1. Secara umum sistem berjemaat di kalangan gereja-gereja Protestan di Indonesia sangat diwarnai oleh sistem berjemaat di Eropah (“Parish”), yang diwarisi dari para missionaris. Istilah “Parish” berasal dari dari bahasa Latin, yang berarti daerah atau distrik. Sistem ini berasal dari masa pra-Kristiani. Berdasarkan suatu kebiasaan kuno, maka setiap tuan tanah menyediakan seorang “imam” untuk memimpin pelaksanaan kewajiban-kewajiban keagamaan bagi orang-orang di tanah miliknya itu. Kebiasaan ini kemudian dilanjutkan ke masa ketika Eropah menjadi Kristen (Newbigin, 1977:85). Pada masa itu setiap tuan tanah diwajibkan untuk menyediakan dan membiayai seorang rohaniawan bagi para penyewa tanah, termasuk bagi para hambanya. Jadinya gagasan dasar dari ”Parish” berasal dari masa dan kondisi di mana komunitas agama identik dengan tatanan dan / atau struktur bermasyarakat pada masa itu.
2. Situasi yang disuguhkan dalam Perjanjian Baru jelas berbeda dengan asal-usul gagasan ”Parish” tadi. Juga tidak identik dengan situasi di Eropah dan Amerika Utara masa kini. Juga tidak dengan situasi di Indonesia masa kini. Menurut Lesslie Newbigin (ibid), situasi masa kini di Eropah dan Amerika Utara merupakan hasil sintesis dari gereja dan masyarakat melalui suatu proses ganda. Di satu pihak merupakan akibat proses sekularisasi, dan di pihak lain merupakan akibat dari gerakan-gerakan dalam diri gereja sendiri, yang dimulai dengan gerakan pietisme pada abad ke-17 dan ke-18. Gerakan-gerakan ini menekankan perlunya pemisahan gereja dari dunia. Pengaruh dari gerakan-gerakan ini ikut mewarnai kecenderungan kita untuk secara tajam memperbedakan gereja dan dunia, termasuk antara umat Kristen dan non-Kristen.
3. Situasi masyarakat kita, terutama ketika para misionaris untuk pertama kalinya memperkembangkan gereja / jemaat di daerah kita, adalah berbeda dengan situasi Eropah saat itu. Masyarakat kita bukanlah masyarakat ”gerejaw”i seperti di Eropah. Tanpa mengurangi penghargaan kita kepada jasa-jasa para misionaris pada waktu itu, apa yang mereka lakukan adalah sejenis transplantasi cara berjemaat yang di Eropah sendiri saat itu sebenarnya sedang mengalami perubahan seperti yang disinggung di atas. Para Misionaris membangun kompleks Kristen yang didalamnya tidak saja terdapat gedung gereja, tetapi juga sekolah, rumah sakit, usaha pertukangan dan pertanian. Katakanlah semacam ”koloni” , yang tentu tidak menggambarkan situasi dimasa Perjanjian Baru. Bisa terjadi bahwa di suatu wilayah tertentu terdapat beberapa ”koloni” Kristen, a.l. Protestan, Katolik, Pantekosta, etc. Maka terjadilah persaingan, yang bagaikan ”restoran-restoran” masing-masing menawarkan makanan khasnya. Sasarannya ialah memperoleh sebanyak mungkin warga jemaat. Lalu gagasan positif yang terkandung dalam sistem ”parish”, yakni melayani masyarakat di wilayah masing-masing, menjadi kabur untuk kemudian benar-benar terabaikan. Dan kita pun mewarisi model dan gaya dari apa yang bisa disebut kepemimpinan misioner dengan segala aspek-aspek positif dan negatifnya (cf. Hartono, 1981).
4. Untuk zamanNya, Yesus adalah seorang awam. Di kalangan kelompok pengikutNya yang pertama tidak tampak peranan imam, seperti yang didapati di dalam agama Yahudi, atau dalam agama-agama lain masa itu. Itu bukan berarti bahwa Yesus dan para pengikutnya menyepelekan jabatan Imam. Bagi mereka, fungsi imam dan upacara korban lama telah dipenuhi dan diperbaharui dalam Kristus dan dalam Imamat am orang-orang percaya. Perjanjian Baru juga menyuguhkan bahwa di kalangan jemaat-jemaat pertama perbedaan imam-awam tidak dipermasalahkan. Para pemimpin jemaat-jemaat pertama diberi nama yang tidak berbau imam (Mardiatmadja, 1995: 255). Ini jelas dari istilah-istilah yang dikenakan kepada mereka apostolos (utusan, rasul), episkopos (penilik, atau ”manager”), presbyteros (penatua atau tokoh senior) dan diakonos (pelayan).
5. Kalau begitu, dalam hal apa Yesus Kristus kena-mengena dengan kepemimpinan umat? Menjadikan Yesus Kristus sebagai model kepemimpinan, seperti yang biasa diutarakan di kalangan orang-orang Kristen, bukannya tanpa masalah. Menurut Paul Hidayat (1996: 2f), dari segi teologis sedikitnya timbul dua masalah (i) Kristus adalah Putera Allah yang sempurna dan tak bercacat. Bagaimana mungkin menjadikanNya model untuk ditiru oleh kita yang penuh kelemahan dan keterbatasan? Tetapi tidak menjadikan Kristus sebagai model kita bisa terjebak ke dalam bahaya moralisme, legalisme, atau aktivisme, tanpa mengutamakan karyaNya untuk kita (ii) Pada saat yang sama Alkitab juga menyaksikan bahwa Yesus pun adalah manusia sejati. Dia adalah sesama kita. Dia adalah teladan kita.
6. Yesus adalah teladan kita. Secara praktis tetap masih timbul beberapa pertanyaan (i) Bagaimana mungkin menjadikan Yesus teladan kepemimpinan? Dia tidak pernah memimpin gereja/jemaat, yang anggotanya sampai ribuan. Dia hanya memimpin dua belas orang, itu pun seorang dari mereka mengkhianatiNya, seorang yang lain menyangkaliNya (ii) Bukankah ajaranNya relevan hanya untuk konteks kultur dan pola pikir zamanNya? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan di atas, namun kenyataannya ialah Dia diikuti oleh lebih dari satu biliun orang. Dirinya, ajaranNya, perkataanNya, gaya hidupNya sampai sekarang masih merupakan sumber inspirasi bagi banyak orang. Hidayat mencatat (ibid): “Hidup dan ajaranNya bukan saja telah memimpin tetapi telah mengubah hidup dan perjalanan hidup begitu banyak orang … Perlu kita ingat bahwa hal-hal hakiki manusia pada intinya tidak berubah. Bila kita perhatikan kepemimpinan Kristus, akan jelas bahwa yang diajarkan, dilakukan-Nya lebih menyangkut masalah nilai daripada teknik dan metode. Dia sendiri menyebut diriNya Guru dan meminta orang untuk mengikut dan menaati Dia”. Atas dasar inilah Hidayat menyimpulkan bahwa adalah lebih tepat memperbincangkan kepemimpinan dalam Yesus Kristus, daripada Kepemimpinan Yesus Kristus, atau Kepemimpinan menurut Yesus
7. Dalam kehidupan sehari-hari, agama memunculkan beberapa “wajah” (Riberu, 1987:50). Wajah pertama adalah wajah ajaran atau doktrin. Tiap agama mempunyai paham-paham yang diimani. Termasuk disini perangkat pedoman untuk perilaku dan kaidah susila. Wajah kedua ialah kesatuan para umat. Para penganut bersama-sama merupakan umat, yang peng-organisasi-annya menurut identitas, tradisi atau aturan masing-masing. Wajah ketiga ialah kepemimpinan. Dikalangan umat beragama selalu terdapat orang-orang yang dianggap berwenang atau berwibawa sebagai pemimpin. Bagi Harja W. Bachtiar (1970), Mely G. Tan dan Koentjoroningrat hal yang dianggap penting adalah legitimasi dalam kepemimpinan. Hal ini mereka ambil dari Max Weber yang mengembalikan legitimasi pada tiga prinsip kekuasaan; (i) legal, (ii) tradisional, dan (iii) kharismatis (cf. Stephen Suleeman, 1995). Kiprah dan kinerja seorang pemimpin dapat berjalan dan tercapai apabila masyarakat / umat menerima dan menganggapnya absah atau “legitimate”. Menurut Mardiatmadja (op.cit. :265), legitimasi ini diperoleh karena “begitulah menurut ketentuan” (legal), atau berdasarkan ”kebiasaan” (tradisional), atau berdasarkan “talenta / kepribadian” (kharismata).
8. Para pemimpin agama di Indonesia memiliki wibawa yang besar di mata umat. Walaupun dianggap sebagai pemimpin informal, namun bagi umat tertentu, khususnya yang memiliki susunan hirarki yang jelas (ump. Umat Katolik), para pemimpin dianggap sebagai pemimpin formal. Mereka dianggap punya wewenang untuk memberikan tafsir kitab Suci, serta memberikan pedoman perilaku berdasarkan wahyu yang dianuti. Menurut Riberu (op.cit.: 55), untuk kebanyakan umat pertimbangan para pemimpin agama merupakan patokan yang dipegang sebagai tolok ukur untuk menilai perilaku manusia bukan saja sehubungan dengan hal-hal spiritual, akan tetapi juga dalam hal-hal yang menyangkut tata masyarakat dan tata politik. Para pemimpin agama menjadi obor penyuluh dan sumber ilham dalam menghadapi bermacam-macam masalah pribadi dan masyarakat. Dukungan mereka terhadap sesuatu sangat mempengaruhi para penganut, demikian pula penolakan mereka.
9. Hal-hal yang telah diutarakan di atas kiranya sudah cukup menjadi alasan betapa penting dan mendesaknya para pemimpin umat Kristiani memiliki dan menjalankan prinsip kepemimpinan Kristen yang baik dalam lingkup non-gerejawi, maupun lebih-lebih dalam lingkup gerejawi sendiri. Alasan lain ialah isu regenerasi. Bukan saja dalam dunia luas, tetapi juga dalam kekristenan regenerasi tampaknya tidak berjalan mulus. Berdasarkan pengamatan Hidayat (op.cit.:1), para pemimpin Kristen yang berkaliber kebanyakan dari generasi usia senja, sementara dari generasi berikutnya sulit sekali ditemukan pemimpin. Lalu, di antara generasi yang belum terlalu matang kita jumpai gairah dan potensi yang menjanjikan. Problem di sini, tulis Hidayat, adalah kekosongan antara generasi.
10. Masih ada alasan lain yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru memaparkan kepada kita pertumbuhan gereja, yakni dari gereja Yahudi menjadi gereja dengan bidang lingkup yang lebih luas di kalangan bangsa-bangsa bukan Yahudi. Perkembangan yang sama tengah terjadi saat ini. Selama berabad-abad pertumbuhan gereja terutama berlangsung dan berakar di dunia Barat. Kini gereja mulai meluas dan berakar di seluruh dunia. Walbert Buhlmann (1977) mencatat bahwa pada milenium pertama gereja berpusat di Timur. Lalu pada milenium kedua gereja berpusat di Barat. Pada milenium ketiga, yakni pada tahun 2001 dst, gereja akan terutama berpusat di selatan, yakni Amerika Latin, Afrika dan Asia. Bukan saja gaya barat Kekristenan sedang bergeser, tetapi juga terjadi pergeseran perspektif. Ada orang-orang Kristen tertentu mulai mempertanyakan: ”Why should the church qua church primarily do things which are done every where els?” (Bonino, 1973:84). Maksudnya, apa masih sangat perlu menambahkan cap “Kristen” untuk setiap bentuk pelayanan gereja (ump. Sekolah “Kristen”, rumah sakit “Kristen”, partai “Kristen”, etc.)? Munculnya pertanyaan di atas juga dipacu oleh arus globalisasi yang melanda dunia saat ini. Di balik pertanyaan di atas sebenarnya tersirat pertanyaan apakah sudah waktunya kita bergeser ke bentuk-bentuk pelayanan holistik?
11. Perlunya pergeseran yang dimaksud di atas juga tersirat dalam pernyataan alm. Pdt. DR. Harun Hadiwijono (1983:31) yang dituangkannya dalam salah satu tulisannya pada tahun-tahun terakhir sebelum beliau tutup usia. Menurut beliau:
Misi gereja di Asia / Asia Tenggara seharusnya bukan dipandang sebagai terdiri dari mengklaim para anggota kepercayaan-kepercayaan lain tetapi dari manusia dalam pengelolaan dan pengalaman karya Allah yang menyelamatkan di dunia ini. Sebab satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu bahwa kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa kekeristenan yang melembaga itu saja tidak mungkin dapat menyelamatkan dunia. Ini adalah suatu fakta sejarah dan suatu kebenaran teologis yang … tidak dapat diingkari gereja sebagai lembaga di Asia / Asia Tenggara mewujudkan suatu minoritas dan tetap akan begitu. Lihatlah, bahwa pekerjaan Missi telah berakhri di China, India sebagian besar berada di bawah pengaruh agama Hindu, di Indonesia Islam mendesakkan pengaruhnya terus menerus. Dalam keadaan yang demikian bagaimana Yesus akan menyelamatkan dunia, menyelamatkan satu bangsa saja tidak dapat.
12. Dengan itu kita sekarang boleh mempertanyakan dengan cara bagaimana kinerja pemimpin kristen dalam membina keatuan dan persatuan umat dapat diwujud-nyatakan? Adalah Rasul Paulus yang memberi teladan kinerja dalam mengemban tiga aspek pelayanan yang seimbang dan serasi (cf. Bartlett, 1999), yakni pelayanan (i) untuk injil, (ii) untuk gereja / jemaat sebagai institusi, dan (iii) untuk warga jemaat. Ini jugalah ciri-ciri kepemimpinan missioner. Dan oleh karena kita hidup dalam masyarakat yang pluralistik, penting juga adanya keterbukaan para pemimpin agama. Yang terutama dimaksud adalah keterbukaan terhadap dimensi sosial iman, keterbukaan bagi golongan lain dan pemimpin mereka, dan keterbukaan bagi para pemimpin Negara. Keterbukaan para pemimpin agama akan memantapkan dialog, kerjasama dan kerukunan antar golongan agama dan antara golongan agama dan pemerintah.
13. ”Pemimpin membutuhkan pengikut” demikian Robert D. Dale (1997-75). Para pengikut juga mengembangkan pola-pola hubungan dengan kepemimpinan. Gaya pengikut mengikuti gaya pemimpin mencakup keseluruhan kebutuhan emosional. Bagi pengikut, gereja / jemaat menyediakan suatu lingkungan makna. Jadinya gereja / jemaat, secara alamiah, adalah lingkungan interaktif antara pemimpin dan pengikut. Karena itu sebuah gereja / jemaat membutuhkan kepemimpinan interaktif … membuat perubahan, bertindak atau bekerja, ”interaktif” bertindak bersama, kerja sama, atau timbal balik). Suatu iklim atau suasana interaktif merupakan hal mendasar bagi berfungsinya sidang jemaat secara sehat.
14. Dengan latar belakang kekristenan di Afrika, Gottfried Osei-Measah (n.d. :72ff) menyebut kualitas-kualitas yang perlu dimiliki para pemimpin yang dibutuhkan oleh umat pada masa kini. Menurutnya, kita membutuhkan:
(1) Pemimpin-pemimpin yang mempunyai visi.
(2) Pemimpin yang menyorot kerja sama.
(3) Pemimpin yang mampu melakukan pengkaderan pemimpin-pemimpin masa depan.
(4) Pemimpin yang dapat memulihkan warga yang tersandung.
Osei-Measah menggaris bawahi bahwa apabila kita ingin memanfaatkan peluang-peluang yang ada, dan memenuhi kewajiban-kewajiban yang diletakkan Tuhan di pundak kita, maka kita membutuhkan pemimpin-pemimpin dengan kualitas-kualitas di atas.
Pdt. Dr. Nazarius Rumpak.
Daftar sumber rujukan.
Bachtiar, Harsya, W.
1970 ”Masalah pimpinan di Indonesia” dalam Komunikasi, No. 16, tahun 25 Pebruari 1970, hlm. 11ff.
Barlett, David D.
1999 Pelayan dalam Perjanjian Baru, Jakarta : BPK-GM
Bonino, Jose, M.
1971 ”New Theological Persepective” dalam J.S. on & J. England (eds.) Theology in Action. Singapore:EACC
Buhlmann, Walbert
1977 The Coming of the Third World, New York: Orbis
1981 Gereja Menyongsong Hari Esok, Terj. Marcel Beding, Ende-Flores: Nusa Indah.
Dale, Robert D.
1992 Pelayan sebagai Pemimpin. Terj. Malang: Gandum Mas.
Hadiwijono, Harun,
1983 “Pembimbing ke dalam Teologia Asia Tenggara” dalam Gema, No. 23, Maret 1983, hlm. 31ff.
Hartono, Chris,
1981 “Kepemimpinan Missioner dalam Jemaat” dalam Gema, No. 20, Desember 1981, hlm. 11f
Hidayat, Paul
1996 “Kepemimpinan dalam Yesus Kristus”. Sisipan dalam Santapan Harian, Edisi Mei-Juni 1996.
Mardiatmadja, Romo Dr.
1995 ”Fungsi Imam sebagai Pemuka Jemaat Katolik di dalam perubahan-perubahan Sosial” dalam Penuntun, Nol. 1, Vol. I, April-Juni 1995, hlm. 253ff.
Newbigin, Lesslie
1987 The God Shepherd, Grand Rapids, Mich: W. B. Eerdmans.
Osei-Measah, Gottfried
1987 n.d. Dicari Pemimpin yang Menjadi Pelayan. Jakarta: YBKK/OMF
Riberu, J.
1987 “Agama dan Pembangunan Masyarakat Pancasila” dalam J. Garang (ed.), Peranan Agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa dalam Negara Pancasila yang Membangun. Jakarta: BPK-GM.
Suleeman, Stephen
1984 “Kepemimpinan menurut Weber, Anderson dan Burns: Relevansinya bai gereja” dalam Penuntun. Op.cit., hlm. 274ff
Tan, Melly G. dan Koentjoroningrat
1970 “Masalah Kepemimpinan dalam Pembangunan Nasional” dalam Komunikasi, op.cit., hlm. 13ff.
