(Pengkhotbah 5:7)
Oleh : Pdt Hallie Jonathans*
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Jemaat Tuhan, Maesa Rumoong Bawah Gereja GMIM di Minahasa Selatan yang berbahagia. Bahkan seluruh Masyarakat Sulawesi Utara yang dikasihi Tuhan.
Hari ini, 11 Juli 2010 seluruh Minahasa Selatan berbahagia, sebab merayakan Hari Pengucapan Syukur serentak dan gemanya kita rasakan di sini. Kita juga bersyukur bahwa seluruh Propinsi Sulawesi Utara mempersiapkan diri bagi Pemilukada Sulut yang akan dilakukan pada tanggal 03 Agustus 2010.
Ada lagi satu alasan mengapa kita bersyukur dan bergembira hari ini. Gereja Protstan di Indonesia atau GPI yang terdiri dari 12 Gereja Bagian Mandiri , GMIM (Minahasa), GPM, (Maluku),GMIT, GPIB (Indonesia bagian Barat) ,), GPID (Donggala) , GPIBT (Buol Toli-Toli), GPIG (Gorontalo, GKLB (Luwuk Banggai, ) GPI Papua, IECC (Indonesian Ecumenical Christian Church, USA, GPIBK (Banggai Kepulauan), GERMITA (Talaud,), yang akan menyelenggarakan Sidang Sinode Am ke 12 Gereja Bagian Mandiri GPI didahului oleh Sidang Majelis Sinode Am GPI dari tanggal 12-18 Juli 2010 di Gereja GMIM Sentrum Syaloom, Amurang. Kita mengucap syukur atas penerimaan Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) yang diketuai oleh Ketua BPS GMIM, Pdt Piet M Tampi, S.Th, M.Si bersama Sekretaris BPS, Pdt. Arthur R. Rumengan, M.Teol, serta seluruh Anggota BPS GMIM, serta Panitia Pelaksana SSA/SMSA GPI yang diketuai oleh Pendeta Janny Ch. Rende, S.Th. Sekertaris adalah Pnt Alvi J.Ulaan, ST, sedangkan Bendahara adalah Pnt. Hetty R.Luntungan-Mawuntu, S.Pd, dan seluruh Anggota Panitia Pelaksana serta Jemaat-jemaat serta Warga Jemaat di Amurang Satu dan Amurang Dua di mana kami peserta berlive-in, serta bergeraja. Sidang SSA dan SMSA akan dipimpin oleh Ketua Umum BPHSA, Bapak Pdt. Dr. Samuel B.Hakh, serta Sekertaris Persidangan adalah Sekum BPHSA, Pdt. Ny.L. Tamuntuan –Makisanti, M.Si. Tema SSA adalah :”Tuhan itu baik kepada semua orang”(Maz.145:9a). Sub Temanya :”Bersama-sama memelihara Kasih Persaudaraan, dalam mewujudkan Masyarakat Majemuk Indonesia yang Adil dan Sejahtera”.
Perikop yang ditentukan oleh GMIM untuk dikhotbahkan adalah dari Pengkhotbah 5:10-19. Suatu perikop yang amat tepat sebab memasalahkan kemiskinan, hukum dan keadilan. Hal-hal ini adalah hal yang masih terabaikan. Bukan saja pada skala nasional tetapi juga regional dan lokal. Bukannya tak ada usaha dalam bidang pemberantasan kemiskinan dan penegakkan hukum dan penyelenggaraan keadilan, tetapi kenyataannya adalah bahwa dalam bidang tersebut terasa kelemahan yang sangat.
Di tengah persiapan Pemilukada Sulut ini tentu Sulut akan berkata, banyak kemajuan yang telah dicapai. Lihat saja daftar panjang yang dikeluarkan oleh Gubernur Sulut, Drs. Sinyo Harry Sarundajang. Dari ketahanan daerah sampai ketahanan pangan, dari pembangunan pertanian sampai pemberdayaan kekuatan kelautan, baik pada skala nasional dan bahkan merambah ke penyaksian secara internasional, semua upaya itu amat menakjubkan. Bapak Gubernur yang sudah berhasil membangun Sulut ingin meneruskan term pemerintahannya melalui Pemilukada Sulut bersama Cawagub, Djauhari Kansil. Cagub ini berkata Lihatlah Hasilnya selama periode pemerintahan yang berlalu , bukankah Berhasil dan patut diteruskan? Moral, Etika, Pendidikan Agama, Kerkunan Antar Umat Beragama, serta Harmoni antara Masyarakat dengan Pemerintah harus terus mendapatkan perhatian. Semacam Character Building.
Bagi para Peserta Persidangan SSA dan SMSA juga nampak menarik melihat pencalonan Bapak Ramoy Markus Luntungan bersama Cawagubnya, Hamdi Paputungan. Konsep Budaya yang amat kaya, pemekaran Bolmong, serta pelbagai perekat /kohesi nasional dan daerah dikemukakan beliau dengan apik. Sulut yang salut sulit disulut.
Cagub Stefanus Vreke Runtu bersama cawagubnya Marlina Moha Siahaan menunjukkan perhatian pada pembangunan melalui jalur pertanian, sumber daya lain, budaya, upaya makro dan mikro, tenaga kerja, bahkan kerajinan. Kekuatan rakyat, harus terpelihara dan dikelola atau digunakan dengan baik. Semua bagi kesejahteraan anak cucu. Pembangunan karakter kuat masyarakat Sulut menjadi perhatian apabila pasangan ini terpilih.
Cagub Elly Engelbert Lasut dan cawagubnya, Henny Wulur, nampak memiliki komitmen untuk meneruskan pembagunan Sulut secara komprehensip dan didasarkan kasih. Penekanan ini amat jelas dinyatakan oleh cawagub. Yang menarik juga adalah bahwa para Pendeta juga mendapatkan bagian dalam upaya penyuluhan dan bahkan konseling rohani tentu bersama dengan para psikolog dan lainnya.
Debat menarik antara Henny Wulur dan Stefanus Vreke Runtu, adalah tentang enceng gondok. Rupanya SVR tahu benar kelemahan produk enceng gondok yakni bahwa biata produksi teramat besar dibandingkan dengan harga yang didapatkan dalam pasar antar daerah atau inter-insuler.
Namun semua itu dilakukan dalam satu kerangka nasional, yakni NKRI. Dalam bingkai atau kerangka ini pembangunan Sulut memiliki makna bukan sekedar kekuatan regional tetapi suatu kohesi kekuatan nasional dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 lengkap dengan Amandemennya. Bahkan ketenaran Sulut sudah merambah ke Pasifik dan Internasional secara amat meyakinkan. Betapa indah masa depan yang ada di hadapan Sulut, betapa bahagianya NKRI , Rakyat , Bangsa Indonesia, betapa terbukti untuk kesekian kali Sulut tak perah dapat disulut oleh Teroris Lokal ataupun Impor, ketahanan pangan dan lainnya telah menunjukkan semua itu. Bapak Gubernur menyatakan bahwa angka inflasi telah 8.3% menjadi 2.3 % suatu prestasi hebat. Mungkin persoalan serius terasa pada kwalitas pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi yang harus sudah memastikan mutu exellent secara internasional secara luas. Pembangunan karakter kasih dan tanggungjawab bersama , solidaritas yang amat berkwalitas memang merupakan kebutuhan yang perlu mendapatkan perhatian untuk mendasari pembanguna material lainnya.
Mari kita doakan seluruh pelaksanaan Pemilukada Sulut agar dapat membuahkan hasil yang indah berdasarkan pilihan warga Sulut pada tanggal 03 Agustus 2010.
Kita sering mendengar korupsi berjemaah, artinya korupsi yang dilakukan dalam suatu mata rantai kekuasaan atas sumber daya terutama finansial dan apa yang terkait padanya. Pengkhotbah berkata, jangan heran apabila pengabaian atas kemiskinan, hukum dan keadilan berlaku, sebab pengabaian (yang menguntungkan satu atau beberapa pihak) dilakukan secara berjenjang juga. Namun Pengkhotbah sebenarnya hendak berkata dalam bahasa yang lebih langsung, bagaimanapun kuatnya mata rantai itu, tetapi ketahuilah bahwa Allah adalah Hakim yang tertinggi, Allah adalah Dia yang mengtasi segala sesuatu dan mengatasi semua orang, yah semua pejabat. Allahlah yang akan memberikan keputusan final (final verdiction) pada Hari Penghakiman itu.
Siapa mencintai uang, tidak akan puas dengan uang, never has money enough. Siapa mencinta kekayaan, tidak akan puas dengan penghasilannya. Artinya banyak harta tidak menjamin bahwa kehidupan kita akan bahagia, atau mempunayi arti. Bahkan tak dapat memberi arti pada hidup kita. Bayangkan saja, berlimpah harta tetapi moralnya amat rendah. Itu berarti bahwa kita tak akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Pertambahan harta kekayaan akan dibarengi dengan bertambahnya secara pasti orang-orang yang siap menghabiskan kekayaan itu dalam waktu yang amat singkat.
Pengkhotbah memberikan suatu bukti empiris dari kehidupan yang bekerja jujur. Buktinya orang jujur selalu enak tidurnya. Yah, setelah bekerja keras dengan jujur , ia enak tidur. Bandingkan dengan mereka yang tak dapat tidur sebab berusaha tidak secara jujur, amat korup, penipu dan culas. Mereka tak akan dapat tidur dengan penuh kedamaian. Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak, tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur. Kekayaan demikian menjadi kecelakaannya sendiri. Kekayaan dilanjutkan dalam kemalangan, lalu anak cucu tidak mendapatkan apapun. Kemiskinan mengancam bukan hanya diri tetapi anak –cucu kita .
Kalau Anda kaya, janganlah kekayaan itu memperhamba Anda. Janganlah hidup dalam ketakutan seakan kekayaan itu dapat sirna dalam sesaat saja. Memang dapat, apabila kita berjudi atau berspekulasi. Hasil korupsi pasti tidak langgeng. Memang tatkala kita mati, kita tak dapat membawa apapun serta kita. Namun apa yang kita tinggalkan bagi anak cucu atau sesama kita haruslah harta yang bernilai kekal, yang berharga,yang berkwalitas, memiliki harkat dan meneruskan martabat menjadi warisan yang diteruskan kepada anak-cucu dalam kehidupan yang terhormat dan sesuai dengan maskud Tuhan.
Dalam hal ini kita teringat akan apa yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 6:19-21. “Jangan kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar dan mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada”.
Sering kita bersikap dikhotomis paradoksal dalam memeiliki kekayaan dan melaksanakan kehidupan yang memuliakan Tuhan. Kita melihat harta kekayaan sebagai pemuas kehidupan tanpa batas. Sedangkan Tuhan mempunyai maksud dalam mempercayakan harta-Nya ke dalam tangan kita. Tugas kita adalah memajukan kehendak atau alasan Allah di bumi ini. Apa yang kita miliki adalah pemberian Tuhan bahkan milik Tuhan semuanya. Apa yang kita miliki pastilah juga memiliki arti dan maksud sosial untuk membantu orang lain. Kemampuan menikmati semua itu tergantung pada hubungan kita dengan Tuhan. Hubungan tersebut haruslah hubungan yang benar dengan Tuhan. Apabila kita terikat pada Allah, dan Kerajaan-Nya, maka Allah akan membuat kita dapat menikmati pemberian-pemberian material-Nya kepada kita. Hidup panjang juga tidak menjamin bahwa seseorang dapat menikmati semua pemberian Tuhan itu. Apakah kita hidup bagi Tuhan?
Bapak Gubernur , Bapak Drs. Sinyo Harry Sarundajang berkata korupsi adalah kejahatan yang luar biasa, adalah musuh kita yang harus kita binasakan atau kalahkan. Apakah kita masih berminat korupsi, baik korupsi uang, waktu, pikiran, mind set, kepentingan, pengelolaan bahkan penataan lingkungan yang hendak menghindarkan efek rumah kaca?
Apakah kita juga sanggup menghilangkan semua bentuk ketergantungan pada apa dan siapapun. Juga ketergantungan karena alasan adiktif yang berakibat pada kebinasaan tubuh kita sendiri.
Hari Pengucapan Syukur adalah Hari mengembalikan semua kelimpahan ini kepada Tuhan dalam bentuk persembahan, bahkan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itulah Ibadah kita yang sejati. Yang Reasonable. Sebab memang banyak ibadah yang tak masuk akal. Bahkan para koruptor sangat rajin beribadah. Juga rajin memberikan sumbangan besar.
Hari ini adalah Hari Penuaian, atau Sukacita Penuaian. Hari ini adalah Hari Solidaritas Sosial dengan orang miskin, Hari Berbagi di seluruh negeri. Berbagi sejahtera dan kebutuhan hidup. Hari Peduli pada Janda, Duda dan Yatim Piatu yang susah. Hari ini kita canangkan juga sebagai Hari Anti Korupsi. Hari Solidaritas Sosial Nasional. Inilah juga Hari Penegakkan Keadilan untuk semua. Hari Akuntabilitas Sosial, Hari Perdamaian Sejati, bagi Bangsa , Sulut dan Dunia.
Dengan torehan kehijauan sebagai tema mengurangi dan menekan Global Warming, menjadikan dunia dengan lingkungan dan atmosfir yang sejuk, serta menjamin terjadinya siklus musim yang teratur sehingga jelas saat mana menanam dan saat mana menuai.
Hari Pengucapan Syukur ini juga adalah Hari (Berjanji) Berbuah Lebat, Berbagi Hasil Kerja berdasarkan kejujuran dan kebenaran. Memenuhi Sila Ke 5 dari Pancasila, Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat di Sulut dan Indonesia.
Selamat Memasuki Pemilukada Sulut.
Tuhan memberkati Sulawesi Utara bahkan seluruh Indonesia. Amin.
*Pdt.Hallie Jonathans adalah Ketua Badan Penasehat Sinode Am GPI, 2010-2015.
