan Tuhan Yesus Kristus. Itulah yang menentukan segalanya, bahkan menentukan bagaimana kita bereaksi di tengah penganiayan sekalipun. Merasa diri mayoritas atau minoritas tidaklah penting. Yang penting tahukan kita bahwa kita adalah orang-orang pendatang yang tersebar di berbagai daerah, yaitu orang-orang yang dipilih , sesuai dengan rencana Allah Bapa kita, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. (pasal 1:1-2). Kita harus hidup sebagai orang asing di dunia. Mau membuat suatu hal yang sungguh membedakan? Do you want to make a diffrence? Be an alien. Hiduplah sebagai orang asing. Sebagai pendatang, sebagai an alien and , or as a stranger.
Dalam 1:17, Rasul Petrus menyatakan:”Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia, yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini”. Jadi kita hanyalah orang yang menumpang, bukan yang akan tetap hidup atau beresidensi di dunia ini. Dunia ini bukan tujuan kita. Semua yang kita lihat ini hanyalah milik Allah yang membuat kita tidak merasa harus memilikinya. Apalagi harus mengaturnya menurut keinginan kita bahkan sampai harus mencurinya, harus korupsi, dll. Waktu saya baru belajar teologi, saya amat keberatan dengan pandangan Petrus ini. Saya menuduhnya sebagai pandangan Pietis, Pandangan Picik, tidak memiliki Perspektip yang benar, Tidak mau Bertanggungjawab di dunia ini. Tahunya surga melulu. Yang lain, EGP. Dalam pasal 2:9 dikatakan Petrus:”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. You are a chosen race, a royal prieshood, a holy nation, a people for God’s own possession. Itulah kita. Attitude hidup kita adalah : Saya bukanlah orang yang terikat di dunia ini. Akulah pendatang , akulah orang asing saja. Aku sedang dalam perjalanan menuju Surga. Aku hanya penduduk sementara di negeri di mana aku adalah warga negaranya. Mari kita dengar nyanyian ini (semua benar-benar menyanyi:)

THIS WORLD IS NOT MY HOME

This world is not my home, I’m just a passing through, My treasures are laid up, Somewhere beyond the blue, The angels beckon me, From heaven’s open door, And I can’t feel at home, In this world anymore.

Oh Lord you know, I have no friend like you
If heaven’s not my home then Lord what will I do
The angels beckon me from heaven’s open door
And I can’t feel at home in this world anymore

I have a loving mother just over in Gloryland
And I don’t expect to stop until I shake her hand
She’s waiting now for me in heaven’s open door
And I can’t feel at home in this anymore
Oh Lord you know . . .

Just over in Gloryland we’ll live eternaly
the saints on every hand are shouting victory
Their songs of sweetest praise drift back from heaven’s shore
And I can’t feel at home in this world anymore
Oh Lord you know . . .

Lagu ini ditulis oleh Rufus Baxter dari Lebanon, Alabama. Lagu itu dipublikasikan tahun 1948, dan menjadi juga amat populer tatkala dinyanyikan oleh Jim Reeves. Apa yang kita pelajari? Kalau kita tidak menganggap dunia ini sebagai tujuan? Kita akan harus menaggung konsekwensinya. Konsekwensinya adalah bahwa kita akan lebih banyak menaruh keprihatinan atas jiwa kita. Dunia ini bukanlah rumah kita. Jadi saya mengerti bahwa banyak orang terjerat ingin membuat dunia ini rumahnya. Menjadi Dareahnya, menjadi teritori keagamaannya. Lalu bermumculanlah semua semangat undang-undang agama. Kalau kita belajar tentang tujuan, objective, maka tujuan kita justru bukan dunia ini. Mungkin dunia adalah hanya suatu tujuan antara yang harus dilalui. Maka kata Petrus, kalau jiwa kita terhilang, maka seluruh pribadi atau diri kita akan juga terhilang.
Kita tahu bahwa dunia tidak akan membuat agenda bagi kita untuk memelihara jiwa kita. Dunia akan menentukan agenda atas semua perkara. Dunia akan memberitahu kita bagaimana memerang HIV Aids. Bagaimana membunuh kecoa, bagaiman menggatasi kholesterol , bagaimana agar putus hubungan dengan nyamuk. Tetapi dunia tidak akan pernah mengajarkan bagaimana harus berperang agar kita menyelamatkan jiwa kita. Dunia hanya berkata, Run for your life, Lari, lari, hindarilah hal yang akan membahayakan anda. Atau kalau kita memiliki gangguan jiwa, maka dunia akan membuat rumah sakit jiwa yang kalau tidak berhati-hati, berdoa dan beriman, kita tidak akan pernah keluar dari rs jiwa itu. Dapatkah kita tidak meingikatkan diri kepada dunia ini. Saya harus meninggalkan Jemaat Martin Luther tahun depan! Harus, harus, cause this is not my home, this is not my home! Martin Luther’s not my home , the ML is not my own, I’m just a passing through, Kalau saya sampai di Bintaro saya akan bernanyanyi lagi Bintaro’s not our home, Bintaro’s not our home. Perjalanan kami, suami-istri, harus diteruskan. Di manakah jiwaku berdiri dalam hubungan dengan Tuhanku? Apakah aku sedang memberi makan kepada jiwaku? Apakah aku berada dalam kegiatan di mana aku menumbuhkan hubungan jiwaku dengan Tuhan? Am I feeding my soul, am I growing my soul’s relationship with God? Lagi-lagi terjemahan yang membuat saya susah membaca ayat 12 dari pasal 2 ini. Yang tertulis: Milikilah cara hidup yang baik di tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi!. Terjemahan sebaiknya: Kita hidup dalam kesalehan yang sedemikian, we live such a godly lives. Karena cara hidup kita sedemikian, maka apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, atau orang-orang yang berbuat salah, wrong doers, maka mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. Jadi yang pertama yang sangat penting adalah jiwa kita. Apa yang menjadi kedua yang penting? Kemuliaan Tuhan atau Kemuliaan Allah. Aku mau supaya Allah dimuliakan. I want God to be glorified. Tidak peduli di mana aku, tidak peduli bagaimana keadaanku, tidak perlu jam berapa hari ini, tidak perduli di mana aku berada, di tengah dunia di mana ditetapkan Syariah apapun, tidak peduli apa yang aku lakukan, keprihatinanku hanya satu, Kemuliaan Tuhan. I am concerned about the glory of God. Apa arti kemuliaan Tuhan? Bagi Petrus yang hanya memiliki Perjanjian Lama, kemuliaan berarti sesuatu yang berbobot, weighty. Sesuatu yang tidaklah ringan yang dikenakan pada Allah atau menjadi pengenal keberadaan-Nya. Sesuatu yang amat berarti. Sesuatu yang penting kita temukan dalam Tuhan atau Allah kita.
Anda dan saya harus prihatin terhadap kesungguhan, betapa bernilai dan pentingnya serta betapa tidak entengnya, betapa berbobotnya Tuhan itu. We are to be concerned about the sincerety, significance and the weightiness of God. Dalam dunia kita Allah tidak usah berdiet, sebab kita hampir tidak dapat melihat-Nya. Ia sedemikian tidak berartinya sehingga kita juga susah sekali untuk dapat melihat Allah. Allah amat bertentangan dengan perspektif dunia, sehingga Petrus katakan bahwa kita harus memiliki perspektif yang berlawanan dengan perspektif dunia ini. Kita terpanggil untuk membawa bobot dan arti Allah dan nilai Allah ke dalam setiap keadaan di mana kita berada di dalamnya, itulah cara hidup yang harus kita jalankan. Kita dijajah oleh fashion, cara berbusana dan busana apa yang harus kita pakai. Kita dijajah fashion atau mode, gaya rambut kita, merk pakaian kita, mobil kita, sepatu kita, tas kita, rokok kita, vulpen kita, dalam bahasa Belanda artinya pena yang harus diisi(tinta). Buat bahasa Inggris, fillpen, atau filled pen, tetapi buat Luna Maya mungkin, mungkin, yang penting hanyalah Peter Pan. Jadilah si Orang Asing terhadap dunia. Jangan nempel-nempel amat sama duit. Hidup atau jiwa kita lebih penting dari semua materi, gaya hidup. Dalam ayat 13-15, Petrus berkata:”Tunduklah karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya, untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat, dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik, kamu semua membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh”. Apa jadinya kalau kita berhadapan dengan Presiden, Gubernur sampai Lurah? Dengan Hakim, Jaksa dan Pembela? Dengan Undang-Undang, Artinya, kita harus lebih takut kepada Allah dari pada takut kepada manusia. Apabila masyarakat memaksa kita mematuhi apa yang bertentangan dengan Tuhan dan kehendak-Nya, maka kita harus menolaknya. Kita harus menjadi Warga Kerajaan Allah yang baik dan yang bertanggungjawab, itu pada satu sisi dari mata uang keberadaan kita. Sisi lainnya adalah menjadi Warga Negara Yang Bertanggungjawab. Inilah yang disebut sebagai Responsible Citizenship yang dikeluarkan oleh Dewan Gereja-Gereja di Indonesia dengan istilah Kewargaan Yang Bertanggungjawab.
Yang paling hebat adalah bahwa para penguasa termasuk Kaisar atau Raja saat itu tidaklah menyukai umat Kristiani. Mereka mengejar-ngejar umat, bahkan membunuh orang Kristen. Tetapi Petrus melihat bahwa tatanan bernegara harus mendapatkan kepatuhan orang Kristen, berbuat baik artinya memelihara tatanan pemerintahan bagaimana lemahnya dan berbahayanya apabila manusianya itu atau penguasa itu tidak dapat mengendalikan diri atau menahan diri sehingga menjadi penguasa absolut.
Di sinilah, dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita diajar menjadi warga negara yang penuh dan bertanggungjawab. Warga negara yang mampu berada di bawah sistim perundangan syariah sekalipun, degan tetap percaya dan berbakti secara terbuka kepada Tuhan Yesus Kristus. Betapa hebatnya perkataan Petrus:”Tunduklah karena Allah, kepada semua lembaga manusia”. Tunduk kepada Kaisar Monster Nero, Mungkin Nero membunuh lebih banyak orang Kristen dari pada Hitler membunuh orang Yahudi. Bayangkan Nero naik tahta karena Ibunya Agrippina membunuh orang yang seharusnya menjadi pewaris tahta itu, yaitu Claudius. Setelah naik tahta, Nero membuang dan membunuh Ibunya. Itulah upah bagi seorang ibu Kaisar Gila dan Amoral. Nero mulai membakar kota Roma tetapi ia menuduh orang Kristen yang membakar kota itu sehingga terbitlah gelombang persecution, penganiayaan dan penyiksaan, pembunuhan massal orang Kristen, sehingga gelaplah tahun-tahun 90an dari abad pertama. Tetap perintah Rasul Petrus, Tunduklah. Keadaan dapat berubah. Para penguasapun akan berubah-ubah. Tetapi konstelasi pemerintahan yang baik dan berwibawa adalah kehendak Allah bagi ketertiban dunia. Itu memerlukan suatu progress. What makes a diffrence? Yang membedakan mutlak adalah bahwa kita adalah orang percaya. Kita melakukannya karena Allah yang adalah Allah ketertiban. Karena kita tahu bahwa ada Allah yang adalah Raja di atas segala raja, Tuhan di atas segala tuan. Dalam ayat 16 dan 17 Petrus berbicara tentang orang merdeka. Perkataan Petrus sangat cocok bukan hanya untuk orang Kristen yang menerima kemerdekaan dari dosa dan maut oleh pengorbanan Kristus yang mengampuni kita. Itu sangat cocok juga untuk semua semua penguasa legislatif,eksekutif dan yudikatif. Jangan gunakan kemerdekaanmu untuk menutupi bagi perbuatan jahat, covering for evil, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Artinya, mengapa kita harus hidup sebagai pendatang dan orang asing, mengapa kita harus tunduk kepada semua lembaga manusia? Karena kita tahu bahwa melalui perbuatan itu kita memuliakan Allah. Semua itu kita lakukan karena Allah. Namun, kita tidak pernah akan menjadi hamba penguasa apa dan siapapun. We are never slaves to any authoritis.
Kita hidup memang sebagai hamba,tetapi kita hidup sebagai orang merdeka. Sebagai orang merdeka kita membayar pajak dan cukai, kita mematuhi hukum, namun kita tidak berada di atas semua otoritas manusia, sebab di dalam Tuhan Yesus Kristus kita menjadi hamba-hamba Allah. HIDUPLAH SEBAGAI HAMBA ALLAH. Dr.Martin Luther bekata:”Seorang Kristen adalah sepenuhnya bebas, tuan atas segala sesuatu, namun bukan hamba kepada siapapun”. A Christian is perfectly, dutiful servant of all, and subject to all. Meskipun kita tunduk kepada Penguasa, tetapi kita menundukkan diri kepada semua itu sebagai hamba-hamba Allah. Prinsip yang memerintah atas kita bukanlah otoritas yang berkuasa itu, prinsip yang memerintah dari hidup kita adalah bahwa kita melayani Allah. Orang Kristen tidak mengikatkan diri /tunduk kepada otoritas tersebut tetapi kita lebih tepat berkata bahwa kita jatuh cinta kepada Allah dan oleh karena kasih kita kepada Allah, maka kita melakukan semua itu. Apakah yang penting dan yang kini banyak diinjak oleh juga orang beragama? Prinsip hidup bersama orang lain: Hormatilah semua orang. Harus ada rasa hormat kepada sesama kita, yaitu manusia. Harus ada rasa respect kepada manusia. Bagaimana kalau ada sweeping karena berbeda agama? Mengapa orang diperlakukan secara diskriminatif hanya karena alasan berbeda agama, keyakinan, warna kulit, keturunan , skill dll. In every circumstance they show respect and they show kindness, and they show proper submision where that is due. Rasa Tunduk yang layak. Jadi dalam Rumah Tangga Kristiani kita harus melihat anak-anak menghormati orang tuanya, istri kepada suaminya, tetapi juga agar suami mengasihi istrinya. Para warga Gereja menghormati para penatua dan diakennya. Bagaimana , apakah juga menghormati pendetanya?
Kita ingin orang berkata: Ada memang sesuatu yang berbeda dalam orang-orang ini. Yang berbeda adalah kasih mereka kepada Tuhan, dan rasa hormat mereka dan kasih mereka satu kepada yang lain.
Inilah juga bagian dari tanggung jawab Para Bapak Se-Dunia. Selamat Hari Bapak Se-Dunia! Amin.