Berita

Membangun Masa Depan Dengan Ketulusan, Kejujuran dan Kedamaian

10 February 2009, 14:11

Membangun Masa Depan Dengan Ketulusan, Kejujuran dan Kedamaian ;
Memahami Mazmur 37:37

Teks “Perhatikanlah orang yang tulus, dan lihatlah orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan” (TB – LAI)

Pendahuluan Di awal tahun 2000 yang lalu ada sebuah seminar yang diadakan oleh Majalah ”Basis” di Jogjakarta, dan temanya adalah ketulusan, yaitu salah satu kebajikan yang terdapat dalam judul tema kita (bahan seminar itu kemudian dibukukan dan terdapat dalam B. Kieser (cd), Tulus seperti Merpati dan cerdik seperti Ular : Agama dan tantangan ketulusan, Jogjakarta : Kanisius, 2001. Dalam seminar tersebut yang dihadiri oleh berbagai pihak dari agama Kristen, Katolik dan Islam disetujui bahwa hubungan antar agama dan antar manusia seharusnyalah didasarkan atas ketulusan, kejujuran dan kedamaian. Tetapi masalahnya adalah bahwa bagi pihak yang satu, pengertian mengenai ketulusan, kejujuran dan kedamaian ternyata tidak sama bagi pihak yang lain! Contohnya mengenai ketulusan. Kalau saya berbuat baik kepada orang lain, apakah saya yakin bahwa kebaikan saya kepada orang lain itu, yang bisa berwujud pengorbanan diri sekalipun, dilakukan tanpa pamrih, tanpa memperhitungkan keuntungan yang lebih besar yang akan di dapat nanti di masa depan? Bagi orang yang satu keuntungan dimasa depan itu adalah ”buah” kebaikan. Siapa yang berbuat baik, akan mendapat balasan yang baik pula di masa depan. Tetapi bagi orang yang lain, keuntungan di masa depan itu adalah pamrih, suatu desain yang direncanakan cermat dan penuh perhitungan! Kalau kita mendasarkan nilai-nilai diatas pada hati nurani, maka hal itupun dapat dipertanyakan, sebab bagi ilmu-ilmu sosial yang berangkat dari strukturalisme, hati nuranipun merupakan sebuah konstruk, sederhananya, sebuah rekayasa. Hal itu tidak menyangkali adanya hati nurani yang benar, tetapi orang perlu waspada dan sungguh-sungguh bisa membedakan diantara hati nurani yang benar dan hati nurani yang palsu. Kalau pada seseorang sejak kecil ditanamkan bahwa dia punya musuh bebuyutan dan musuh bebuyutan itu harus dihancurkan, maka setelah dia besar, hati nuraninya akan gelisah kalau dia tahu ada musuh bebuyutan tetapi tidak atau belum dihancurkan. Di dalam buku H. Clinebell, Tipe-Tipe Dasar Pendamping dan Konseling Pastoral (Jakarta : BPK GM-Kanisius, 2002, q.210) ada contoh mengenai dokter-dokter Jerman Nazi yang mengalami semacam rasa bersalah, bukan karena telah menyuntik mati orang Yahudi, tetapi justru karena tidak menyuntik mati orang Yahudi! Inilah contoh dari hati nurani yang palsu. Mungkin contoh ini terlalu ekstrim dan tidak berlaku umum, tetapi dalam kadar yang lebih ringan toh biasanya ada dalam diri kita semua, terutama kalau kita bergaul dengan orang lain yang tidak sama dengan kita, apalagi kalau tidak sama agamanya dengan kita. Berapa kali kita mendengar orang-orang muda Kristen yang merasa bersalah, oleh karena ibunya, bapaknya atau kerabatnya yang lain, ”masih kafir….” Mungkin dia merasa keinginannya agar ibu atau bapaknya menjadi Kristen itu adalah keinginan yang tulus, tetapi bagi bapaknya, ibunya atau kerabatnya yang lain mungkin keinginan itu tidak dianggap tulus, bahkan bisa saja mereka merasa anak mereka yang sudah masuk Kristen itu tidak tulus lagi. Kiranya penjelasan pendahuluan ini sudah memadai untuk memperlihatkan bahwa kita tidak bisa berbicara mengenai ketulusan, kejujuran dan kedamaian ataupun mengenai nilai-nilai atau kebajikan-kebajikan lainnya secara abstrak atau lepas dari konteks tersebut dan berusaha bahkan bergumul supaya kita pada akhirnya dapat hidup dengan sungguh tulus, sungguh jujur dan sungguh bersemangat damai.

Konteks Mazmur 37

A. Konteks yang mendahului

Yang mencolok dalam konteks yang mendahului ini adalah rujukan ke kadar emosi. Pertama-tama disebutkan mengenai kemarahan 4x orang dihimbau supaya ”Jangan Marah” (ayat 1, 7, 8 [2x]) dan supaya meninggalkan ”panas hati.” Kemudian 2x disebutkan mengenai emosi yang berlawanan, yaitu ”bergembiralah” (ayat 4, 11. Bahasa Ibraninya ta’anog, yang juga mengandung makna ”bergairah.” Jadi bergembira disini dilihat secara dinamis sebagai kegembiraan yang menggairahkan). Pembaca Mazmur 37 dihimbau supaya jangan marah dan jangan panas hati terhadap orang yang berbuat jahat dan curang. Dalam ayat 1 ”jangan marah” diparalelkan dengan ”jangan iri hati.” Jadi kemarahan ini bisa diartikan sebagai kemarahan yang timbul akibat adanya kejahatan dan kecurangan. Kemarahan disini timbul sebagai hasil dari kesadaran akan keadilan. Rasa keadilan yang terusik oleh karena adanya kejahatan dan kecurangan ini menyebabkan kemarahan. Bagi kita perasaan marah seperti ini tentunya dianggap positif. Kalau begitu mengapa orang dihimbau supaya jangan marah, dan supaya kemarahan digantikan dengan kegembiraan? Untuk memahami hal ini kita perlu memperhatikan paralel ”jangan marah” dengan ”jangan iri hati.” Ada sesuatu yang terjadi pada orang lain, yang menyebabkan saya bisa marah, yaitu kesuksesan yang ada pada orang lain itu, yang tidak saya dapatkan. Padahal sebenarnya kalau mengandalkan pada kemampuan saya dan dia, sebenarnya tidak ada yang kurang pada saya dibandingkan dengan dia. Bahkan bisa saja dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan saya. Kalau begitu mengapa dia sukses sedangkan saya tidak? Kemarahan ini bisa ditujukan kepada orang yang sukses tadi, tetapi bisa juga kepada Tuhan, yang kok sepertinya membiarkan saja hal yang tidak adil ini terjadi. Kalau marahnya ditujukan kepada Tuhan, maka akibatnya bisa berbeda dengan akibat yang kita lihat diatas. Bisa saja dia lalu memutuskan untuk berhenti berperilaku baik. Kalau berbuat baik tidak menjadikan seseorang menjadi sukses dan berhasil, jalan keluarnya ya, jadi jahat dan curang! Orang yang menjadi sasaran kemarahan ini adalah orang yang ”berbuat curang” (ayat 1), orang berhasil dalam hidupnya karena melakukan tipu daya (ayat 7), ”orang yang berbuat jahat” (ayat 1, 9) dan ”orang fasik.” Istilah ”orang fasik” (Ibraninya resya’im) ini paling banyak bertebaran dalam Mazmur 37, sampai 14x. Jadi orang fasik dipertentangkan dengan orang yang benar atau dengan orang yang jujur, tulus dan suka damai. Orang fasik ini adalah orang yang sukses dan berhasil dalam hidupnya oleh karena melakukan kecurangan, bukan karena ia berjuang dengan damai, jujur dan tulus dalam hidupnya. Orang benar (Ibraninya tasidiqim) tidak berlaku seperti itu, tetapi pemazmur disini justru mau mengingatkan orang benar agar jangan mau seperti orang fasik. Dan godaan untuk menjadi orang-orang fasik itu amat besar, justru karena mereka nampak secara konkret dan real sebagai orang sukses dan orang berhasil. Padahal orang benar, jujur, tulus dan suka damai, justru nampak seperti orang gagal dan tidak berhasil dalam hidupnya. Pemazmur memperlihatkan bahwa situasi orang fasik yang serba positif itu semu adanya dan bersifat sementara. Mereka segera lisut dan layu (ayat 2), mereka akan segera dilenyapkan (ayat 9. 10, 28, 34, 38) dan mereka akan binasa (ayat 20). Daripada marah orang dianjurkan bergembira atau berdiam diri (ayat 7). Hal ini tidak berarti bahwa orang benar harus pasif, tetapi justru supaya sadar bahwa anggapannya Tuhan tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi ketidakadilan merupakan anggapan yang tidak benar. Tuhan justru akan bertindak dan mematahkan lengan orang-orang fasik (ayat 17). Tuhan justru sedang ”menertawakan” orang fasik, sebab harinya sudah dekat (ayat 13. dua kali di dalam kitab Mazmur kita membaca mengenai emosi Tuhan, yang menertawakan orang fasik, yaitu ayat 13 dan Mazmur 2:4). Orang benar dihimbau supaya kembali percaya kepada Tuhan, yang akan bertindak menjalankan keadilan di dunia ini. Ia dihimbau supaya menyerahkan diri kepada Tuhan dan percaya kepadaNya. Biar keadaan diri sekarang tidak menggembirakan, tidak memberi tanda akan berhasil, tidak usah mengambil langkah seperti orang fasik, sebab situasi akan berubah. Bukan orang fasik yang akan mewarisi negeri tetapi orang yang rendah hati dan benar (ayat 11, 29). Situasi yang digambarkan oleh pemazmur ini bukanlah masa depan yang tidak ada hubungannya dengan hidup sehari-hari manusia di dalam lingkungan hidupnya atau ”negeri”-nya. Meskipun kelihatannya ”negeri” dikuasai oleh orang fasik, kekuasaan itu tidak akan berlangsung lama. Juga menarik digambarkan dalam Mazmur 37 bahwa orang benar tidak hanya dihimbau supaya jangan meniru langkah orang fasik, tetapi juga bahwa orang tulus, jujur dan suka damai di intimidasi oleh orang fasik, baik secara kasar maupun secara halus. Bukan hanya orang yang benar yang marah terhadap orang fasik, tetapi orang fasik juga marah kepada orang yang benar. Jadi dimana ada orang yang benar dan orang fasik, atau dimana ada orang yang menganggap diri orang yang benar dan yang lain orang fasik, disitu selalu ada suasana konflik dan tidak damai. Dalam ayat-ayat 14-15 digambarkan bagaimana orang fasik mengangkat senjata terhadap ”orang-orang sengsara dan orang-orang miskin” dan berniat membunuh ”orang-orang yang hidup jujur” (hal yang sama dapat dilihat dalam ayat 23). Kedengarannya tidak logis bahwa orang yang lemah malah diperangi. Tetapi sampai sekarang di seluruh dunia kita masih bisa melihat hal yang sebetulnya tidak logis tersebut. Tetapi tindakan orang fasik yang demikian akan berdampak seperti bumerang, karena pedang mereka akan menimpa diri mereka sendiri. Hal ini terjadi karena Tuhan membela orang-orang yang diserang tersebut. Orang fasik, yang di dalam ayat 20 disebut ”musuh” Tuhan, adalah indah, tetapi keindahannya adalah keindahan padang rumput yang bersifat sementara dan singkat. Tetapi orang benar yang di dalam ayat 18 disebut ”saleh” (demikian TB-LAI, tetapi Ibraninya adalah temimim dari kata tamim, utuh, sempurna.” Tsadiqim yang oleh TB-LAI diterjemahkan ”orang benar” dapat juga diterjemahkan ”orang saleh”) akan ditopang oleh Tuhan. Ia tidak akan malu pada waktu kecelakaan (ayat 19), ia akan kenyang pada hari-hari kelaparan (ayat 19), apabila ia jatuh, ia tidak akan tergeletak (ayat 24), ia tidak akan ditinggalkan dan keturunannya tidak akan menjadi peminta-minta (ayat 25). Didalam ayat 25 keyakinan ini diberikan sebagai sebuah kesaksian dari pemazmur : ”Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta rayat 25). Bahkan sebaliknya, ia dan cucunya menjadi berkat bagi orang lain. Orang benar yang berada dalam godaan untuk menjadi marah dan dengan demikian meninggalkan jalan yang benar dihimbau untuk menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik. Dasarnya adalah hukum Tuhan, dan Tuhan mencintai hukum. Orang benar adalah orang yang berkhidmat, dan perkataannya didasarkan atas hukum atau taurat Tuhan, yang adil adanya (ayat 31). Di atas kita melihat bahwa Mazmur 37 memuat dua emosi yang berlawanan, yaitu kemarahan dan kegembiraan. Sekarang kita dapat menghubungkan emosi berupa kegembiraan yang bergairah tadi dengan penghayatan terhadap taurat Tuhan. Orang benar menghayati taurat yang diyakininya sebagai pedoman keadilan. Biarpun di dalam dunia ini dia melihat pedoman yang berbeda bahkan berlawanan dengan taurat Tuhan, ia tetap berpegang dengan gembira pada taurat Tuhan ini. Orang fasik yang karena tipu dayanya memang memiliki banyak kekayaan, tetapi bagi orang yang benar, lebih baik mempunyai sedikit (ayat 16). Mempunyai sedikit akan membuat seseorang menjadi orang yang rendah hati atau berhati lembut (ayat 11 – Ibraninya anawim). Namun justru orang yang rendah hati atau berhati lembut akan mewarisi negeri. Ayat 11 ini dikutip oleh Yesus dalam Khotbah di Bukit, Matius 5:5, ”Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Pemazmur memberikan sebuah paradoks dalam ayat ini, oleh karena orang yang punya sedikit, hidup dalam kerendahan hati dan berhati lembut, justru akan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah (Ibraninya rab shalom. Kata shalom disamping berarti ”damai” juga berarti ”sejahtera” dalam arti tidak kekurangan apa-apa, ”well-being.”)

B. Isi Mazmur 37:37

Pembaca atau pendengar dipersilahkan untuk memperhatikan atau mengikuti orang tulus, orang jujur dan orang yang suka damai. Tekanannya adalah pada ORANG dan bukan pada konsep ketulusan, konsep kejujuran dan konsep perdamaian. Dalam konteks yang mendahului di atas kita juga telah melihat bahwa yang menjadi pokok disitu adalah orang dan bukan konsep. Ada orang benar, dan ada orang fasik. Yang pertama diteladani tetapi yang kedua dijauhi. Orang menjadi benar karena melakukan kebenaran dan menjadi jahat karena melakukan kejahatan. Cara berpikir pemazmur memang agak sederhana, jadi jangan ditanyakan kepadanya tentang konsep ”orang berdosa yang dibenarkan,” karena dia tidak tahu mengenai hal itu. yang ia ketahui adalah bahwa orang yang tulus, jujur dan suka damai akan memiliki masa depan. atau dengan kata lain, selama ada orang yang melakukan ketulusan, kejujuran dan kedamaian, selama itu pula kita dapat berharap akan masa depan yang baik bagi dunia.

C. Konteks yang menyusul

Ayat-ayat yang menyusul ayat 37 tinggal sedikit, yaitu ayat-ayat 38-40. Disini orang fasik disebut ”pendurhaka” (Ibraninya posya’im), dan berbeda dengan orang benar yang akan memiliki masa depan, maka masa depan orang fasik akan dilenyapkan. Orang benar akan diselamatkan, dilindungi, diluputkan, karena mereka berlindung pada Tuhan. Nada-nada dalam ayat-ayat pada konteks yang mendahului sudah bersifat optimistis, tetapi penutup dari Mazmur ini masih lebih optimistis lagi : orang benar akan selamat, orang fasik akan celaka.

Penutup :
Makna Mazmur 37 bagi kita warga GPIB

Kerangka pikiran dalam Mazmur ini cukup jelas. Ketika pemazmur melihat bahwa ada orang-orang yang marah karena dunia ini tidak adil terhadap mereka, dan daripada berada dalam nasib seperti itu, mempertimbangkan untuk beralih haluan, mengikuti dunia tidak adil itu, maka ia mengeluarkan saran-saran yang bersifat pastoral, jangan marah, jangan iri hati, tetapi bergembiralah dan yakinlah bahwa masa depan orang-orang yang berhasil karena tipu daya akan berakhir, sedangkan masa depan orang-orang tulus, jujur dan suka damai akan terbuka langgeng. Saran-saran pastoral ini keluar dari keyakinan iman yang teguh akan Tuhan yang adil dan TauratNya yang adil pula. Tetapi kalau saran-saran pastoral ini merupakan keyakinan iman, tentunya saran-saran ini tidak bermaksud menyangkal kenyataan yang ada, yang justru membuat orang-orang menjadimarah. Di atas saya memperlihatkan dua kemungkinan orang menjadi marah. Yang pertama kemarahan yang muncul dari kepekaan akan keadilan, sehingga emosi terusik melihat ketidak adilan. Yang kedua adalah kemarahan karena diri sendiri yang terkena dampak dari ketidakadilan tersebut, dan kemarahan itu mendorong seseorang untuk menepis dampak tersebut dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan yang biasa. Kemarahan itu bisa ditujukan kepada Tuhan, meskipun di dalam teks Mazmur 37 tiada secara eksplisit disebutkan mengenai hal ini. Tetapi kalau kita melihat Mazmur 37 misalnya, maka disitu pemazmur yang sedang mengalami situasi parah yang dirasakannya sebagai ketidak adilan, mengamati dan mencatat bahwa memang benar rupanya bahwa orang fasik berhasil dan sukses; mereka tidak sakit, tubuhnya gemuk dan sehat (ayat 4), mereka tidak pernah susah (ayat 5), mereka menambah harta benda dan senang selamanya (ayat 6). Jadi berbeda dengan optimisme yang dianut oleh pemazmur 37, pemazmur 73 malah pesimis : orang fasik selamat, orang benar celaka! Pemazmur 73 agak sama dengan Pengkhotbah, yang di dalam usia tuanya memberikan pengamatan ini : ”Ada suatu kesia-siaan yang terjadi atas bumi: Ada orang-orang yang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang0orang yang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar. Aku berkata : ”Ini pun sia-sia!” (Pkh 8 : 14; band Pkh 7 : 15) Mazmur 73 dan Pengkhotbah perlu ikut dipertimbangkan dalam merenungkan makna Mazmur 37 bagi kehidupan kita. Menjadi orang benar, atau orang yang memberlakukan kebenaran tidak berarti bahwa hidup ini menjadi serba mudah dan serba baik. Mazmur 37 yang optimispun tidak sembarangan bersikap optimis, tetapi bertolak dari pengalaman perjuangan orang benar dalam rangka mempertahankan integrasinya melawan godaan-godaan dunia untuk menempuh jalan yang berlawanan dengan hukum Tuhan. Dan juga di dalam Mazmur 37 sudah jelas bahwa orang benar adalah orang yang hidup susah, karena mereka digambarkan juga sebagai orang miskin dan orang sengsara (ayat 14). Mungkin kita tidak akan setuju dengan pemazmur 37 yang mengatakan bahwa ”lebih baik yang sedikit pada orang benar daripada yang berlimpah-limpah pada orang fasik.” Kita tidak ingin menjadi fasik, tetapi kita juga tidak suka hanya punya sedikit alias miskin! Kalau bisa kita menjadi kaya dan masuk surga (seperti ditulis di belakang baju kaos merk Dagadu di Yogya). Tetapi ucapan pemazmur ini di dasarkan atas optimisme terhadap masa depan. Lebih baik punya sedikit tetapi bisa hidup dengan tenang dan anak cucu tidak jatuh miskin, daripada sekarang kaya raya karena korupsi tetapi nanti ditangkap dan diadili, hilang muka dan kehormatan, kekayaan hilang oleh karena harus membayar utang dan denda, dan anak cucu yang mengharapkan warisan tinggal gigit jari…. (itu kalau kampanye anti korupsi jalan terus, tetapi kalau panas-panas tai ayam, maka pengamatan pemazmur 73 dan Pengkhotbahlah yang menjadi actual). Di Indonesia ada banyak orang yang tekun beragama, suka dilihat sebagai saleh. Tetapi sudah dicatat oleh banyak pengamat, termasuk oleh Presiden SBY, bahwa kesalehan tidak mampu menangkal korupsi. Tetapi menurut pemazmur 37, kesalehan yang bertolak dari hidup yang sederhana akan mampu mencegah korupsi! Itulah perenungan yang akan dilakukan dengan berangkat dari konteks Mazmur 37. Kitalah sebagai pembaca yang dapat membuktikan benar tidaknya pendapat pemazmur 37 mengenai kesalehan tersebut. Tetapi akhirnya saya juga mau kembali lagi pada apa yang sudah saya kemukakan dalam Pendahuluan, yaitu mengenai makna ketulusan yang berbeda-beda pada orang atau kelompok yang satu dengan orang atau kelompok yang lain. Orang tua bisa amat yakin bersikap tulus terhadap anak-anak mereka. Tetapi mereka bisa kejam kepada anak-anak, bahkan menyiksa sampai mati anak-anak mereka sendiri. Hal itu beberapa kali saya lihat dalam tayangan TV. Ketika anak sudah mati tersiksa, nasi sudah menjadi bubur, orang tua ditanya kok tega-teganya membunuh anak sendiri. Orang tua menjawab sambil nangis-nangis : ”Saya tidak menyangka, saya tidak menyangka….” Dalam kalangan sekte-sekte kecil dan eksklusif, pembimbing rohani dan umat yang dibimbing yakin bahwa mereka tulus satu kepada yang lain. Tetapi orang diluar kelompok bisa dengan mudah melihat bahwa yang terjadi adalah brainwashing dan penguasaan total dari pembimbing rohani terhadap yang dibimbing. Si umat diyakinkan bahwa dia sekarang sudah merdeka, sudah hidup di dalam Roh, tetapi ternyata dia malah menjadi budak rohani dari si pembimbing rohani. Hal ini biasanya baru jelas bagi si umat ketika dia berontak dan mendapat sumpah serapah dari si pembimbing rohani. Sumpah serapah ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang negative, melainkan bagian dari ketulusan hidup…….. Kita semua menghendaki agar kita dapat hidup di dalam ketulusan, kejujuran dan kedamaian. Kita ingin menjadi orang tulus, jujur dan suka damai. Kita percaya dan berharap bahwa dengan menjadi orang-orang yang demikian, masa depan terbuka bagi kita dan bagi bangsa kita. Tetapi justru oleh karena itu kita tetap perlu kritis juga terhadap anggapan-anggapan dan konsep-konsep kita sendiri mengenai apa yang dimaksud dengan ketulusan, kejujuran dan kedamaian. Kita perlu menghubungkannya dengan perspektip kepentingan diri kita sendiri dan belajar untuk keluar dari kepentingan diri kita sendiri. Semoga kita sebagai gereja, sebagai GPIB dapat menjadi teladan bagaimana hidup tulus, jujur dan suka damai!