Deprecated: Function split() is deprecated in /home/gpib/public_html/textpattern/lib/txplib_misc.php(594) : eval()'d code on line 408
GPIB

Berita

Mazmur Terpanjang Tentang Taurat Tuhan

3 February 2012, 17:04

Mazmur 119:1-8
Oleh : Pdt. Hallie Jonathans.

Mazmur 119 merupakan mazmur alfabetis Ibrani yang terpanjang dan berbicara tentang Taurat Tuhan. Stanza Pertama ini bermula dengan huruf pertama dalam alfabet Ibrani yakni : Aleph). Mazmur ini juga merupakan bagian terpanjang dalam Alkitab. Mazmur ini kemungkinan ditulis oleh Ezra setelah pembangunan Bait Allah (Ezra 6:14 dan 15). Suatu meditasi ulangan tentang keindahan Firman Allah, dan bagaimana Firman Allah itu membantu kita untuk tetap murni dan bertumbuh dalam kepercayaan kita. Mazmur ini terdiri dari 22 bagian atau stanza, berurutan memamakai alfabet Ibrani. Setiap stanza mulai dengan alfabet Ibrani dan begitu seterusnya.Jadi setiap stanza terdiri dari delapan ayat. Pengulangan-pengulangan yang terdapat di dalam mazmur ini harus kita pahami sebagai upaya untuk membuat para pendengar Firman atau Hukum yang dibacakan dapat mengingatnya. Saat itu hanya terdapat tradisi mendengar pembacaan Taurat sebab belum semua memiliki salinan Taurat seperti kita miliki dalam Alkitab yang lengkap ini. Mazmur ini menghubungkan kita dengan Firman Tuhan. Kalau Anda mengenal adanya pertandingan balap sepeda “Tour de France”, maka Mazmur ini mengemukakan sebuah “Tour de Force”, artinya hampir setiap ayatnya mengemukakan tentang Tuhan atau berbicara tentang Tuhan. Jumlah ayatnya 176 ayat. Perhatian penghormatan terutama ditujukan kepada Taurat/ torah Tuhan atau Hukum Israel.Pengulangan sering terjadi atas kata-kata Taurat atau Law pada ayat 1. Hal ini dapat dihubungkan dengan Ke Lima Kitab Taurat yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan, atau Pentateuch tetapi juga dapat dihubungkan dengan Perjanjian Lama sebagai suatu keseluruhan.
Kesaksian-kesaksian , edot, persyaratan atau testimonies, atau statutes, pada ayat 2. Dalam terjemahan TB disebut peringatan-peringatan. Maksudnya adalah asas-asas , dasar atau prinsip-prinsip, principles dan dan cara-cara bagaimana melakukannya, means of operation melalui mana Allah berhubungan dengan umat-Nya serta memajukan penebusan-Nya di bumi ini. Cara Allah itu bertentangan dengan hikmat dan nilai-nilai manusiawi, contrary to humanistic wisdom and values. Kita dapat melihatnya dalam Yesaya 55:8-9. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu”.
Pada ayat 3 adalah jalan atau ways atau derekim,
Dalam ayat 4 titah-titah, perintah atau mandat, precepts atau piqqudim , memuat instruksi dari Tuhan secara rinci; ;
Dalam ayat 5 kita baca tentang ketetapan-ketetapan Tuhan, dekrit Tuhan, huqqim, peraturan-peraturan bagi Umat Tuhan baik secara individual maupun secara kolektif. Kita tak dapat memenuhi ketetapan-ketetapan-Nya tanpa mendapatkan pertolongan penopangan Tuhan.
Dalam Matius 7:21, Tuhan Yesus bersabda:”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan Dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. Dalam perkataan Tuhan tadi, juga dimaksudkan bahwa kita tak dapat memenuhi semua itu berdasarkan kekuatan atau kesetiaan kita.
Dalam ayat 6 kita bertemu dengan kata perintah atau commands, miswot,yang berbicara tentang hukum-hukum dan peraturan atau regulations yang mengekspresikan kewibawaan atau otoritas Allah serta kehendak Allah atas bagi umat-Nya, dan Tuhan menantikan ketaatan kita.
Baru dalam ayat 9 kita bertemu dengan Firman Tuhan, dabar , yang menyatakan baik penyataan Allah secara umum atau God’s revelation in general, dan perintah-perintah dan janji-janji-Nya.
Jadi dalam ayat 1 sampai 8 kita berjumpa dengan suatu perenungan atau kontemplasi tentang orang yang berbahagia, atau bagaimana orang itu disebut diberkati atau berbahagia. Yang berbahagia adalah orang yang berpegang pada persyaratan atau statutes dari Tuhan. Pokok ini dikemukakan dalam bentuk atau gaya kesalehan, bukan secara atau dalam gaya didaktik atau gaya pengajaran.
Kita harus mengerti bahwa kepatuhan tersebut bukanlah kepatuhan legalistis atau secara hukum. Kepatuhan itu dialami atau dinyatakan dalam suatu persekutuan hati, heart fellowship. Suatu persekutuan hati dengan Tuhan hanya dapat dialami cinta akan Firman yang adalah cara Allah bersekutu dengan jiwa kita oleh Roh Kudus. Doa, pujian, dan pelbagai cara peribadahan dan perasaan bersinar melalui ayat-ayat bagaikan sinar-sinar matahari melalui hutan kecil zaitun. Kita tak hanya diberikan perintah, tetapi juga dikuasai atau dipengaruhi oleh emosi kudus dan juga ditolong oleh Roh Kudus untuk melaksanakannya. Firman Tuhan yang kudus sungguh diberkati, sebab orang yang hidup sesuai dengan Firman Tuhan itu akan hidup tak bercela. Artinya ia bebas dari pengotoran moral ataupun dosa lainnya. Itu kita lihat dalam ayat 1. Mereka dijadikan-Nya kudus secara praktis, lihat ayat 2 dan 3. Mereka dipimpin mengikuti Tuhan secara tulus dan intensif pula. Jalan secara kudus demikian itu harus menjadi keinginan kita, sebab Allahlah yang memerintahkannya. (lihat ayat 4). Oleh sebab itu jiwa orang saleh berdoa bagi realisasi hal tersebut, lihat ayat 5. Bagaimana orang dapat merasa senang dan memiliki keberanian? Dengan cara mengamat-amati perintah Tuhan. Tentu dalam hubungan dengan doa kita, tatkala doa kita dijawab oleh Tuhan, maka kita akan bersyukur kepada Tuhan dengan hati jujur. Puncaknya adalah terjadinya suatu tekad bahwa kitapun akan merasakan panggilan dan keinginan untuk berpegang pada ketetapan-ketetapan Tuhan itu. Tuhan tidak akan meninggalkannya. Lihat ayat 8. Perubahan-perubahan dari Taurat, peraturan, ketentuan, berjalan dst merupakan suatu pengulangan yang tentu saja membangunkan kita untuk melihat betapa telitinya kita harus hidup atau berjalan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Berbahagialah orang yang hidupnya merupakan salinan praktis atau bagaimana berlaku dari kehendak Tuhan. Kehidupan beragama bukanlah kehidupan yang dingin dan kering, tetapi memiliki aklamasi-aklamasi dan pengangkatannya atau rapturenya. Di zaman penuh korupsi dan penyalahgunaan jabatan dan wewenang, hal ini sangat sukar dijumpai dalam pergaulan sosial, politik, ekonomi maupun budaya. Bagaimana kita dapat menjumpai kekudusan hidup secara sosial itu dalam kehidupan dan praktek kehidupan yang amat koruptif ini? Bagaimana kita dapat berseru dengan gembira:”Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela” , padahal kenyataannya adalah banyak sekali orang bercela secara komprehensif bahkan. Artinya bercela multi aspek dalam kehidupannya. Mari kita serukan itu tetapi marilah kita berpaling dari semua koruptor itu dan memandang kepada mereka yang taat akan perintah Tuhan. Atau bahkan kita juga mengingini menjadi oranh yang tak bercela. Biasanya kita hanya menghakimi orang lain karena hidupnya bercela. Kita menghakiminya dari cara berpakaiannya, praktek kesalehan hidup, atau kenyataan-kenyataan lahiriah belaka. Apakah kebahagiaan terbesar? Kebahagiaan terbesar adalah menaati Firman Tuhan dalam kehidupan kita. Berbeda bukan dengan berbahagia melalui pelbagai upaya kecurangan yang mendapatkan keuntungan yang tidak sah sehingga justru membawa manusia ke penjara, dalam waktu dekat atau jauh. Ayat pertama dari Mazmur 119 ini bukan hanya merupakan ayat pendahuluan bagi ayat-ayat berikut tetapi merupakan teks dan ayat-ayat lainnya adalah penjelasan, percakapan atau diskursusn tentang teks itu. Marilah kita merenungkannya dan memiliki keinginan rohani memilikinya.Kekudusan adalah kebahagiaan. Holiness is happiness. (Dr. C.H Spurgeon). Kita berpikir bahwa kita telah menjalani jalan kesalehan sebagai jalan kekudusan. Kita berpikir bahwa melaksanakan pelayanan kepada Tuhan merupakan bagian dari jalan kekudusan. Namun kitapun merasakan bahwa kita masih jatuh dalam banyak perkara yang menyebabkan kita merasa diri sebagai orang yang hidup bercela. Di mana sering kita jatuh? Dalam hal pementingan diri atau selfishness, dalam hal meninggikan diri atau selfexaltation yang tak habis-habisnya. Juga dalam hal selalu memberi jalan kepada kehendak kita atau willfulness dan tentunya dalam selalu memberikan isyarat OK atau approval kepada kedagingan atau carnality kita. Orang seperti itu, katakanlah kita, memang diselamatkan tetapi tidak mengalami sukacita keselamatannya atau the joy of his salvation itu. Kita diselamatkan tetapi tidak diperkaya, sangat menderita dengan sabar tetapi tidak amat diberkati. He is rescued but not enriched, greatly borne with but not greatly blessed. (Dr.C.H. Spurgeon). Hal lain adalah bagaimana kita harus berjalan untuk mencapai kekudusan itu? Dengan cara mengikuti Kristus Tuhan kita yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup bagi kita semua. Marilah kita hidup dalam konformitas atau persesuaian dengan Firman atau perintah Tuhan. Jangan katakan bahwa kebercelaan itu tak datang dan hadir dalam diri kita apabila kita berdoa atau melakukan penyembahan total kepada Tuhan. Oleh sebab itu para Imam di Tempat Kudus masih harus harus mencuci kakinya. Di sanalah kita juga harus sadar bahwa Tuhan Yesus saja yang dapat menguduskan kita seperti yang dilakukan-Nya dalam mencuci kaki para murid-Nya. Apakah kita akan memohon Roh Kudus menguduskan rasa dan kesadaran terdalam diri kita dari segala kebercelaaan itu? Kalau kita jujur mengakui dan memperlihatkannya kepada Tuhan, pastilah Ia akan menguduskan kita dari semua kebercelaan yang tersimpan rapi sekalipun itu terletak di relung terdalam dari hati kita. Siapa yang berjalan dalam Hukum Tuhan, berjalan dalam persekutuan dengan Tuhan, oleh sebab itu pasti diberkati. Perjalanan umum kita atau kehidupan kita sehari-hari merupakan suatu kepatuhan kepada Tuhan. Orang demikian menyatukan tindakan umum dan penyembahan khususnya. (Common Actions and Special Devotions are molded) Oleh sebab itu orang percaya yang tak bercela terus melangkah, tidak menjadi malas melakukan perjalanannya dalam jalan Tuhan. Krhidupan kudusnya maju dengan pasti, maju tanpa berisik, menerus tanpa henti. Good people are God’s people. Ini disebut Habbitual holiness.
Lima bahkan enam hal dikemukakan oleh Dr C.H Spurgeon yakni :
1. Suatu Jalan Berbahagia/Diberkati, a blessed way.
2. Suatu Kemurnian yang Berbahagia/Diberkati, a blessed purity.
3. Suatu Hukum yang Berbahagia/Diberkati, a blessed law .
4. Tuhan yang Diberkati atau yang Dimuliakan. A blessed Lord who gave us that blessed law.
5. Suatu Perjalanan yang Berbahagia/Diberkati, a blessed walk.
6. Spurgeon menambahkan dengan suatu Kesaksian yang Diberkati, a blessed Testimony yang diberikan dari Roh Kudus.
Apa isi hati dan hidup kita? Apakah kita hendak menumpuk semua kesaksian tentang Tuhan itu dalam hati kita? Apakah kita mau menggali Firman Tuhan atau Alkitab dengan semangat storing up the testimonies of the Lord melalui menyelidiki, menggali, merenungkan Firman Tuhan dan mengabarkannya juga? Banyak di antara kita yang sudah habbitual tidak melakukan persiapan Firman dengan sungguh. Apabila kebiasaan ini diteruskan dalam semua tingkat pemberitaan firman, yakni tanpa persiapan yang cukup maka segala perbendaharaan teologis tak ada lagi gunanya. Tetapi umum menyukai justru khotbah sedemikian. Alasannya ringan dan logis serta apa adanya. Bahkan katanya dari firman ke firman. Saya tak yakin itu adalah bagian dari perjalanan kekudusan kita sebagai pemberita Firman Allah.
Bahaya lain adalah menumpukkan kesaksian manusia tentang dirinya dan kesalehannya. Tentu di sini kita harus mendengar kisah kesalehan itu. Tetapi jangan beri jalan masuk bagi pembesaran diri orang itu, atau pengilahian orang itu. Kesaksian yang menempatkan diri di atas Allah harus kita tolak.
Mencari Allah menandakan adanya keinginan kita untuk bersekutu dengan Allah secara lebih dekat. Kita juga mau mengikuti Dia sevcara lebih penuh. Memiliki pikiran Kristus, memajukan kemuliaan-Nya, dan terus berusaha menghadirkan kasih-Nya dalam kehidupan kekudusan kita.
Mungkin bagus mengakhirnya dengan ayat 7. “Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hatri njujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil”. As I learn your righteous joy/ When I shall have learned thy righteous judgment.
Inilah bagian tersukar bagi kita , bukan? Untuk belajar dari Tuhan tentang menyembah Dia, bagaimana memuji Dia, Praise when we have learned. Mau meminta Tuhan mengarai kita? Banyak orang Kristen ternyata menjawab tidak mau. Lihat saja, waktu menyanyikan pujian bagi Tuhan nampak sekali kita sedang memuji diri kita. Jadilah kita penyanyi di panggung yang salah, yaitu bukan di panggung kekudusan milik Allah.
Mari kita teruskan semangat “In my Prayer” menerus kepada “In my Learning”. Tuhan ajarilah kami menyembah dan memuliakan-Mu. Amin.