MAZMUR 133.
Oleh : Pdt.Hallie Jonathans
Mazmur ini adalah sebuah mazmur hikmat. Mazmur ini berbicara tentang way of life atau cara hidup yang menyenangkan hati Tuhan. Pemazmur merefleksikan gaya dan kepentingan dari penulis-lenulis hikmat, dengan demikian mazmur ini berbicara tentang masalah social dalam prakteknya, seperti dinyatakan dalam mazmur ini. Mazmur ini termasuk mazmur sesudah zaman pembuangan, post-exilic.
Dalam terjemahan lain disebutkan LIHATLAH, BEHOLD, artinya lihatlah sesuatu yang jarang terlihat di dunia ini. Apakah yang jarang terlihat itu? Persaudaraan yang diam dengan rukun. How good and how pleasant it is, for brethren who to dwell together in unity.
Kerukunan atau kesatuan merupakan karakteristik atau sifat dari orang-orang kudus yang sungguh. (Characteristic of Real Saints). Orang kudus yang sungguh adalah mereka yang bersekutu sebagai saudara. Itu bukan karena berada dalam keluarga. Bukankah harus kita akui bahwa persaudaraan darah atau keturunan justru sering tidak menampakkan kesatuan tetapi perpisahan. Lihat saja terpisahnya Abraham dari Lot. Jangan lupa bagaimana persaudaraan anak-anak Yakub atau Israel. Mereka sama sekali bukan gambaran kerukunan atau kesatuan harmonis.
Bagaimana dengan persaudaran gerejawi? GPI merupakan satu-satunya Gereja yang mulai dari suatu Ibu Gereja, yang kemudian memiliki Gereja-Gereja Bagian Mandiri. Ikatan pengakuan imannya, ajaran gerejanya berupa sola gratia, sola fide, sola scriptura, sejarah mulai bertumbuhnya sampai pemekarannya yang sekarang meliputi paling tidak empat perlima dari Bumi Indonesia ini. Tempatnya dalam sejarah dan pergerakan politik serta partisipasi para pejabat gerejanya serta warga gerejanya dalam pembangunan tubuh Kristus yang Esa serta peranan Warga gereja dalam pembangunan pelbagai bidang kehidupan dari di Bidang Ideologi, Hukum dan HAM, Politik, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan dan Kesenian, Pertaha -nan -Keamanan, Kesejahteraan dan sekarang Pluralisme atau Kemajemukan Indonesia. Kesatuan dalam hidup, kebenaran dan jalan, oneness in life, truth and way. Kesatuan dalam Kristus Tuhan kita, kesatuan dalam panggilan dan pengutusannya, tetapi juga yang memiliki tugas panggilan dan pengutusan yang harus melihat dan menjawab tantangan dalam konteks masyarakat dan kenyataan yang ada. GPI tidak berada hanya sebagai hanya bentuk suatu organisasi yang statis. GPI adalah Gereja yang hadir , berada d tengah dan di dalam semua bidang kehidupan masyarakat di mana ia melayani.
Namun pertanyaan kritis yang harus diajukan adalah apakah GPI merupakan suatu Persaudaraan yang Denominational? Masalah kedua adalah apakah dengan apa yang disebut dan dikenal sebagai Gereja Bagian Mandiri di Wilayah di mana ia melayani, masih nampak hidup bersama dan bekerjasama atau ko-operasinya? Ataukah GBM cenderung memasuki zaman diam di tempat melayani , menanggung semua beban sendiri-sendiri tanpa kepedulian satu GBM terhadap GBM yang lainnya?
Pertanyaan ketiga adalah sehubungan dengan komitmen oikoumenis GPI, yang menyatakan apabila tercapai Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia, maka GPI akan membubarkan diri. Keesaan dalam bentuk GKYE ternyata masih jauh dan makin jauh. Namun GPI yang hadir di empat perlima Bumi Indonesia ini sebenarnya memiliki peluang yang indah terus-menerus untuk bukan saja membuat nyata oikoumenitas itu tetapi juga meningkatkan dan mengembangkannya. Encounter Oikoumenis adalah suatu langkah meningkatkan GPI sendiri menjadi ecumenical-inclusive church.Para pejabat GPI adalah minister of the universal Gospel. GPI merupakan Gereja yang merupakan bagian dari suatu Gereja Universal.
Berapa pedulikah GPI terhadap perkara-perkara universal, mondial, regional, nasional dan lokal? Gereja GPI hadir , tinggal dan melayani di Indonesia.
Kesatuan kristiani adalah suatu kesatuan yang baik, baik bagi semua orang percaya di dalamnya, tetapi juga baik bagi semua yang datang hendak mengenal dan beribadah kepada Tuhan Yesus Kristus.
Apakah berguna melihat kerukunan tersebut? Berguna untuk berhenti melihat betapa rukunnya para kudus itu, Allah melihat persekutuan yang rukun demikian. Kerukunan memerlukan suatu pengakuan tentang kenyataannya, dan Allah nampaknya memberikan persetujuan-Nya, God looks on it with approval.
Apabila kita bersekutu, apabila kita berjemaat, maka kita harus rukun. Ini bukan hanya terbatas pada kerukunan di antara Warga Jemaat atau Warga Gereja, Persaudaraan Yang Rukun dalam Jemaat harus merupakan kenyataan dan bukan hanya impian.
Apa yang dikwalifikasikan sebagai BETAPA , HOW, ALANGKAH !Alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun, how good and pleasant when brothers live in unity. Artinya hidup dalam kesatuan. Bacalah semua ini dalam konteks persaudaraan Gereja-Gereja Bagian Mandiri GPI. Persaudaraan antara GBM adalah karena lahir dari satu Ibu Gereja yaitu GPI.
Apakah kita masih berada dalam persaudaraan yang diam bersama dengan rukun? Kalau dikatakan bahwa kita adalah saudara, maka kita memiliki istilah yang amat indah bagi GPI yaitu istilah Gereja Saudara, mungkin seharusnya diterjemahkan sebagai Sister Churches. Istilah ini amat penting dan mengikat kita. Praktis semua Gereja Bagian Mandiri GPI berada di tempatnya masing-masing. Namun ada satu Gereja yaitu GPIB yang menempati wilayah yang amat luas dari Sabang sampai Ampenan dan dari Makassar sampai Bau-bau. GPIB merentangkan wilayahnya kea rah barat dari GBM sebelumnya, yakni GMIM, GPM, GMIT. Kalau saja setiap pelantikan pimpinan lembaga GBM dilakukan oleh BPHSA GPI maka mungkin mudah melihat persaudaraan itu. Yang menyedihkan adalah justru melihat MPH PGI lebih riil sebagai Pimpinan Keesaan Gereja yang selalu harus memberikan kata sambutan pada Persidangan Sinodal tetapi PHSA GPI nyaris hanya memberikan sambutan tambahan saja dan bukan hadir untuk sekali lagi, dan sekali lagi menyatakan Persaudaraan dalam GPI.
Akhirnya bentuk kesalehan bagaimana yang harus dikembangkannya dalam menjaga Pluralitas, HAMturut mengawal terciptanya Keadilan, Kesejah -teraan, Kesetaraan dan Tanggungjawab semua entitas sosial kemasyarakatan dan paguyuban masayarakat beragama dalam NKRI dan bahkan keberadaan setiap Insan di Bumi Pancasila ini, sebagai saudara. Bukan lagi suatu Persaudaraan yang Sempit dan Tertutup. Tetapi Persaudaraan yang Membuka Diri dan Selalu Melakukan Pembaruan dalam bertugas Bersekutu, Melayani dan Bersaksi di Bumi Pancasila ini.
Persaudaraan karena alasan Sejarah, Ajaran/Dogma Protestan Calvinis, dalam Gereja Protestan di Indonesia, merupakan suatu Warisan yang tak habis-habisnya, bahkan semakin membutuhkan pendalaman dan pengaktualannya dalam konteks pembangunan NKRI yang bebas dari Korupsi , Kemiskinan dan penyakit Hanya Senang Berpolitik untuk Berpolitik dan bukan untuk menciptakan suatu Masyarakat yang Adil, Mamkmur dan Sejahtera. Cara pemerintahan Gereja atau bagaimana bergereja, Visi dan Missi GBM dalam kesatuan dengan visi dan misi GPI sendiri. Barulah Ekklesiologi,Praktika GPI. Sistim itu secara keseluruhan merupakan suatu ikatan yang amat kuat, terbukti sampai hari ini GPI telah berjalan 405 tahun. Liturgi dan Nyanyian Gereja harus dilihat sebagai kesetiaan yang terus mengalir dan menghasilkan suatu bentuk peribadahan yang hidup. Diperlukan melakukan standardisasi pelayanan firman, Mengapa? Karena semua itu merupakan bagian dari tugas panggilan kita untuk memeberitakan Injil Damai Sejahtera kepada Indonesia dan Dunia.
Bagaimana praktek persaudaraan dalam Alkitab Perjanjian Lama? Kita lihat saja sengketa Abraham dengan Lot. Lot yang memilih tanah bagiannya, menimbulkan suatu hal yang berlanjut dalam apa yang kita kenal dengan Lottery, artinya undian. Kita dapatkan kata itu dalam bahasa Inggris dan Belanda, dan kita mengenal degan luas kata Loterij. Artinya Undian. Mendapatkan Door Prize pasti menyenangkan, tetapi apabila kita berjudi dengan membuang batu undian, maka kita memang sedang mencari keuntungan bagi diri sendiri. Kita tidak perduli, apakah orang lain akan menderita bahkan berhutang dan menjual rumah karena kalah judi. Saya masih ingat bagaimana banyak orang amat senang dengan Gaple. Apalagi ditambah dengan merokok tanpa henti dan selalu tersedia Johny Walker alias The Gentleman who keeps walking! Jadi mungkin kita harus meningkatkan Gaple menjadi Bridge, tanpa rokok dan tanpa Jenever. Tetapi ada juga yang melihat gaple itu baik bagi kerukunan dan persaudaraan. Mari kita tanyakan anak-anak kita, apakah mereka merasa bahwa hal itu baik?
Bagaimana dengan Persaudaraan Sesama Anak Bangsa Indonesia ini? Ia merupakan suatu mujizat dalam sejarah. Sejarah pembebasan yang dilakukan Allah atas bangsa-bangsa. Pembebasan itu datang dalam wujud pemerdekaan kita. Lahirlah suatu bangsa Indonesia. Kita harus terus memelihara persaudaraan karena satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Tetapi buikan itu saja tetapi juga merupakan bagian dari Persaudaraan Se-Dunia. Pengakuan atas kita oleh Dunia, yaitu bangsa-bangsa melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan suatu legitimasi mondial yang harus kita pelihara. Pluralisme dan Semangat Keberagamaan yang Benar, Setara, Seharkat dan Semartabat sebagai Umat Ciptaan Tuhan membawa kita pada tersedia bukan saja hidup untuk diri sendiri tetapi menjadi suatu berkat bagi orang lain, yah bangsa lain. Dahulu kita kenal istilah Internasionalisme, tetapi sayangnya istilah itu hendak merujuk kepada kesatuan Negara-negara Komunis di dunia. Pemiskinan dan sengaja membangun paham yang salah tentang persaudaraan yang rukun yang meliputi semua bangsa jangan lagi kita lakukan. Juga tidak atas nama Persaudaraan Seagama yang Mengkafirkan Orang dari Agama lain. Itu sama salahnya. Hanya beda stempel saja. Sudah cukup waktunya , kita harus bangun, bangsa Indoensia harus bangun meninggalkan primordialisme yang sempit dan salah itu. Jangan memeliharanya dalam Undang-Undang yang Amat Sarat Bernafaskan Agama Tertentu saja dan bahkan dalam Larangan-larangan dari Agama apapun yang dikemas menjadi perikehidupan bangsa, yang seharusnya tidak lagi dibutuhkan. Harap para Ahli Hukum membuat ketetapan yang jelas, di mana domain agama, di mana domain Negara atau Undang-Undang yang didasarkan atas Konstitusi kita, UUD 1945. Kita sangat kekurangan Ahli Hukum yang berani mengemukakan pandangan yang tidak bias dalam absurditas hukum sekarang ini.
Kesatuan bagaimana yang dimaksudkan bagi praktek kesatuan Gereja dan kemudian kita aplikasikan juga dalam kesatuan Bangsa kita ?
1.Kesatuan dalam Tubuh Kristus.
2.Kesatuan Hidup,
3.Kesatuan Kebenaran,
4.Kesatuan Jalan,
5.Kesatuan dalam Kristus,
6.Kesatuan dalam Sasaran atau Tujuan,(One in Goal and Objectives).
7.Kesatuan dalam roh.(One in spirit).
The Closer the Unity, The Better, Lebih Rukun Lebih Baik. Tetapi lihat apa yang terjadi? Lebih Rukun Lebih Pahit, The Closer the Bitter. Kita harus mencari sebabnya dalam 7 alasan kesatuan di atas.
Hati yang penuh kasih harus memiliki kesenangan dan memberikan kesenangan (A loving heart must have pleasure and give pleasure).Gereja atau Jemaat yang dipersiapkan bertahun-tahun dalam pelayanan yang sungguh akan Tuhan, merupakan suatu sumber kebaikan dan kegembiraan bagi semua yang tinggal bersekutu di sekitarnya. (baca: Jemaat yang Bersekutu).
Seperti minyak yang baik. Apa artinya itu? Minyak yang baik ini mengingatkan kita pada pengurapan Imam Besar tatkala ia ditahbiskan sebagai Imam Besar. (High Priest). Itu suatu hal yang kudus. Minyak itu mengandung bau yang harum, sweet perfume.
Itu bagaikan suatu pengudusan dalam ritus atau ibadah. Minyak yang harum itu ditumpahkan atau diurapi atas kepala Imam Besar saja. Tetapi sekarang terjadi demokratisasi, semua imam-imam kerajaan Allah boleh diurapi dengan minyak harum itu. Apakah persaudaraan yang dimaksud hanyalah Male Brotherhood saja atau juga terbuka bagi para wanita dalam Female Sisterhood, atau Persaudaraan para Wanita?
Kesatuan itu Baik :
1, Di dalam dirinya.
2. Bagi diri kita sendiri,
3. Bagi saudara-saudara , bahkan Sesama kita,
4. Bagi Pertobatan kita atau bagi Petobat-Petobat.
5. Bagi Dunia di sekitar kita.
6. Bagi semua bidang kehidupan kita.
Coba bayangkan bagaimana minyak yang harum itu yang dicurahkan di atas kepala Harun, Sang Imam Besar, meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Minyak adalah gambaran Roh Kudus, gambaran pengurapan oleh Roh oleh Allah, (anointing oil), menyebabkan suatu pengaruh yang baik dan menyenangkan atas persekutuan yang berdiam atau tinggal bersama dalam kasih. Apakah kita menyimpan kemarahan satu terhadap yang lain? Apakah ada dendam tersembunyi yang hanya dapat dilihat dari body language atau bahasa tubuh kita?
Sekali minyak harum itu dicurahkan, maka minyak itu tidak dapat berhenti mengalir. Apakah sebabnya dalam pengalaman kita, minyak itu terhalang mengaliri seluruh persekutuan kita? Mungkin rambut kita begitu kotor dan kusam sehingga harus di-shampoo dulu, baru bisa dialiri minyak harum itu . Minyak itu mengharumkan semua bagian yang dialirinya. Bagaimana dengan hati kita yang penuh dengan kemarahan, dendam, dan pelbagai pikiran yang salah dan serba menuduh dan menuding orang lain sebagai yang salah? Minyak harum itu tidak akan meminta izin memasuki teritori kita di mana kita menyembunyikan semua kepahitan, kedongkolan kita ataupun kekecewaan kita. Apabila kita hendak bebas dari ketombe iblis di atas dan di dalam kepala kita. Parfum atau Eau de Cologne atau Eau de Toilette apa yang kita pakai? Atau mungkin anda memakai After Shave Lotion. Kasih Persaudaraan hanya mungkin apabila memiliki dasar Persaudaraan yang Rukun. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Apa artinya semua itu? Minyak itu mengalir turun. Tidak bisa mengalir naik. Artinya aliran itu menunjukkan kerendahan hati, penurut. Apa yang disebut sebagai embun itu? Bukankah itu gambaran kasih karunia Allah dalam Kristus bagi kita? Embun kudus dari Roh Kudus, itulah yang turun ke atas kita. Kuasa kerukunan GPI akan hanya terasa apabila kita sungguh bersekutu dalam satu hati dan satu roh. Embun itu tidak dapat turun atas kita apabila kita tidak tersekutukan secara sempurna dalam satu pikiran, satu hati. “The brotherhood of which the psalmist speak is compared to the prescious perfumed Oil, which a host pours on the head of a guest so lavishly, that it flows down to the neck of the guest’s robe, fresh and cool as the Dew of Hermon”.
Jadi kita harus mengeratkan persekutuan atau persaudaraan kita menjadi suatu yang rukun. Suatu kesatuan rohaniah dalam Kristus Yesus. Namun jangan hanya berhenti di sana. Kita harus membangun Persaudaraan sebagai Satu Bangsa Indonesia pula. Lalu kita terus melangkah ke Persaudaraan Se Dunia, tanpa suatu diskriminasi atas alasan apapun.
Pergumulan kita:
1. Sejauh manakah kita telah berhasil membina Persaudaraan sebagai Satu Gereja yang rukun dalam GPI ? Hambatan apakah yang kita temukan menjadi penghambatnya? Bagaimana cara kita mengatasi halangan atau hambatan persatuan atau kerukunan tersebut? Bagaimana bentuk-bentuk nyata dari Persaudaraan Satu Gereja yang rukun dalam GPI yang dapat kita wujudkan?
2. Sejauh mana pengaruh lagu Serikat Persaudaraan bagi penggalangan persekutuan persaudaraan GPI dapat kita kembangkan lagi?
3. Adakah lagu-lagu lain yang dapat membangun Persaudaraan yang Rukun sebagai Bangsa Indonesia ini? Mari kita angkat lagu-lagu Perjuangan Bangsa dan Gerejawi yang diungkapkan oleh Komposer Lagu Indonesia dan Gereja, seperti Bapak Alm Bapak Alm Wage Rudolf Soepratman, Cornel Simanjuntak dan Bapak DR. Alfred Simanjuntak?
4. Persaudaraan dalam PGI, Christian Conference of Asia, WARC yang sekarang adalah World Fellowship of Reformed Churches, dan World Council of Churches. Bagaimana kita mewujud-nyatakannya? Mari kita membuktikan kesediaan dan kemampuan kita memenuhi semua tanggungjawab persekutuan tersebut pada aras nasional, regional maupun universal dengan melunasi iuran tahunannya kepada lembaga-lembaga tersebut. Kita bisa kedapatan sangat mundur dalam partisipasi oikoumenis mondial ini.
5. Bagaimana terus memelihara Persaudaraan yang Rukun berdasarkan Perundangan yang Benar diIndonesia ? Bagaimana pengembangkannya bagi Persaudaraan Se-Dunia?
6. Bagaimana upaya kita membangun Persaudaraan Sebagai Satu Bangsa Indonesia yang harus memiliki Legislatip, Eksekutip dan Yudikatip yang kredibel dan akuntabel? Bagaimana menghadirkan lebih banyak Perempuan dalam Tiga Bidang Politik Bernegara ini? Bagaimana memastikan Pendidikan yang Dasar, Menengah dan Tinggi dan Kejuruan bagi semua Anak-anak kita?
7. Mampukah kita membangun Persaudaraan Yang Terbuka, Luas dan Saling Mengasihi baik sebagai Satu Gereja maupun sebagai Satu Bangsa Indonesia? Bukankah NKRI merupakan Kenyataan Persaudaraan Bangsa Indonesia? Barulah kita dapat berbicara tentang Persaudaraan Universal atau SeDunia sebagai Keluarga Besar dari Allah yang Maha Kasih dan Maha Besar.
Tuhan, dengarkanlah doa dan permohonan kami, berkatilah kesadaran dan keikhlasan kami untuk mewujudkannya.
Amin.
