Berita

Panggilan Yesaya

27 October 2010, 10:13

Yesaya 6:1-8.

Oleh : Pdt.Hallie Jonathans.

Anda telah ratusan kali mungkin mendengar khotbah tentang panggilan Yesaya. Nabi Besar itu mengalami panggilan yang unik yang tak ada duanya. Jadi bukan suatu pangilan umum tetapi khusus.

Pasti tidak banyak khotbah yang menuliskan tentang pemerintah saat itu tatkala Yesaya mendapatkan panggilannya. Kita semua harus kembali ke 2 Raja-raja 26:18-21, di mana tertulis keterangan tentang bagaimana Raja Uzia mati. Sebenarnya Raja Uzia memerintah dengan baik dan terbilang sukses. Jasanya besar. Ia berperang melawan Filistin dan membangun daerah-daerah bahkan mantan wilayah Filistin. Ia memasukkan pajak yang besar atau menghasilkan pendapatan negara yang sungguh hebat dari orang Amon. Nama Raja Uzia terkenal sampai di mesir. Saya teringat tatkala Indonesia menyelenggarakan Konperensi Asia-Afrika tahun 1955, betapa terkenalnya bangsa dan Negara Indonesia serta Presiden Pertama Republik Indonesia, DR. Ir.Soekarno. Uzia adalah juga raja yang memberikan solusi sumber air kepada rakyatnya. Banyak sumur digalinya untuk memberi minum ternak Israel yang banyak. Di samping mengurus pertanahan, ia ahli pertahanan juga dan berhasil membangun pertahanan negerinya. Bidang pertanian menguntungkan para petani dan penjaga kebun anggur. Mudah terbaca, Uzia adalah raja yang suka pertanian. Saya jadi teringat tatkala Dr Alvin Toffler yang berbicara tentang Gelombang-gelombang Pertama dan Kedua, Revolusi Pertanian dan Revolusi Industri yang telah dilalui bangsa-bangsa dunia. Harus melalui Zaman Pertanian lalu masuk ke zaman Industri. Pemerintah Indonesia tidak berpihak pada pertanian dalam memilih sequence yang harus dilaluinya. Kita malah melangkah dalam derap Industri yang ternyata sekarang banyak menuju kematiannya. Kita hanya menjadi tukang jahitnya, sebab semua lainnya kita tergantung pada kekuatan asing. Dari das kapital atau capital sampai para ahli manajemennya serta tenaga ahli lainnya. Drs Kwik Kian Gie berkata barang-barang Indonesia sudah dibuat di China dan dijual di sana, dengan merk dan bentuk yang sama.

Kita mencatat kondisi Papua yang terus berteriak bagi perlakuan adil. Mereka tahu tanahnya kaya raya, tetapi bagaimana dengan pendidikan, kesehatan dan kesejahtera -an mereka? Entah Partai mana lagi yang masih mau melihat kepada saudara-saudara kita di ujung timur Indonesia. Saatnya GPIB mendoakan baik GKI Papua maupun GPI Papua. Saatnya bersekutu dalam GPI untuk mencapai Gereja-gereja Bersaudara. Saatnya mendoakan rakyat di sana. Bahkan mendoakan rakyat Indonesia seluruhnya.

Jadi betapa hebatnya kalau kita menyukai pertanian. Saya jadi ingat tanah Depok. Dahulu ada hutannya, ada perikanan darat, ada banyak sawah dan empang, peternakan babi, perusahaan susu sapi, ada Setu Lio, sekarang hanya menjadi lautan perumnas dan pengadaan kompleks rumah mewah yang merobah suatu tanah pertanian yang luas menjadi ladang perumahan yang tetap saja memperlihatkan kemiskinan di satu pihak dan kemegahan di lain pihak. Pasti banyak kemajuannya. Sangat modern dan menjadi megah. Tetapi tidak menjawab persoalan kemiskinan dan kesehatan. Bayangkan korupsi di bidang terakhir tadi milyaran rupiah. Hukumannya hanya satu tahun penjara. Uzia mempunyai tentara yang sanggup berperang dan pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. Wah dapat dibayangkan pasti musuh berpikir keras sebelum berani menyentuh wilayah Raja Uzia. Tetapi Uzia juga mempunyai semacam cakrabhirawalah yang keren. Alutsista atau alat-alat utama sistim pertahanan yang hebat. Tak lupa Uzia adalah raja yang selain memperoleh ketenaran dan hormat, juga mendapatkan pertolongan yang ajaib sehingga menjadi kuat. Dari siapa? Dari Tuhan. Jadi, Bapak Presiden yath, pertolongan kepada Bapak akan datang dari Tuhan juga. Apa kurangnya Raja Uzia? Ia tidak dapat mengakhiri pemerintahannya dengan sempurna. Tatkala ia mau mengambil alih tugas-tugas Imam Besar. Hari ini kita melihat demo para mahasiswa dan kekuatan lainnya memperingati dan merespon kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ada bagian yang disampaikan dengan sungguh-sungguh, tetapi ada juga bagian yang hanya mengemukakan anarki dan contoh perilaku kemarahan dan kekerasan yang hebat. Raja Uzia mati karena terserang penyakit kusta. Partai Pemenang Pemilu lalu menjamin pemerintahan Presiden SBY sampai akhir. Sangat benar apabila kita mendoakan dan bersabar mengenai realisasi pemerintahan beliau. Namun kemiskinan merupakan persoalan terbesar. Lalu kesehatan dan pendidikan. Baru ksejahteraan. Setelah raja Uzia wafat datanglah panggilan kepada yesaya. Uzia memang berhasil tetapi banyak orang Israel yang tidak lagi menyembah Yahweh. Yesaya mendapatkan tugas sebagai Penyampai Berita kepada bangsa yang telah meninggalkan Tuhan. Gambaran tentang kemuliaan Tuhan di Bait Suci sudah amat sukar dipahami oleh manusia modern sekarang ini. Mungkin melihat ice smoke meliputi Achmad Albar atau Ruth Sahanaya amat dipahami dan membuahkan pemujaan kepada idola-idola zaman ini. Beda zamanlah semua itu. Sukar sekali menerima gambaran tentang kekudusan Allah sedemikian, apalagi menyambut serafim yang ternyata semuanya bergender pria. Jadi malaikat itu gendernya pria, bukan perempuan. Ambillah inti beritanya, kemuliaan Allah. Maka mata manusia seharusnya tidak tahan melihat kemuliaan sedemikian. Bahkan manusia dapat mati begitu memandang kemuliaan Allah itu. Bukan hanya kemuliaan Tuhan tetapi juga kebesaran Tuhan dan kekuasaan atau kekuatan Tuhan. Itukah yang dilupakan oleh Raja Uzia? Itukah sebabnya maka karena tak melihat semua kemuliaan dan kekuatan Allah itu Israel mengalami kemunduran dan kematian iman yang parah? Mau kita lihat prosentasi statistiknya? Dalam ayat 13 dikatakan hanya tinggal sepersepuluh rakyatnya yang tinggal setia dan percaya kepada Yahweh. Saya teringat keputusan tentang persembahan GPIB. Dilakukan perkenalan terhadap Persembahan Persepulu -han. Ini cukup sukar sebab kita terbiasa pada PTB, persembahan yang nilainya tetap dan tidak mengalami pertambahan sesuai inflasi. GPIB kini hanya tergantung pada perpuluhan. Bagi seorang pensiunan perpuluhannya hanya seratus ribu rupiah. Kalau di zaman Yesaya pemerintahan Raja Yotam dapat mengandalkan sepersepuluh penduduk negeri yang setia, yang kita sebut The Remnant , sutau tunggul yang tetap berdiri, dan dari tunggulnya itu keluar tunas yang kudus. Inilah pemercaya yang setia melewati semua zaman ketidak percayaan. Sepersepuluh penduduk negeri yang setia kepada Tuhan adalah gambaran mungkin dari jumlah Jemaat GPIB yang setia memberikan Persepuluhannya kepada Majelis Sinode GPIB. Tetapi ini tidak cukup.

Semua Jemaat kini harus memberikan pesepuluhannya kepada pekerjaan Tuhan dalam GPIB serta sebagai Sisa Saldo Surplus dalam Jemaat pada akhir tahun anggaran. Masih banyak ketakutan untuk melakukannya. Majelis Sinode dapat saja meminta kepada Jemaat-jemaat surplus kuat dan menengah sejumlah uang yang seharusnya diserahkan kepada Majelis Sinode sebagai bukti berGPIB dan bukan memperlakukan GPIB sebagai Gereja Franchise. Jemaat numpang merk dan numpang menerima presbiter pendeta dari Majelis Sinode GPIB. “Capital Cutting” seperti itu seharusnya dapat dilakukan. Kepada yang banyak dipercayakan akan banyak dituntut pula. Agar Majelis Sinode dapat melalui suatu neraca yang sehat dan tidak melulu harus menjalan anggaran defisiti betulan defisit.

“Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya”. Serafim , semacam malaikat yang namanya berasal dari kata “membakar”. Demikianlah para duta Allah itu melakukan tugasnya. Pembakaran berarti pemurnian. Di tengah kemuduran rohani dan moral yang hebat kita melihat Tuhan bertindak menghadirkan kekudusan-Nya yang membakar dan memurnikan. Dus , itu berarti umat harus melalui penghakiman juga. Termasuk yang sepersepuluh jumlah itu, agar masuk ke dalam kelompok Sepersepuluh itu. Yesaya melihat kemuliaan Tuhan. Itu penting. Sebab keadaan umat sudah amat genting. Murka Allah tak dapat ditolak. Kekudusan Umat harus terwujud. Kekudusan Allah berarti terwujudnya kesempurnaan moral, kemurnian moral, serta penjauhan diri dari segala bentuk dosa. Kekudusan Allah sedemikian itulah yang harus kita temukan dalam kehidupan bergereja dan berjemaat. Sekali lagi, kita harus menemukan kekudusan Allah dalam bentuk pertobatan moral kita, juga pertobatan spiritual kita.

Segala permasalahan yang multi kompleks itu dapat saja menghimpit kita. Gaji atau pensiun yang berada di bawah Upah Minimum Kota dapat juga membebani kita atau mematahkan kita. Tetapi Tuhan datang dengan pengampunan-Nya. Dengan banyak lagi himpitran dalam bidang politik, ekonomi, sosial dll kita makin terhimpit. Tetapi tugas kita bukan menangisi semua kegagalan atau kekurangan kita. Tugas kita adalah mendapatkan gambaran yang sebenarnya tentang Allah dan kekudusan-Nya. Bukan dalam artian ritual lagi. Tetapi dalam artian pembangunan yang berkelanjutan dalam bidang sosial , politik, ekonomi, keadilan dan kesejahteraan dll. Allah di tempat yang tinggi dan Yang adalah Kudus tengah memperhatikan kita dengan setia.

Bagaimana kita memurnikan diri di hadapan Allah? Melalui doa dan pujian kepada_nya. Melalui pelayan kita kepada-Nya. Majelis Sinode XIX dan BPPG yang baru terpilih tentu terpanggil melayani Dia, Tuhan Kepala Gereja. Bahkan seluruh anggota sidi terdaftar dalam Jemaat terpanggil untuk melayani Tuhan.

Bagimana reaksi Yesaya terhadap pagelaran dari kekudusan Allah itu? Yesaya berkata:”Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” Selanjutnya seorang Seraf datang kepada Yesaya dan dengan tangannya ada bara. Bara itu diambil dengan sepit dari atas mezbah. Wah pikiran saya kembali lagi ke suatu Sidang RayaDGI yang di saat itu Sekum DGI amat flamboyan adalah Pdt Dr S.A.E Nababan. Beliau mempersilahkan para utusan ke SR entah di Salatiga atau Sidang MPL di Bandung untuk tampil menceritakan lelucon. Lelucon-lelucon itu berkembang menjadi cerita jorok. Bayangkan saja siapa yang menceritakannya. Akhirnya Pdt Dr. S.A.E Nababan berkata, kita harus berhenti dari kecenderungan sedemikian sebab terasa memalukan. Tuhan ampuni kami. Juga ampuni cerita-cerita lucu yang bahkan dikomentari oleh para Ibu Dep. Pelkes dan Ibu Vonny Sumampouw sebagai jorok. Lain kali, Dep Litbang harus membuat Perlombaan Lelucon Gereja yang tidak jorok. Yang intellegent. Yang tak usah tampil dan terutarakan vulgar. Tambah lagi, minta beliau-beliau bernyanyi yang indah, yang baik dalam bahasa Indonesia, Daerah, Asing yang amat indah. Bayangkan Lomba Penulisan Khotbah peminatnya hanya beberapa orang.

Pikiran kita harus dikuduskan. Rupanya kita semua memerlukan bara pembakar bibir kita. Bukan hanya dalam bergereja, tetapi dalam bermasyarakat, berdemokrasi bahkan dalam berdemonstrasi. Bibir kudus juga dalam berinterupsi, dalam meminta pimpinan sidang menjamin pembahasan permasalahan dalam paripurna berikutnya. Oh, betapa sulitnya menjaga lidah dan bibir ini. Bukankah organ tubuh yang penting ini layak menerima sentuhan kekudusan Allah untuk memaparkan suatu langkah membangun gereja dan masyarakat? Oh, betapa ngeri mendengar cacian terhadap Presiden atau terhadap Para Polisi dan Militer. Mungkin perlu ada mata kuliah Demo Santun dan Beradab.

Bukan bara yang menguduskan Yesaya, tetapi Yahweh sendirilah yang menguduskannya. Tatkala Tuhan bertanya:”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk aku?” Maka menyahutlah Yesaya:”Ini aku. Utuslah aku”. Maka terbayang jelas bagi saya, GPIB mempunyai Majelis Sinode XIX dan BPPG yang baru. Para Fungsionarisnya pasti juga sudah berkata:”Ini aku, utuslah aku”. Mereka akan berlaku setia melayani Tuhan, senantiasa tersedia melayani dan tidak berada dalam kegiatan bukan pelayanan sebagai fungsionaris MS dan BPPG. Tidak membangun hal lain selain membangun jemaat dan Gereja Tuhan ini berdasarkan Alkitab, Pengakuan-Pengakuan Iman Oikoumenis, Pemahaman Iman GPIB, PKUPPG dan Tata Gereja GPIB. Mereka akan setia terus menghadiri Sidang-sidang Majelis Sinode. Mereka adalah Utusan-utusan Pembawa Kabar Gembira atau The Ambassadors of God bagi Gereja dan Indonesia dan Dunia.

Selamat Melayani dengan rajin!. Amin.