Berita

Krisis Persaudaraan dan Bahan Makanan

11 November 2009, 09:21

Kejadian 42:1-28
oleh : Pdt.Hallie Jonathans.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Bagaimana rupa nurani yang telah menjadi kering dan layu itu? Sama seperti tumbuhan yang menjadi kering. Demikianlah kekeringan nurani telah melanda para saudara Yusuf, sehingga mereka atas petunjuk Yakub, Israel itu lari atau pergi ke Mesir, untuk mendapatkan bahan makanan. Keringnya nurani kemudian disambung dengan kekurangan atau krisis bahan pangan yang hebat melanda sampai ke tempat mereka. Yakub mendengar bahwa di Mesir masih ada bahan makanan dan mereaka dapat membelinya di sana. Belilah gandum di Mesir, kata Yakub: “Supaya kita hidup”. Mengapa para saudara Yusuf tak pernah terpikir akan Mesir dan mengapa mereka berpandang-pandangan saat mendengar kata Mesir? Karena bagi mereka, Mesir menimbulkan trauma nurani yang hebat. Bukankah mereka telah menjual Yusuf dalam keadaan yang mengenaskan kepada seorang saudagar dari kafilah orang Ismael. Harganya dua puluh syikal perak. Bukankah mereka telah membasahi jubah indah Yusuf dengan darah kambing seolah itulah darah Yusuf, dan membuktikan kepada Yakub bahwa Yusuf telah mati. Never Go Egypt, demikianlah slogan mereka. Bukankah selama suatu masa mereka berhasil membuat nurani mereka tertidur? Krisis pangan internasional inilah yang melanda dunia saat itu. Mesir berdiri dalam keadaan itu, dan memiliki tanggungjawab untuk menjadi gudang bulog internasional. Mesir yang kelak mendengar bahwa ada tujuh tahun penuh kelimpahan disusul oleh tujuh tahun penuh kekurangan, sekarang menghadapi tujuh tahun kelaparan. Seven years of famine. Ingat bagaimana mereka saling memandang? Penuh dengan rasa salah. Kalau terjadi kriminalisasi atas pejabat tertentu , demikian kata orang, maka kriminalisasi atas Yusuf jauh lebih hebat. Yusuf hendak dibunuh, tetapi atas pertimbangan bahwa itu saudara mereka, maka mereka membuangnya ke dalam sumur. Permusuhan terhadap Yusuf atau kebencian yang hebat adalah berkat pilih kasih dari Yakub sendiri atas Yusuf, sehingga memberikan Jubah Indah kepadanya yang tidak dimiliki para saudaranya yang lain. Ada Extra Privelege bagi Pribadi Extra ini. Permusuhan antara bersaudara memang dapat menjadi suatu permusuhan yang mematikan. Biasanya dasar permusuhan antara saudara adalah iri hati, sakit hati, pembagian warisan tak adil, perlakuan yang tidak adil, atau semua alasan material yang diada-adakan demi membenarkan permusuhan antar saudara. They kept looking guilty at each other, instead of taking dicisive steps to go to Egypt. Itulah kenyataan dosa yang masih mereka simpan. Malahan mereka tengah terus berusaha menguburkan hati nurani mereka, menguburkan agar tak bersuara dan tak menuduh mereka terus. Dua puluh tahun menguburkan nurani memang lama tetapi tidaklah efektif untuk sama sekali memadamkannya. One day, that guilty feeling will come up!. A collective sense of guilt will hit them. Kriminalisasi atas Yusuf telah memiliki akibat yang berkepanjangan, dan menghadapi krisis pangan internasio -nal saat itu. Itulah krisis global yang hebat. Mesir sebagai super power turut dilanda krisis. Yusuf menjadi Wakil Firaun dalam menata pelbagai ketahanan, baik ketahanan politik dan pemerintahan, atau negara, juga ketahanan pangan, tetapi juga tetap membuka diri kepada dunia sehingga perdagangan pangan masih tetap dapat dilakukan. Krisis akibat dosa atau dunia sering kita dengar. Tetapi krisis yang dirancang oleh Tuhan, mana mungkin? Bukankah Ia Tuhan damai sejahtera? Tetapi Tuhan mempunyai cara untuk menghidupkan nurani kita dengan cara membangun krisis nurani yang hebat. Untuk itu Tuhan harus membuat dulu krisis pangan global ini. Hanya krisis inilah yang dapat membawa saudara-saudara Yusuf ke Mesir. Mesir yang tadinya hanya dilihat sebagai negeri perhambaan, kini menjadi negeri penyadaran. A state to raise their conscience. A state of conscientization. Mesir adalah tempat konsientisasi berlaku pada nurani para saudara Yusuf. A collective conscientization process has just started. Why? Because God provokes a crisis in their lives. Krisis keadilan yang segera merebak oleh sebab kewenangan yang tidak tertata dalam menegakkan keadilan. Ikon-ikon keadilan yang hari-hari ini akan sangat dielu-elukan akan sangat mempengaruhi penataan semua lembaga penegak keadilan di negeri ini. Tetapi kemudian kita toh harus masuk ke dalam penataannya yang merupakan kunci agar jangan lagi terbuka ruang untuk bertabrakannya semua lembaga yang ditetapkan untuk penyidikan, penuntutan, penghakiman dan peninjauan kembali menjadi kacau lagi. Keberadaan semua lembaga harus seimbang dan memiliki kewenangan yang jelas tanpa satu menendang yang lain, tanpa super body atau extra body. Kisah ini mengingatkan kita kepada Kisah Anak yang Hilang. Metode yang sama dibuat Allah, yakni membuatnya menghadapi krisis makanan dan minuman yang hebat, krisis kemiskinan yang mencekam. Pada saat itu teringatlah Anak yang Hilang itu kepada ayahnya dan rumah ayahnya itu. Di sana tak ada krisis makanan dan kehormatan, seperti yang dialaminya, yang amat merendahkannya, sampai ingin makan makanan babi itu. Krisis pangan itu disebabkan oleh kematian nurani, dan kematian nurani telah membawa anak ini kepada kondisi hampir Total Loss. Hampir mati benar. Saat itulah ia sadar, konsiensnya bangkit lagi, ia pergi pulang ke rumah Bapanya dan di sana disambut dengan tangan terbuka. Pembangkitan nurani harus juga dilakukan melalui suatu pengalaman yang sangat menyakitkan. Pengalaman Yusuf adalah hampir dibunuh, dimasukkan ke dalam sumur, lalu di jual kepada saudagar dari kafilah Ismael. Di bawa ke Mesir yang merupakan simbol perhambaan bagi Israel sejak zaman Musa. Tatkala itu Yusuf menjadi Pelaksana Kuasa Firaun dalam menata ketahanan negara dan ketahanan pangan. Bahkan adalah Mesir II, di samping Firaun sebagai Mesir I. Itulah sebabnya Yusuf segera saja menuduh saudara-saudaranya sebagai mata-mata asing yang hendak membahayakan Firaun dan Mesir. Yusuf mengenali saudara-saudaranya. Dengan sandi, :”Dari tanah Kanaan, untuk membeli bahan makanan”. From the land of Canaan, to buy food. Yusuf segera mengenali saudara-saudaranya. Saudara-saudaranya yang bukan saja telah melakukan krmininalisasi berat terhadapnya yang menyebabkan ia hampir mati, tetapi juga yang telah membawa keturunan Israel hampir saja kepada kepunahan karena kelaparan saat itu. This is not a social disaster only, it is a disaster caused by God of Israel to save them all. Pejabat Mesir, tetapi juga seorang saudara yang merindukan ayah dan saudaranya, Benjamin. Pejabat Mesir yang menahan dengan paksa Simeon, ,sebagai jaminan mereka akan kembali membawa Benjamin. Hanya Ruben yang tidak ikut dalam konspirasi kekerasan dan ketidak-adilan bahkan tanpa rasa persaudaraan lagi,yang membawa Yusuf terjual ke Mesir. Ruben itulah yang kembali mengulang, melakukan semacam judicial review.”Bukankah dahulu kukatakan, janganlah berbuat dosa terhadap anak itu. Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita”. Ruben mengingatkan mereka pada wajah Yusuf yang sesak hati saat akan menghadapi kekerasan bahkan ancaman pembunuhan, ketika itu Yusuf memohon belas kasihan kepada mereka, tetapi mereka tidak mendengarkan permohonannya. Akhirnya, sekarang kata mereka satu kepada yang lain, kesesakan ini menimpa kita. Yusuf melakukan politik membuat diri tak dikenali oleh para saudaranya. He made himself unrecognizable to his brothers. Politik Topeng, Masquarade Politics? Mengapa tidak? Ia bergaya seperti penguasa Mesir yang tunggal di kenal, yakni Zafnath Paaneah. Kata-katanya keras dan Yusuf menggunakan penerjemah kepada saudara-saudaranya. Yusuf menuduh mereka dengan tuduhan subversif: Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat (untuk manembo-nembo), di mana negeri ini tidak dijaga”. (Ayat 9). Memang sebenarnya Yusuf sudah mengampuni mereka. Bahkan Yusuf telah melupakan segala dosa kekerasan dan ketidak-adilan mereka. Yusuf setelah mendapat kekuasaan di Mesir mempunyai dua anak, yang satu dinamainya Manasseh yang artinya Melupakan, Forgetting. Dengan pemberian anak dan penamaan anak, maka Yusuf menyaksikan bahwa Allah telah membuatnya melupakan semua kekerasan dan ketidak-bersaudaraan mereka. Yusuf pasti mengingat semua detail kekerasan dan persekongkolan mereka untuk membunuh tetapi akhirnya menjual dia ke Mesir. Itu semua pasti lekat dalam ingatan Yusuf. Yang sebenarnya dilupakan Yusuf adalah perasaan sakit hatinya sehubungan dengan kejadian-kejadian itu. Ia tidak mau dipenjara oleh hati yang tidak mengampuni. Anak kedua dari Yusuf bernama Ephraim, Doubly Fruitful, Berbuah secara Berlipat Ganda. Masa lalu adalah masa lalu. Masa itu harus sudah ditinggalkan. Ia tak dapat melakukan apapun untuk merubah masa lalu.Ia harus berbuah lebat. Tetapi Yusuf dapat mencegah masa lalu menghancurkan masa kini dan masa depannya. Dr.David Seamands berkata:”Sebab-sebab utama dari stress emosional adalah kegagalan menerima pengampunan dan kegagalan untuk mengampuni”. I have missed, and the past got in my eyes. Smoke get in my eyes. Seorang Belanda yang dipenjara oleh Nazi Jerman , namanya Corry ten Boom juga mengeluhkan hal yang sama, sebab ia dengan kekuatannya sendiri tak mampu mengampuni mereka yang telah membahayakannya. Tatkala ia berusia delapan puluh tahun, ia sampai pada kenyataan bahwa ia tidak dapat membangun perasaan dan perilaku indah dalam hati dan hidupnya dari kekuatannya sendiri,tetapi perasaan dan perilaku itu hanya diterimanya atau diambilnya dari Tuhan, setiap hari. Mengampuni sesama merupakan tantangan yang berat bagi kita semua. Kalau kita tidak mengampuni, maka kita akan menderita karenanya, tetapi kalau kita mengampuni, maka kita akan merasakan kebebasan dan sukacita yang tak terhingga bagi kita. Dalam Ibrani 10:17, Allah mengampuni semua dosa kesalahan kita dan melupakan semua itu. Corry ten Boom mengumpulkan dengan baik semua bukti bahwa mereka yang membahayakannya berpuluh tahun lalu. Mereka bahkan menyangkal apa yang dilakukan mereka terhadap Corry ten Boom. Corry ten Boom tidak hanya disadarkan oleh temannya. Allah itulah yang menyadarkannya, Ialah yang justru telah mengampuni dan melupakan semua dosanya. Akhirnya Corry membakar semua surat bukti penyangkalan para penyesahnya. Pengampunan meruntuhkan kepahitan, sakit hati, kemarahan atau dendam. It breaks the chains of bitterness, and the schackles of selfishness. Corry menyaksikan: Pengampunan yang diberikan Tuhan tidak hanya menghilangkan semua dosa kita, tetapi membuat seperti semua dosa itu tak pernah ada atau berlaku. Banyak orang yang telah berbuat jahat terhadap seamanya Kita harus menjadi berjiwa besar untuk mengam -puni. Yusuf mengalami suatu kesendirian yang amat menekan. Tetapi akibat kesendirian itulah ia akhirnya mengalami kebangunan hati nuraninya. Akhirnya para saudara Yusuf untuk pertama kalinya menggunakan nama Tuhan dalam pembicaraan mereka, tatkala dalam ayat 28 tentang mereka berkata:”Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita?”. Allah telah hadir menyelamatkan mereka. Allah telah hadir mencegah hati nurani mereka menjadi layu. Allah telah membangkit- kan nurani mereka dan membawa mereka pada kesadaran lewat kasih dan pengampunan Yusuf dan Allah atas mereka. Kita harus melakukan pengampunan. Pengampunan merupakan kunci pembangunan masa depan apapun yang kita dambakan. Di gereja juga pikiran kita dapat berjalan tanpa pengampunan. Terus saja menuduh orang lain. Orang lain hitam, kita pasti putih. Seperti dalam 1 Samuel 14:15, harus ada kegentaran di seluruh negeri. Ya di perkemahan, di padang dan di seluruh rakyat. Ada kegentaran yang meliputi semua bidang dan fungsionaris, semua lembaga dan penugasan yang diterimanya. Juga pasukan pengawal dan penjarah–penjarah itu gentar, dan bumi gentar, sehingga menjadi kegentaran yang dari Allah. Itulah yang harus kita miliki. Bukan pembenaran diri penuh dengan tipuan, tetapi menerima dan memberlakukan pengampunan dari Allah yang menimbulkan kegentaran bagi semua pihak, agar semua tidak mengulangi lagi segala kedegilan mereka bahkan kita. Agar kita meninggalkan semua itu dengan pangampunan Tuhan, dan membangun suatu masa depan bersama bagi semua. Suatu masa depan yang dibuka Allah bagi kita semua. Suatu persaudaraan dalam Keluarga dan Keluarga Allah, suatu persaudaraan dalam Keluarga Bangsa Indonesia. Amin.