Berita

Pemahaman Iman GPIB (B)

24 February 2010, 09:38

Suatu Perjalanan Panjang sehingga
sampai pada Perumusan Pemahaman Iman GPIB,
Oleh:
Pdt.Hallie Jonathans.

I. MULAI DARI PENGAKUAN IMAN.

Secara sadar GPIB menerima dan mendasarkan pengakuannya atas Alkitab yang dinyatakan dalam Kredo Oikoumenis yaitu Pengakuan Iman Rasuli dan Nicea Konstantinopel. Baru kemudian dalam rangka keutuhan Simbolum Oikoumenis, Kredo Athanasius diterima. Setelah yang terakhir dicantumkan, maka terbit pertanyaan kritis, apakah Kredo Athanasius hanya sebuah kredo individual dan belum dapat dikategorikan sebagai kredo Gereja. Setelah mendapat kejelasan bahwa kredo tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Simbolum Oikoumenis, maka akhirnya Kredo Athanasius diterima sebagai Pengakuan Iman bersama dengan kredo sebelumnya, Pengakuan Iman Rasuli dan Nicea dan Konstantinopel. Tradisi Oikoumenis demikian memang merupakan bukti bahwa kekristenan merupakan agama yang berisi pengakuan, atau credal religion. Tradisi Oikoumenis tentu didasarkan atas tradisi teologis yang diterima baik dari Perjanjian Lama, seperti kita baca dalam Ulangan 5:6-21, Ulangan 6:4-9, sedangkan dalam Perjanjian Baru kita lihat dalam Markus 8:29, I Kor.12:31, I Tim.3:16, I Kor.8:6, 15:3-7, II Kor.13:13 Kredo dibutuhkan bukan saja untuk perjalanan dan pengembangan atau pelaksanaan kehidupan beriman, tetapi juga untuk menjawab sikap kritis dan keinginan mendapatkan alasan untuk percaya. Mula-mula jawaban yang diketengahkan dalam parsi-parsi kredo tersebut terasa begitu lekat dengan situasi yang hidup saat itu sehingga dirasakan kurang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang makin berkembang tentang pasal-pasal iman pengakuan iman tersebut. Disamping beriman diperlukan kepintaran atau intelligibility. Tentu dapat dipahami bahwa umat Kristen sejak semula ingin menjelaskan pokok-pokok kepercayaannya kepada dunia sekitarnya atau meneruskan pemahaman yang telah dicapainya kepada generasi penerusnya.Tetapi dalam perjumpaan antara paham ke-Kristenan dengan Paham atau Ideologi lainnya atau bahkan dengan paham Agama-Agama lain, diperlukan penjelasan yang lebih kuat lagi, perlu kejernihan dan penjelasan tentang keterkaitan antara pasal-pasal Pengakuan Iman tersebut. Dalam perjumpaan tersebut tentunya bukan hanya dalam kerangka berada bersama dengan Paham, Agama atau Ideologi lain, tetapi terkadang juga, dan kini makin kerap, ke-Kristenan menghadapi tantangan atau ancaman terhadap keberadaannya. Yang kurang kita ketahui, adalah bahwa suatu kredo yang telah terumus dan diterima, berlanjut dengan pola kehidupan Jemaat atau Masyarakat yang kemudian berkembang dan dengan sendirinya tercatat sejarah perjalanan bergereja dan bermasyarakat. Kredo bersifat universal, katolik, oleh sebab itu bersifat tidak final. Kredo yang bersifat am atau universal itu dimaksudkan agar tetap merupakan gambaran dari Gereja Am atau Universal, bukan Gereja Sektarian. Kredo dan konfesi-konfesi bersifat komunal. Sifat keterhubungan Gereja atau komunal itu dalam Kredo atau kemudian konfesi-konfesi merupakan suatu ciri yang rupanya dipertahankan dalam rangka menjelaskan bahwa Gereja itu Esa, Kudus, Am dan Rasuli. Peralihan dari sekedar pemahaman Pengakuan Iman Oikoumenis yang dikenal, kemudian memang dirasa perlu dikembangkan ke dalam bagian-bagian yang juga menggambarkan tantangan waktu dan tempat atau konteks yang dihadapi; maka dirasakan perlu merumuskan Pemahaman Iman. Agak berbeda dengan konfesi-konfesi, maka pendekatan perumusannya bukanlah dari sudut pandangan seorang teolog secara pribadi, tetapi langsung dari pengalaman bergereja atau berjemaat. Artinya, pengakuan pribadi seperti dalam konfesi-konfesi itu, sudah terajut dalam pemahaman iman yang dirumuskan bersama. Dalam hubungannya dengan Ibadah Gereja, maka jelas pasal-pasal Pengakuan dan kemudian kalimat-kalimat Pemahaman Iman selalu mendapat tempat dalam Ibadah Gereja atau Jemaat dalam rangka menyaksikan kebenaran Tuhan dan meneruskannya, merayakannya dan melanjutkan perjalanan Jemaat atau Gereja Tuhan, menuju tahapan perjalanan selanjutnya. Juga jelas hubungannya dengan nyanyian Gereja. Sangat dirasakan keperluan bukan hanya memiliki Liturgi Gereja atau Ibadah yang baik dan terbuka, tetapi juga dibutuhkan penciptaan nyanyian-nyanyian baru dalam rangka menjemaatkan baik Pengakuan Iman maupun Pemahaman Iman. Hubungan kredo dengan ajaran Gereja juga sangat jelas. Bukan hanya ajaran katekesasi, tetapi pengajaran yang lebih luas dan mendalam tentang pokok-pokok ajaran Gereja dan pengembangannya berdasarkan Alkitab , atau menjawab tantangan dan pertanyaan baru yang muncul kemudian, menyebabkan adanya kesadaran bahwa perumusan kredo dan Pemahaman Iman bukanlah suatu akta final. Fungsi hermeneutis dari Pengakuan Iman atau Pemahaman Iman juga jangan sampai kita lupakan. Mana kerugma, mana penunjang, mana data utama, mana data yang keluar dari data utama atau sentral tersebut. Disiplin hermeneutika berarti memelihara peraturan dalam beriman, a rule of faith .Fungsi hermeneutis janganlah justru menjauhkan warga jemaat dari Alkitab atau membuat mereka bingung menanggapi kewibawaan Firman Tuhan. Perlawanan terhadap Ajaran-ajaran sesat atau heresies dalam Gereja, juga menjadi ciri khas Kredo dan Pemahaman Iman setelah konfesi-konfesi yang kita kenal. Tugas Kredo atau konfesi adalah membela Gereja terhadap Bidat atau heresies.

Kredo akan terumus lebih baik tatkala ada ajaran Bidat.Bidat mempunyai kegunaan sebab memaksa Gereja berpikir lebih kritis tentang pengakuan dan pemahaman imannya. Kehadiran Gerakan Kharismatik umpamanya menyebabkan GPIB harus merumuskan Pemahaman Imannya dengan segera, disamping alasan lain, seperti perlunya menjawab pertanyaan dan tantangan yang dihadapi Jemaat dalam konteks masyarakat yang terus berubah dengan cepat itu.

Hanya nampak jelas bahwa perimbangan antara menjawab masalah Ajaran, Biblika, Hermeneutika, Etika, Praktika, Sistematika, dan terhadap Disiplin Ilmu Non Teologi,masih belum memadai. Diperlukan sistematika yang lebih jelas berdasarkan disiplin Ilmu Teologi,secara berimbang, sebab hal itu menghindarkan Gereja dari terlalu terbungkus dalam perenungan atau terlalu praktis sehingga amat kasuistik penampilan pengakuannya.

Bila Kredo merupakan atau teriakan perang, battle cry, maka biasanya diangkat persoalan Gereja Yang Mengaku tatkala berhadapan dengan paham ideologis rasis-chauvinistis, NAZI, Jerman. Pengalaman tersebut merupakan contoh klasik yang tetap relevan. Dapat dibandingkan dengan Belhar Confession yang keluar setelah General Council ke 22 di Seoul, Korea,yang merupakan tanggapan terhadap masalah politik Apartheid di Afrika Selatan. Sebagaimana kita ketahui dari catatan pembicara-pembicara dalam General Council XXII,World Alliance of Reformed Churches atau Aliansi Gereja-Gereja Protestan se-Dunia atau WARC tersebut, apartheid tidak boleh dipertahankan lagi. Untuk selanjutnya, naskah Belhar Confession tersebut kami lampirkan. Sampai hari ini, nampakanya belum ada persoalan serius yang dihadapi sehubungan dengan Pokok-Pokok Ajaran Kristen dan Pengakuan Iman. Nampaknya perumusan seperti yang dinyatakan oleh Pengakuan Iman Nicea (325) Constantinopel (381) melawan ajaran Arius (336) sehubungan keIlahian Kristus. Persoalan sehakekat atau ”one in essence” melawan “similar in essence”. Arius dengan teori Triad not in equal glories, dan Anak yang tidak mengetahui Bapa-Nya secara sempurna dan akurat, menyebabkan derajat Anak diturunkan guna menjamin esanya dan berkuasanya, singularity and sovereignity, dari Allah. Disinilah jasa Athanasius (328-373) dalam doktrin homousion. Persoalan memang bukan dari Bidat Kristen. Memang jauh dari Ajaran Christian Science tentang manusia adalah roh ilahi, tetapi rumus menghadapi serangan terhadap keilahian Kristus nampaknya perlu dirumuskan hal yang lebih jelas lagi, lebih informatif, jernih, bukan bermaksud mengundang polemik yang tidak ada akhirnya. Bertemunya Kredo Barat yaitu Apostolikum dan Nicea-Constantinopel (Timur) dalam Gereja-Gereja tidak membangkitkan keberpihakan entah terhadap pendapat Barat tentang Kristus berasal dari keturunan rangkap atau berhadapan dengan Kredo Timur yang menekankan pre-eksistensi atau keberadaan sebelum segala zaman dan peranan-Nya dalam penciptaan. Sebaiknya terbit suatu pendapat teologis yang lebih kreatif, sebab banyak dari bagian dari peranan Kristus dibiarkan tak tersentuh meskipun kita mengetahuinya. Dengan demikian bukan suatu battle cry yang kita butuhkan tetapi a broader information and explanation about who, why, when, how and whereabouts of Christ. Memasuki abad transparansi, agaknya kedewasaan Para Pemeluk Agama-Agama di dunia dan di Indonesia perlu ditingkatkan. “Ignoring arguments” artinya argumentasi yang mengesampingkan saja atau tidak mau tahu sesuatu tentang Agama lain, harus dicegah. Mungkin kita perlu kembali menjabarkan semua pergumulan Pengakuan Iman Kristen yang berlanjut dalam karya-karya Bapa Gereja Yohannes Calvin agar ditandatangani oleh penduduk Jenewa (1536). Dan sejarahnya kemudian sampai kumpulan konfesi menurut pokok ajaran dalam Harmonia Confessionum (1581) dan Corpus et Syntagma Confessionum (1612). Menurut DR.Christian de Jonge, kita perlu mempelajari lagi Pengakuan Iman Belanda, Katekismus Heidelberg, dan Pasal-Pasal Dordrecht,yang disebut ketiga formulir kesatuan. Kalau sekilas pandang, melihat struktur Pemahaman Iman GPIB, pemahaman itu tidak jauh isi dan sistematikanya dari Confessio Belgica atau Pengakuan Iman Belanda. Selama GPIB belum mengangkat masalah-masalah khas yang ditemuinya dalam perjumpaan atau encounter dengan Islam, serta Agama-Agama lain, serta ideologi-ideologi yang nampak kini sudah merangkak ke arah kewibawaan Agama dalam mengatur hidup sekarang dan mendatang, maka kita belum dapat menyatakan bahwa Pemahaman Iman GPIB adalah khas,asli, dan kontekstual. Sudah bukan waktunya untuk ber ABC dalam Pengakuan dan Pemahaman Iman. Diperlukan terbitnya Pengakuan Khas GPIB yang menjawab pertanyaan dunia tentang tiga perkara, yaitu keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Mungkin gaya Athanasius yang kasuistik cukup perlu dipikirkan sebagai pengetengahan bentuk Confessionum GPIB. Perlu suatu Fidei Ratio, pertanggungjawaban iman yang lebih luas dari yang telah dilakukannya.Sekali lagi, kita ketahui bahwa Kredo Nicea adalah sehubungan dengan pengakuan bahwa Kristus adalah Tuhan, sedangkan Kredo Constantinopel menjelaskan tentang keAllahan Roh Kudus, Deity of The Holy Spirit. Dengan demikian telah tercapai kepastian Pengakuan Iman Kristiani, dan penolakan terhadap anggapan Bidat atas Kristus dan bahkan Roh Kudus. Pengakuan Iman Athanasius tidak digunakan dalam Ibadah, disamping bersifat anathema, tekutuklah barangsiapa yang tidak mengaku demikian, dalam Pengakuan Iman Athanasius itu nyata pengakuan definitif tentang Kristus. Bukan Athanasius yang merumuskan semuanya tetapi beberapa teolog aliran Agustinus. Kita perlu mencatat semua ini dalam rangka memiliki keyakinan bahwa Pengakuan Iman Oikumene atau Kristiani telah selesai dan tidak memerlukan penambahan atau penegasan teologis tambahan. Kanon dan Dekrit Konsili Trente telah mengakhiri kebutuhan menulis kredo-kredo tambahan. (1543–1545-1563). Yang merupakan perkecualian adalah Deklarasi Barmen, suatu upaya khusus sehubungan dengan tekanan dari NAZI atau Third Reich dan ke-Kristenan Jerman. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya upaya-upaya perumusan Pemahaman Iman Kristen yang marak akhir-akhir ini merupakan upaya yang mencoba menjawab persoalan-persoalan yang dihadapai Gereja di tengah dunia sesuai dengan apa yang dinyatakan Alkitab serta pandangan Gereja berdasarkan pergumulannya yang terus-menerus dalam ketaatan akan Firman serta pengarahan oleh Roh Kudus.

II. URAIAN TENTANG PEMAHAMAN IMAN GPIB.

Pemahaman Iman GPIB yang tercantum secara resmi dalam Keputusan Persidangan Sinode XIV, GPIB, tahun 1986 di Bali, Pertamina Cottage, Kuta, merupakan suatu upaya yang sangat intens memikirkan apa yang dihadapi oleh GPIB dalam kurun waktu mendatang. Oleh sebab itu sistematikanya juga dimulai dengan persoalan yang paling mendasar dalam ajaran Gereja Protestan, atau yang dinyatakan dalam Alkitab yaitu masalah Keselamatan.

1. Keselamatan

Tindak keselamatan atau penyelamatan itu merupakan tindakan dasar baik secara Alkitabiah, artinya dalam sejarah keselamatan maupun dalam memahami tindakan Allah bagi orang percaya atau umat percaya. Tekanan memang ditempatkan atas keselamatan kolektif tetapi bukan berarti mengabaikan keselamatan individal. Untuk selanjutnya bukan suatu pengakuan pribadi, tetapi suatu pengakuan kolektif, kami percaya.
Tindak penyelamatan yang dilakukan oleh Allah bukan tindak akhir tetapi memberikan tugas kepada umat yang diselamatkan-Nya itu untuk menyaksikan nama-Nya, karyaNya yang besar. Puncak tindakan keselamatan dalam Kristus Yesus mengetengahkan Yoh.3:16,dalam pemahaman pengalaman keselamatan nyata sejak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Selain memperlihatkan wawasan eskatologis dari keselamatan, Pemahaman Iman GPIB tentang keselamatan ini menempatkan Sakramen-Sakramen GPIB, yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus sebagai upaya yang menyatakan keselamatan itu secara nyata. Itu berarti menggunakan bukan sekedar pengetengahan ritus tertentu untuk mendapatkan keabsahan dalam masyarakat, tetapi mengetengahkan upaya revitalisasi yang terus-menerus tentang arti Inkarnasi dan Keselamatan dalam Kristus.Dalam perjalanan selanjutnya GPIB akan berjumpa dengan pelbagai paham Agama dan Ideologi tentang keselamatan,bukan saja sekularisasi tetapi juga upaya materialisasi serta bahkan pembentukan Tata Moral Dunia, atau Moral Order yang kemudian muncul sebagai akibat perjumpaan paham Kristiani menyangkut pelbagai pandangan hidup dan sistim, nilai dan sebagainya, dengan pelbagai paham Agama dan Ideologi yang berkembang atau Filsafat yang dianut oleh masyarakat atau orang pribadi. Jelas dinyatakan kuasa maut tidak dapat membatasi dan menghalangi Yesus Kristus, dan itu harus kita lihat dalam bukan saja ajaran Kristus tetapi juga semua yang dikendaki Kristus kita berlakukan di tengah dunia ini dalam rangka mengaku Kristus itu. Apakah kita benar siap untuk menyatakan itu? Dimanakah alamat-alamat yang perlu kita kirimkan pernyataan sedemikian itu? Bukan dalam bentuk theological discourses, tetapi menggunakan tema kehidupan, tema keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Peranan Roh Kudus dinyatakan juga secara tuntas, Roh yang membangkitkan Kristus. Akhirnya, Ia menyatakan diri sepenuhnya, tatkala Ia menampakkan diri sebagai Hakim dan Raja, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha kuasa.

Paham tentang keselamatan memang tidak dapat dilepaskan dari tindakan pembebasan atas bangsa Israel dari tangan penjajahan Mesir atau perhambaan oleh Mesir. Dengan demikian dipaparkan tentang sejarah kudus bangsa Israel. Dari suatu partikularisme masuk kemudian kepada keselamatan bangsa-bangsa.

Pasal keselamatan ini dilepaskan dari tindakan penciptaan yang sebenarnya juga merupakan bagian dari tindakan keselamatan. Kasih yang besar yang ditunjukkan Allah dalam Kristus Yesus, langsung ditujukan kepada umat manusia. Pelayanan Firman dan Sakramen langsung ditunjuk sebagai wahana menyatakan keselamatan. Claim keuniversalan Kristus dan janji keselamatan itu bagi semua umat manusia dengan demikian berbicara tentang keselamatan bagi mereka yang tidak berimankan Kristus. Apakah dengan demikian tugas menyampaikan kabar Injil itu merupakan tugas Gereja, tidak secara eksplisit harus dinyatakan? Pasal keselamatan ini memang masih sangat sarat dengan Kredo atau lebih tepat disebut sebagai perluasan kredo. Peranan Roh Kudus dalam sejarah keselamatan ini juga tak tercantum. Padahal Roh Kuduslah yang berperan dalam menyeberangkan Injil kepada bangsa-bangsa. Pengakhiran pasal keselamatan ini dengan Kristus menjadi Hakim dan Raja sama dengan Kredo. Sebenarnya dapat diharapkan bahwa pasal ini menggambarkan keselamatan yang lebih konkrit seperti janji tentang satu langit dan bumi yang baru, atau tentang Kerajaan Allah.

2. Gereja

Dengan sangat jelas dinyatakan tentang Abraham, Bapa segala bangsa tetapi juga dinyatakan tentang suatu bangsa yang khusus dipilihNya untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia. Umat lama itu adalah Israel, umat baru adalah Gereja Tuhan. Gereja yang Esa, Kudus, Am dan Rasuli, demikian kita dapat menyimpulkannya.

Namun Gereja tidak tertutup setelah menerima pilihan itu, tetapi terbuka untuk melakukan dialog atau percakapan dengan pelbagai pihak, maksudnya Pihak yang mewakili Agama ? Filsafat, Ideologi atau Pandangan Hidup yang berkembang yang dirumuskannya sebagai pelbagai pegangan hidup dan cita-cita hidup. Bagian ini harus diisi oleh GPIB atau kita semua, agar nyata bahwa kehendak ini bukan di atas kertas saja. Makin lama makin nyata bahwa pelbagai agama menunjukkan kelemahan dalam praxis etikanya, dan kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai atau hidup dalam saling membangun. Ideologi juga sudah bukan juruselamat sosial-ekonomi dan politik untuk membangun suatu tatanan kehidupan bermasyarakat yang tertib, teratur dan yang membangun masa depan manusia dan lingkungannya serta memahami bahwa ia tidak dapat hidup sendiri saja, sebab no man is an island.

Mengupayakan kesejahteraan dan pembebasan merupakan suatu upaya intrinsic, yang hakiki sifatnya. Artinya tindakan itu bukan terpisah dari akta gereja tetapi merupakan misi yang juga dinyatakan dengan jelas.

Gereja adalah Umat Baru hasil tindakan keselamatan oleh Allah. Dari Abraham, kemudian Israel lalu segenap bangsa, dari Timur, Barat, Utara dan Selatan, terciptalah suatu Gereja yang Universal. Pengakuan tentang Keesan Gereja atau Oikoumene segera terbaca. Oleh sebab itu peranan Gereja dalam gerakan keesaan baik sejak GPI,kemudian PGI dan dalam gerakan keesan sedunia (World Council of Churches atau WCC dan WARC) serta di Asia seperti dalam Christian Council of Asia, atau Konperensi Kristen Asia, atau CCA merupakan kewajiban yang tidak dapat dilepaskan. Peranan Roh Kudus menjadi amat nyata, meskipun hanya disebut satu kali saja. Bila dikatakan bahwa Gereja merupakan alat Tuhan untuk menyatakan kasih setia-Nya, maka kita akan berhadapan dengan tuduhan Keselamatan hanya ada di dalam Gereja atau Di luar Gereja tidak ada keselamatan. Hal ini menyebabkan pandangan terhadap Agama lain menjadi negatip. Bahkan seperti sekarang kita lihat menjadi pertikaian yang saling membunuh. Kondisi reformasi kita membutuhkan suatu pendekatan yang positif. Apabila kita berada dalam Gerakan Pluralisme, maka harus ada ruang bagi Agama lain, harus tercipta dialog. Klaim tentang keselamatan dan kebenaran harus kemudian dibawa juga pada klaim tentang Perdamaian,Pendamaian , Keadilan dan Hidup Bersama dalam suatu kenyataan masyarakat yang Majemuk. Tugasnya adalah menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, kesamaan, keadilan dan kesejahteraan. Apakah sulit untuk membuktikan bahwa keberagamaan atau religiositas adalah suatu kenyataan keimanan yang paling tidak menghargai dan membela serta mengembangkan kemanusiaan sampai menjadi serupa atau segambar dengan Allah? Akhirnya pendekatan yang diharapkan sekarang ini adalah pendekatan pada Perdamaian, Keadilan dan Keutuhan Ciptaan.

3. Manusia

Harkat dan martabat manusia sebagai pria dan wanita mendapatkan tempat yang terhormat. Suatu pernyataan teologis dan juga pengakuan yang lengkap atas pria dan wanita dan menerima kemanusiannya dari Allah lewat penciptaan. Bukanlah masalah hubungan antara pria dan wanita atau “ relation among gender “ atau “ between gender “ itu merupakan suatu issue global dan memerlukan catatan tersendiri dari GPIB yang selalu mengaku bahwa tidak ada masalah dalam hubungan tersebut. Mungkin pada strata pejabat gereja bergender pria atau wanita tidak ada masalah, tetapi dalam melihat kedudukan wanita dalam Gereja GPIB yang terdiri atau berasal dari pelbagai suku dan bangsa, kita dapat mulai melakukan penyelidikan tentang kasus-kasus yang dihadapi oleh para wanita dalam hubungan dengan pria atau para pria dalam hubungan dengan wanita. Namun perlu masih dicatat, bahwa Wanita Pejabat, maksudnya Pendeta selalu diberikan catatan kecil agar setangguh Pria Pendeta. Mungkin inilah social approach yang masih latah dilakukan oleh Pejabat Gereja dalam menerima Wanita Pendeta. Kemitraan antara Pria dan Wanita perlu dirumuskan. Kemitraan sejajar akhirnya dicapai dalam arti bahwa Pendeta Wanita mendapatkan hak setara dengan Pendeta Pria, yakni menjadi Kepala Keluarga, dan suaminya menerima tunjangan suami Pendeta Wanita. Solusi ini dianggap adil.
Persoalan “Responsible Parenthood” atau Keber-orang-tua-an Yang Bertanggungjawab, juga menjadi catatan bagi kita semua. Hal ini serius mengingat bahwa terjadi senantiasa migrasi yang menyebabkan penduduk di daerah cepat sekali beralih atau berpindah ke kota atau ke pulau lainnya, urbanisasi , atau terjadi transmigrasi swakarsa yang dilakukan berkelompok.
Persoalan profesi, tanggung jawab bersama, kemandirian, kemerdekaan berpikir dan berpendapat, kemerdekaan bertindak, serta pernyataan tanggung jawab merupakan sejumlah persoalan yang dihadapi manusia sejumlah issue moral yang harus dilakukan dalam membangun suatu kehidupan yang bertanggung jawab.
Biasanya issue moral kurang mendapatkan tanggapan kita sebab kita lebih biasa menjawab persoalan Etika dan Spiritual.

Pengetahuan manusia baru merupakan suatu upaya menaruh bukan sekedar manusia percaya dalam tatanan tanggung jawabnya, tetapi dalam tatanan keberadaaannya secara baru. Berarti dalam tata dan hakekat hubungan baru yang menghidupkan, membebaskan tetapi bertanggung -jawab dalam menjalin hubungan dengan Allah, sesama dan semesta. Diketengahkan tentang upaya pendamaian yang bukan hanya mempersoalkan hubungan pribadi dengan Allah tetapi hubungan baru dengan sesama dan dengan semesta . Kristus yang diketengahkan sebagai Manusia Baru , Adam Kedua, berarti menyatakan kepada dunia tentang terbitnya suatu kemanusiaan baru yang bermula dalam Kristus.Hak asasi manusia perlu dirumuskan oleh Gereja. Menghubungkan pendamaian dengan keselamatan merupakan upaya teologis yang besar, soalnya hal-hal tersebut bukan dimaksudkan sebagai status quo, tetapi permulaan baru, new starting point. Itu berarti menciptakan sejarah baru pula. Persoalan gambar Allah dan bangunan Kudus atau Kenishah, merupakan gambaran akomodatif, dwelling place, dan itu berarti memiliki basis baru guna melakukan suatu pekerjaan atau karya baru. Pelbagai seminar tentang hal atau pokok ini dapat dibuat, atau kita dapat menguraikannya dengan sangat luas, tetapi juga harus sangat spesifik bagi setiap warga Jemaat untuk menemukan diri dan menjalankan perannya sebagai saksi Kristus di tengah dunia. Bab ini hampir sempurna menggambarkan tentang manusia. Persoalan gender dan kesetaraan gender nyata di sini. Kemajemukan manusia menggambarkan kayanya ciptaan Allah. Tidak ada tempat bagi Homo, Banci atau Pemburit, juga bagi penyimpangan dalam hubungan seksusal. Pemahaman dasar manusia yang terdiri dari pria dan wanita telah sekarang menghadapi perkembangan psiko-generatif seperti timbulnya homo dan lesbian, atau gay dan lesbian. Penyimpangan psiko-generatif ini harus diatasi dengan penggunaan psiko-terapi dan terapi holistik, sehingga tetap memberikan tempat dan bukan membuang mereka yang tidak berdaya menghadapi perkembangan psiko-generatifnya. Manusia betapapun mulianya sebab memperoleh mandat memelihara alam ini, dan melakukan semua tindak pembangunan, serta memelihara hubungan damai, dll, tidak boleh disanjung. Sanjungan menjadi sama dengan Allah memang bukan model lagi, sebab banyak sanjungan karena ketergantungan atau merupakan pilihan dari antara yang buruk. Pasal tentang kemerdekaan berpikir dan berkehendak merupakan pengakuan atas kemerdekaan manusia dalam Tuhan, sebab manusia harus menjadi mahluk ciptaan Allah yang bertanggungjawab. Konsep tentang Manusia Baru dikemukakan hanya secara implisit. Kembali kita lihat bahwa gambaran tentang manusia masih amat mengacu kepada penyataan simbolik yang berhubungan dengan Ibadah dan Ritus. Satu-satunya adalah menggambarkan Allah sebagai Gambar Allah. Imago Dei ini harus kita isi dalam rangka menjawab kebutuhan masa kini dan akan datang.

4. Alam dan Sumberdaya.

Tentu pokok ini tidak asing bagi kita. Dari sikap memlihara sampai turut dalam usaha pelestarian, preservasi alam dan bahkan memperbaiki akibat pencemaran dan seterusnya, meyebabkan issue lingkungan atau enviro itu amat menarik. Mungkin inilah suatu ungkapan universal yang menembus segala batas bangsa, bahkan Agama dan denominasi. Membedakan antara Pencipta dan ciptaan sangat jelas dalam rangka menjaga agar manusia tidak menyembah ilah-ilah, yang dapat muncul dari ketergantungan atas alam, tanah, air dan sebagainya, tetapi juga dalam hubungan dengan monopoli pengelolaan hasil alam dan pengunaan pemanfaatan lingkungan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentu hubungannya harus dengan negara yang biasanya merupakan user IPTEK atau memberikan legitimasi atas penggunaan iptek itu. Dari segi lain, Ilmu Pengetahuan mendambakan suatu kebebasan yang tidak ada taranya dalam melakukan eksperimentasinya atau dalam mengukur segi kegunaannya atau melihat bahaya-bahaya yang dihadapinya. Yang kita hadapi adalah the institutionalization if science. Tentu Ilmu Pengetahuan ini tidak berdiri sendiri, tetapi mempunyai keterkaitannya dengan:

1. The broader social environment, atau Lingkungan Sosial yang lebih luas,
2. Larger state bureaucracies, Birokrasi Negara yang lebih luas,
3. Channels of Trade, Saluran-Saluran Perdagangan atau Niaga.
4. Diplomacy, Diplomasi antar Negara.
5. Communications, Komunikasi-komunikasi

Semua itu kita bisa sebut sebagai Sistim Dunia atau World System. Institusionalisasi atau Pelembagaan Ilmu Pengetahuan menang bukan Berarti pembenaran dan pemberian kebebasan besar tanpa suatu kontrol , tetapi justru memperhatikan tali hubungannya dengan konteks sosial yang makin lebar. Otonomi bagi Ilmu Pengetahuan bukan berarti total independence atau mandiri secara keseluruhan, dan bukan pula suatu isolasi atau pemisahan dari pemerintah, atau isolation from government, tetapi suatu interaksi yang saling menguntungkan, interact for mutual gain. Rumusan tentang kesejahteraan tentu bukanlah dalam paham welfare state, tetapi yang memperhatikan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Kalau dapat semua rumusan ini diberikan pengertian baku.

1. Agama; Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa .

2. Kelembagaan Ilmu Pengetahuan: – Nilai luhur bangsa berhadapan dengan yang Pelembagaan Ilmu Pengetahuan/Institutionalization of Science.

3. Peranan Pasar yang mempengaruhi kehidupan moral dan gaya hidup pada umumnya. (Moral Order ).

4.1. PASAR.
Sayang sekali, bahwa bagian Alam dan Sumber Daya ini tidak mengetengahkan soal PASAR. Bukankah pasar itu sangat penting ? Pasar harus masuk dalam Moral Order, apabila tidak ada moral di sana, maka pasar merupakan ajang atau arena pembinasaan atas mereka yang tidak berdaya. Telah lama Protestantisme selalu diidentiikkan dengan terbitnya kapitalisme dan kerja keras, atau perseverance. Telah lama pembebasan tanah-tanah Gereja yang luas berkembang menjadi lahan-lahan pertanian negara dan swasta yang memegang peranan besar dalam menciptakan pasar. Melalui industrialisasi terbitlah perluasan pasar dan makin kompetetifnya semua hasil olahan untuk pasar. Dan perkembangan terakhir melalui cepatnya komunikasi dan informasi, bahkan dilakukan perdagangan dalam skala besar bahkan dilakukan future trade. Pengelolaan sumberdaya alam tanpa menyebutkan Pasar amat tidak masuk akal.
Sebelum itu tentu kita perlu memahami perilaku-perilaku ekonomi yang tidak dapat dipisahkan dari latar belakang budaya masing-masing. Kepercayaan, sikap, attitudes, norma-norma dan nilai-nilai internal yang dianutnya (internalized), kecenderungan-kecenderungan subyektifnya, suasana hati (mood) motivasi-motivasinya, mentalitasnya, merupakan komponen budaya yang melekat pada seseorang. Mereka harus bukan sekedar diamati dan dibiarkan melakukan apa saja yang diinginkannya, tetapi tugas Gereja adalah untuk menempatkan mereka dalam matrix kewajiban moral dan kemudian manjadikan atau membuat suatu struktur hubungan sosial yang akan dipatuhi dan terus dikembangkan menuju suatu tata hubungan sosial yang lebih luas (broader social relations).
Akses budaya atau manusia berbudaya harus ada, ke dalam sumber daya ekonomi, politik dan sosial. Jangan akses ini mecet. Akan timbul bukan sekedar keresahan, tetapi perlawanan. Dimana semua itu berjumpa? Di pasar. Pasar bukan hanya berfungsi sebagai tempat pertukaran barang dan jasa, tetapi juga ajang perbaikan manusia, human betterment. Baik penjual maupun pembeli memperlihatkan private ineterest masing-masing, tetapi tangan Tuhan mau menjamin pertambahan bagi semua. Pasar harus dapat memelihara kepercayaan orang banyak. Melalui pasar,dituntut disiplin dan budi luhur.
Pasar merupakan ajang tanggung jawab moral. Belum terlambat memasukannya dalam pasal pemahaman Iman GPIB, sebelum banyak orang makin bingung menanggapi pasar itu. Bukan sekedar perilaku bertanggung jawab, acting responsibly menuju suatu masyarakat yang lebih luas. Bukankah kesepakatan antar bangsa lambat laun akan dilakukan bukan lagi lewat Badan-Badan Dunia seperti PBB,Organisasi Buruh Internasional atau International Labor Organization,ILO dan seterusnya, tetapi lewat Lembaga-Lembaga Swasta yang merupakan badan-badan baru yang lebih mampu melaksanakan tugasnya berdasarkan kesepakatan yang mengikat .
Kita akan berhadapan dengan gelombang swasta yang besar. Formalitas berpikir kita yang selalu mengandalkan pendekatan atas dasar kesepakatan antar Negara lambat laun akan berubah ke arah pendekatan yang lebih luas kemungkinannya.
Sangat baik untuk menggariskan pembangunan berkelanjutan, keutuhan ciptaan, energi alternatif, makanan pokok bervariasi, dll, upaya untuk memerangi bahaya kelaparan dan kurang gizi ,dsb. Tentang sumber daya manusia, kwalitas, harapan dan kinerjanya harus dirumuskan dengan jelas.

5. Negara dan Bangsa.

Diperlukan suatu perumusan baru tentang hubungan Gereja dengan Negara. Legitimasi Negara atau Pemerintah selalu diperhadapkan pada Roma 13 atau Wahyu 13. Kelaliman dan keresahan merupakan dua situasi sifat yang harus dihilangkan, sebab keduanya membuat manusia tidak dapat berpikir sehat lagi Nampaknya Negara Republik Indonesia menghadapi bahaya primordialisme yang sangat luas dalam masyarakat, maupun dalam tata hubungan antara pelbagai kepentingan, urusan dan bisnis.
Agama yang mempunyai pengikut berjumlah terbesar, akan selalu dapat dijadikan alat mencapai tujuan, termasuk penyimpangan dari cita-cita besar bangsa Indonesia; bisa menjadi pembenaran atas penyalah-gunaan kuasa, abuse of power.Agama yang pengikutnya kecil jumlahnya akan dipancing menjadi kekuatan yang melakukan oposisi frontal atau bentuk lain dari perlawanan terhadap Pemerintah. Oleh sebab itu diperlukan kewaspa-padaan, kearifan tetapi juga kecerdikan dan ketulusan , tetapi jelas hati bersih.
Tanggung jawab pribadi tidak dapat berdiri sendiri terpisah dari tanggung jawab kolektif atau korporat (bersama). Bahkan terdapat bahaya bahwa tanggung jawab pribadi tidak mempunyai kuasa menghadapi tanggung jawab kolektif yang telah sarat dengan irresponsibilities. Not Accountable. Perlu dikaji mendalam mengapa sifat korup begitu luas menjadi way of life dari saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air.Alangkah indahnya apabila sifat korup dalam pelbagai hal dan tingkatan dapat diberantas. Diperlukan suatu reformasi moral guna mencapai sebuah clean governance, penataan suatu pemerintahan yang bersih, guna menata urusan bisnis global maupun lokal yang menyejahterakan manusia di manapun di bumi tercinta ini.

6 Masa Depan

Mungkin perlu dikaji Theology of Hope yang baru. Heaven starts on earth, surga dimulai di bumi, mungkin itu yang harus dikaitkan. Karya kesejahteraan, keadilan dan berpengharapan. Bila kita mulai mempersoalkan masa depan, maka kita pasti tidak dapat melepaskan diri dari paham tentang Eskatologi. Kesukaran hermeneutis segera kita dapatkan tatkala kita mendasarkannya secara harafiah seperti yang digambarkan oleh Kitab Daniel, Yehezkiel dan akhirnya selalu Kitab Wahyu. Hermeneutika yang langsung dapat melepaskan diri dari imajinasi tentang dunia dan bagaimana dunia akan berakhir. Nada skeptis dan punitive, bersifat menghukum sangat hebat. Akibatnya nuansa keselamatan dan pembaruan atau penciptaan suatu langit dan bumi yang baru di mana terdapat kebenaran kurang mendapatkan tekanan bahkan perhatian. Suatu akibat serius adalah bahwa kita hanya bermain dengan simbol-simbol masa lalu. Juga kita secara langsung menerjemahkan keadaan sekarang langsung dengan gambaran masa lalu, tentang bagaimana kebinasaan itu akan terjadi. Akibatnya adalah bahwa kita tidak bergumul dengan simbol-simbol baru, kita menolak membaca tanda-tanda zaman. Kita membuat Alkitab suatu lingkaran yang akan kembali ke tempat dari mana asalnya. Suasana penuh kegelapan meliputi kita tatkala kita berbicara tentang Masa Depan dunia. Bukankah Alkitab tidak mengakhiri beritanya dengan janji suatu langit dan bumi yang baru?
Kita melihat dengan jelas bagaimana ajaran tentang Akhir Zaman bahkan melanda kota Makassar, kemudian di Bandung, paada waktu lalu. Secara analogis kita melihat juga bom bunuh diri atau para wanita dan anak-anak yang mau menjadi tameng bagi pejuang Mujahidin bahkan rela mati demi pejuang-pejuang muda ini, menjadi gejala keberagamaan yang harus mendapatkan perbaikan berdasarkan pencerahan hermeneutis yang benar. Kita melihat juga bahwa ada teologi sukses yang senantiasa memastikan bahwa manusia yang berusaha dengan pertolongan Tuhan tetapi juga terkadang tanpa suatu usaha yang nyata asalkan berharap kepada Tuhan, akan mencapai sukses. Jalan ini sangat mempermudah dan cenderung memperbodoh orang dan meruntuhkan nilai dan arti kerja bagi manusia. Berbagai gejala akhir zaman yang positif maupun negatif akan terus silih berganti mewarnai keberagamaan yang rupanya tidak mempunyai visi tunggal tentang masa depan. Semua ini sudah merupakan kenyataan betapa tetap parahnya cara Gereja menjelaskan tentang masa depan. Gloomy Future, Masa Depan Suram. Dan sebaliknya, ada juga Masa Depan yang Terlalu Mudah Diraih, a Too Easy Future. Akhirnya banyak orang melarikan diri ke bunuh diri massal, group suicide, atau memilih menjadi orang pesimis dan tidak mau tahu tentang masa depan. Banyak orang rela menjadi martir ideologi, agama dan keyakinan kolektif yang mempunyai kepentingan tertentu pula. Bagaimana dengan pernyatan dalam Alkitab bahwa Allah di dalam segala pertkara turut bekerja bekerja bagi kebaikan mereka yang mengasihi Dia dan yang dipanggil sesuai dengan maksud Allah? (Roma 8:28).

7. Firman Allah

Firman menjadi daging atau manusia, seperti yang kita kenal dalam Inkarnasi membutuhkan penjelasan yang lebih luas lagi, sehingga dikhtomi antara perkara rohani dan materi dapat diatasi dengan tidak membenarkan materialisasi atau spiritualisasi. Yang paling kontroversial adalah bahwa ada pernyataan dalam Pemahaman Iman GPIB bahwa Alkitab mengandung Firman Allah. Pernyataan itu sebenarnya berangkat dari ketakutan bahwa semua Firman dalam Alkitab akan harus dilakukan secara harafiah tanpa perlu melakukan telaah exegesis yang cukup atau yang benar. Reaksi keras sejak upaya memperkenalkan Pemahaman Iman yang masih merupakan konsep, jadi sebelum tahun 1986, saat Pemahaman Iman diterima atau dihasilkan oleh GPIB setelah lebih dari empat dasa warsa GPIB tidak memiliki dan kurang berusaha merumuskan Pemahaman Imannya. Dalam Liturgi-Liturgi GPIB jelas sekali pernyataan bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Tetapi kalau kita menelaah bagaimana para Pendeta GPIB menerima pernyataan itu , ternyata sangat berlainan dengan pemahaman harafiah, sebab selalu diikuti oleh suatu exegesis dan upaya penerapannya. GPIB tidak mempunyai maksud teologis tertentu dalam merumuskan bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Hal itu diterima dengan pelbagai kesadaran exegesis dan hermeneutis . Tetapi itu janganlah pula ditafsirkan sebagai GPIB sangat berpegang pada metode penafsiran Historis Kritis yang mengabaikan semua bentuk keilahian Kristus dan kekudusan Gereja-Nya. Setiap pejabat gereja yang mempunyai cukup bekal teologis dan dogmatis pasti akan dapat menerima pernyataan bahwa Alkitab mengandung Firman Allah, sebab menyadari akan selaput historis,kebudayaan, kosmologi yang tengah berkembang dan kemudian memang dapat meneruskan perjalanan pemahaman Alkitabiahnya melalui tapisan hermeneutis yang tetap percaya kepada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dan penyataan masing-masing dalam sejarah kehidupan dunia dan manusia. Namun, rasanya memang akan harus mengalami perjalanan pemahaman yang panjang. Oleh sebab itu merumuskan bahwa Alkitab adalah Firman Allah merupakan rumusan yang lebih mudah dipahami dan lebih tepat guna terwujudnya suatu dogma yang sederhana tetapi juga tetap terbuka dan dapat menjawab semua bentuk sanggahan bahwa Alkitab berisi tulisan yang diilhamkan Allah. 2 Timotius 3:16 menyatakan :Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

III. ANTARA PEMAHAMAN IMAN GPIB DENGAN PEMAHAMAN BERSAMA HUBUNGAN A IMAN KRISTEN ( PBIK ).

Hubungan antara keduanya adalah hubungan yang saling melengkapi, karena keduanya bersifat open ended dan tidak dapat mengklaim posisi absolut satu atas lainnya demi alasan apapun.Tetapi tentu Anda mencatat juga bahwa pokok-pokok dalam Pemahaman Iman GPIB hampir sama dengan apa yang tercantum dalam Pemahaman Bersama Iman Kristen. Ada juga yang menuduh bahwa Rumus Pemahaman Iman GPIB diambil dari sebuah Sidang Raya World Alliance of Reformed Churches di Ottawa, Kanada. Saya yakin bahwa Pemahaman Iman GPIB jelas berbeda isi, meskipun berpokok sama dengan PBIK. Hanya rumusnya memang sangat kental-teologis dan berupa definisi ilmiah atau teologis yang terasa berat untuk proses pemahaman langsung oleh orang yang tidak mempunyai pengetahuan teologis yang cukup. Tudingannya adalah terlalu ilmiah, tidak berbahasa sehari-hari. Ini bukan sekedar mampu memaparkan Pemahaman Iman GPIB dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi lebih dari itu, mampu memaparkannya dalam bahasa yang sederhana. Bagaimanapun kita mengupayakan penyederhanaanya, kita pasti masih akan menemui kesulitan untuk memaparkannya sangat bebas dari sandi-sandi teologis, dogmatis dan hermeneutis. Pemaparan berupa dalil memang mempunyai konsekwensi yang demikian. Apakah kita mau memaparkannya dalam bentuk prosa? Atau dalam bentuk puisi? Bagi PGI sudah waktunya membaharui PBIK. Pembiaran bagi beberapa Gereja untuk hanya bertahan pada pahamnya tentang suatu pokok ajaran atau dogma telah membuktikan liberalisasi dalam penafsiran Alkitab, kotbah dan cara pandang terhadap Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Dari Teologi Sukses sampai Minyak Urapan bahwa kekuatan magis dari Perjamuan Kudus (paham tentang Transsubstansiasi Roma Katolik yang berakibat paham Kristus bhadir di atas altar). Yang terakhir ini sangat diterima banyak orang yang mendambakan kesembuhan, bebas dari kecelakaan dan bahkan dijamin akan berhasil dalam apapun yang dilakukannya. Pengudusan dan komersialisasi rupanya disandingkan . Secara teologis Alkitabiah kita harus menolak munculnya kembali ajaran transubstansiasi tersebut.

IV. PEMAHAMAN IMAN GPIB MEMASUKI ABAD KE-21, PERMULAAN MILENIUM III.

Bukan saja rumusan yang mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam abad baru tetapi memiliki SDM Pejabat Gereja dan Warga Gereja yang memang telah disiapkan untuk menghadapi dan bahkan turut mengarahkan dan mengisi masa depan itu dengan tindakan (actions) Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan.Sangat penting untuk memiliki visi jernih dan misi yang membangun suatu masa depan yang berpengharapan. Kita baru saja menerima kabar trentang banjir bandang di wilayah hutan Gunung Leuser, Sumut yang menyebabkan jatuhnya ratusan Korban. Jiwa dan tidak terhitung kerugian alam dan harta milik manusia. Namun Dalam lagu Kebangsaan kita Indonesia Raya bahwa Indonesia adalah tanah air kita menjadi sangat terbatas sebab akan selalu dibatasi oleh kepentingan yang tidak berpihak kepada rakyat Indonesia yang atas namanya Proklamasi Kemerekaan dinyatakan oleh Dwi Tunggal Bapak DR Ir. Soekarno-Bapak Drs (Ek) Mohammad Hatta, 17 Agustus 1945. Tanah dan air menjadi bencana. Harga tanah yang cenderung selalu meningkat akan meninggalkan rakyat bangsa ini makin tersingkir bahkan dari tanah yang diwarisinya. Bagi GPIB tanah merupakan asset yang harus dikelola dengan benar , menurut Hukum dan secara bertanggungjawab serta sangat transparan. Akuntansi dalam bidang in mutlak diperlukan. Kita berhadapan dengan pelbagai bencana dari bencana alam, bencana buatan manusia seperti di Sidoarjo, kini bahkan di Bandung, dan pelbagai kehancuran lingkungan bahkan kematian akibat bencana dan peperangan di mana-mana. Masalah Lapindo, Sidoarjo hanya merupakan fenomena dari gunung lumpur atau mud volcano. Kita berhadapan dengan bencana peradaban, kemanusiaan, dan kebudayaan yang terimbas pada kehidupan bersama. Juga pasti berimbas pada kesenian dan penggunaan ilmu dan teknologi yang kurang berpihak kepada kepentingan manusia dan integritas lingkungan. Kita berhadapan dengan globalisasi dan juga perubahan menerus dalam, bidang Ilmu dan Teknologi, Revisi Hukum Pidana dan Perdata serta upaya Pensyariatan dalam Bidang Pendidikan sampai pada Hukum rupanya akan terus berlangsung sehingga membawa kita kepada suatu masa depan yang begitu terbuka sehingga kita sulit memperkirakan posisi sebagai bangsa dan umat Tuhan di dunia, kecuali berpegang pada pernyatan Tuhan Yesus Kristus:”Aku menyertai kamu sampai akhir zaman”And surely I am with you always , to the very end , sunteleias tou aioonos.Until the completion of the Age”. Kita telah melakukan langkah pertama. Mari kita teruskan langkah bagi penyempurnaan Pemahaman Iman GPIB di tengah tantangan zaman , suatu pemahaman yang hidup dan memiliki vitalitas atau kekuatan untuk melihat semua perkara secara baru, melakukan reformasi atas diri dan dunianya. Terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus, Kepala Gereja , yang akan terus membimbing GPIB menjawab tantangan zaman dan memberitakan Berita Kelepasan, Pembebasan yaitu Berita Injil Tuhan kita Yesus Kristus itu. Sekian.Jakarta,

September1997,
Agustus 2002. (revised)
Nopember 2003. (revised)
Pdt. Hallie Jonathans
Pendeta GPIB