Deprecated: Function split() is deprecated in /home/gpib/public_html/textpattern/lib/txplib_misc.php(594) : eval()'d code on line 408
GPIB

Berita

Khotbah tentang Vasthi dan Esther

9 August 2010, 10:52

Esther 1:1-12.

Oleh : Pdt.Hallie Jonathans.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Kisah Esther memasuki Istana raja Ahasyweros Raja Persia sangat menarik. Esther tampil dalam sejarah Persia dan menjadi penentu dari bangsa itu bahkan bangsa-bangsa sekitar Laut Tengah itu. Esther menggantikan Permaisuri yang Pertama yang menolak perkataan yang harus selalu diterima sebagai perintah Raja. Permaisuri pertama sedang hamil dan tak mau menunjukkan diri di hadapan Pesta Pria, Permaisuri menghadapi budaya Timur Tengah yang amat ketat itu, sedangkan raja datang dengan elemen kekuasaan yang yang dapat saja melanggar moral dan etika umum saat itu. Yang sangat menakjubkan adalah bahwa Yahweh tampil dalam sejarah umat milik-Nya dan sejarah dunia sekaligus. Yahweh mempunyai maksud dengan sejarah Persia, dengan sejarah penyelamatan. Raja Ahasweros adalah raja yang sangat bangga dan sangat impulsif. Ia memiliki Istana Musim dinginnya di Susan. Di Istana Musim Dinginnya itulah ia mengadakan pesta yang memakan waktu yang amat panjang, enam bulan. Raja-raja persia sering membuat pesta besar sebelum mereka turun ke medan perang. Tahun 481 SM Ahasyweros menyerang Yunani. Tatkala ia mendapatkan kemenangan besar di Thermophilae, maka ia dikalahkan pada tahun berikutnya 480 SM, di Salamis, karena itu ia harus kembali ke Persia. Esther menjadi Ratu pada tahun 479 SM. Pesta itu diadakan selamai 180 hari, yah selama enam bulan. Tujuan pesta sebenarnya adalah untuk menentukan strategi perang yang jitu untuk mengalahkan Yunani, dan untuk membuktikan bahwa raja Ahasyweros cukup kaya untuk membiayai perang itu. Perang bukanlah cara untuk tetap hidup, tetapi adalah juga cara untuk menjadi lebih kaya, makin memiliki banyak persil tanahdan kuasa atas tanah jajahan atau tanah yang diokupasi itu. Persia merupakan super power dunia saat itu, dan Raja Persia adalah Titik Pusat dari kuasa super power saat itu. Raja Persia merupakan salah seorang terkaya di dunia saat itu. Raja Persia memiliki kebiasaan menyombongkan kekayaan mereka kepada dunia. Mereka sendiri bahkan menaruh batu permata yang amat berharga di janggut mereka, . Bahkan para perajurit pun mengenakan banyak emas dan perak pada persenjataan mereka. Orang Yunani menyebutkan nama Permaisuri Pertamanya Amsetris. Suatu nama Yunani bagi Vasthi. Vasti dihentikan menjadi Permaisuri pada tahun 484-483 SM. Namun Vasthi kemudian disebut Ratu Ibu, saat pemerintahan Arthasasta, putera dari Ahasyweros. Dengan demikian Vasthi telah kembali mengembangkan pengaruhnya pada pangeran Arthasastha, kemungkinan saat itu Esther telah meninggal. Beberapa penasehat Raja harus dikebiri, agar mereka tidak bisa memiliki keturunan, yang pada gilirannya akan membangun suatu kudeta melawan raja lalu menumbangkan raja. Orang Penasehat demikian disebut Eunuch, orang Kasim atau Sida-sida. Raja dalam keadaan mabuk mengambil keputusan yang didasarkan atas perasaan belaka. Kemampuannya untuk mengendalikan diri , to retain, to hold back, dan kemampuannya untuk menghadirkan hikmat yang praktis hilang sebab ia mabuk. Apabila seseorang tak dapat berpikir secara jernih, maka sering mereka membuat keputusan–keputusan yang buruk. Ambillah keputusan pada saat kita sudah dapat berpikir jernih, dan janganlah membasiskan keputusan atas emosi sesaat. Keputusan yang impulsif pasti berakibat parah di masa depan. Permaisuri Vasthi menolak untuk tampil di hadapan Raja dan Pesta Para Lelaki oleh karena ia tengah mengandung. Secara budaya, tidak pantas memperlihatkan kehamilannya di hadapan para Pria (Punya Selera). Hal itu memang bertentangan dengan Hukum Persia sendiri, wanita dilarang tampil memamerkan kehamilan di hadapan Dunia Pria itu. Wanita janganlah tampil dalam Pesta Kaum Lelaki. Ia wanita baik-baik. Jadi yang dapat tampil mungkin para pelacur saja atau wanita panggilan. Escort Ladieslah!. Jadi ada kontras antara Peraturan atau Kebiasaan Persia dengan perintah Raja Ahasyweros, menempatkan Ratu Vasthi dalam keadaan yang sukar. Ratu memilih melawan perintah Raja, Suaminya sendiri dengan harapan Raja akan nanti kembali pada kesadarannya, bahwa perintahnya sama sekali salah dan pendapat Permasisuri Vashilah yang benar. Vasthi sedang mengandung bakal anaknya yang kemudian kita kenal bernama Arthasastha, yang lahir tahun 483 SM. Vasthi tak mau dilihat publik lelaki itu pada saat ia hamil. Sebenarnya raja hendak memperlihatkan kecantikan yang luar biasa dari Ratunya. Tetapi Ratu merasa tidak patut memperlihatkan bahkan dirinya kepada Pesta atau Men’s Party itu. Sikap yang diambil oleh Ratu Vasthi bagaimanapun benarnya merupakan suatu suatu cacat pada protokol istana saat itu. Hukum Media dan Persia berlaku, perintah Raja tak dapat ditarik. Biarpun salah, tetap harus dilakukan. The King can do no wrong. Saya teringat akan perkembangan di masa lalu di mana Paus dinyatakan Tak Dapat Berbuat Salah, Infallibilitas, Tak dapat Berbuat Salah. Pejabat siapapun, Partai apapun, Umat yang Mengatas namakan Agama apapun tak boleh menyandang predikat infallibilitas ini. Kalau tidak, maka akan ada Kelompok dengan dalih Agama menentukan semuanya dalam kehidupan masyarakat dengan ancaman segera, kekerasan. Dus, apabila Raja Ahasyweros yang mengadakan pesta untuk membuktikan kemampuannya melakukan perang terhadap Yunani terhalangi oleh justru penolakan Permaisuri untuk mematuhi perintah Raja, maka Dunia Militer akan segera menyatakan Raja Ahasyweros ini lemah, melawan Istri saja kalah. Ia termasuk laki-laki Sutari, Suami Takut Istri. Kriterium untuk sukses demikianlah yang sangat dihargakan saat itu. Dan bukankah rahasia bahwa Raja Ahasyweros sudah terbiasa selalu dipatuhi, tak pernah dibantah? Raja di Timur Tengah biasanya tidak memiliki hubungan yang teramat pribadi dengan Istrinya, atau Permasiurinya. Nampaknya demikian juga Raja Ahasyweros. Raja mempunyai koleksi harem. Harem ini tidak pernah haram. Harem ini halal bagi raja Timur Tengah. Selir-selir modern juga menjadi halal saja bagi siapa yang bisa meng-afford-nya. Lihat saja Pasal 2:3 dsl.

Jadi kalau diteliti, Raja tidak mempedulikan perasaan Istri atau Ratunya itu. Artinya Raja tak menghormati Kepribadian Istrinya. Ratu Esther yang kemudian diangkat mendampingi Raja Ahasyweros juga mengalami nasib yang sama.

Hubungan antara Suami dan Istri atau Raja dengan Ratu seharusnya merupakan hubungan yang bukannya diatur oleh undang-undang atau perintah. Hubungan mereka haruslah merupakan hubungan berdasarkan rasa hormat satu terhadap yang lain, rasa hormat timbal balik. Harus ada kasih yang besar antara suami dan istri ini. Wederzijdse achting en wardering, Saling menganggap dan saling menghargai. Ratu Vasthi di tengah pameran kekayaan Raja yang mau mebuktikan diri siap perang, sebab ia kaya dan punya kekuatan dan kuasa. Ratu Vasthi tidak mempedulikan kekayaan hebat, besarnya aktiva dan passiva Raja. Ratu Vasthi bukan Permaisuri matrek, alias senang bergelimang harta. Bagaimana para Istri Para Koruptor? Apakah mereka tak sadar bahwa mereka harus mengatakan tidak terhadap harta yang pasti mereka ketahui tak dapat dicapai oleh pegawai Golongan IIIa?

Bagian bacaan kita belum menyentuh tentang Ratu Esther. Esther justru Menjadi Ratu dalam suasana fatalisme hungnan suami istri seperti ini. Dalam kekacauan hukum dan tak terbatasnya kuasa Raja seperti ini. Dalam keadaan di mana Adat Istiadat , Kebiasaan bahkan Hukum terulis pun dapat dilanggar oleh Raja atas dasar Infallibilitas itu.

Ratu Vasthi adalah simbol Perlawanan dan Penolakan terhadap Semua Budaya Laki-laki, Man’s Culture, kesewenangannya, pelecehan atas Wanita dan Anak. Ingat Vasthi sedang mengandung Arthasasta. Penolakan terhadap Pornoaksi dan Porno-imagining dalam semua bentuknya. Penolakan terhadap semua paham absolutisme dan infallibiltas siapapun dalam menentukan masa depan Bangsa dan Rakyat Indonesia. Dengan absolutisme maka dipastikan bahwa suatu negara tidak memiliki hukum lagi. La Loi est Moi. The Law is Me. Indonesia jangan dikuasai oleh Kelompok The Law is Me. Harusnya Hukum Negaralah yang didasarkan atas Pancasila dan UUD 1945 yang dilengkapi dengan Empat Amandemennya. Apa beda antara Vasthi dan Esther? Keduanya wanita dengan kepribadian yang hebat. Keduanya menyatakan interupsi Ilahi (Divine Interuption) yang terjadi atas sejarah Persia. Ada kehendak Allah menghadirkan Ratu yang berasal dari Israel. Dalam pemilihan Ratu Dunia, Miss World, memang wakil Israel pernah menjadi Miss World. Rasanya Raja Ahasyweros tak akan memilih Esther apabila ia bukan wanita tercantik di Persia saat itu. Raja tak tahu asal muasal Esther. Esther adalah keturunan orang Israel yang tak mau kembali ke Israel sebab takut akan bahaya yang dapat menimpa mereka dalam perjalanan kembali dari Pembuangan Tahap I dan Tahap II. Atas petunjuk Mentornya, Paman Mordekhai, Esther tak pernah mengungkapkan Nasionalitasnya. Juga latar belakang keluarganya. Esther menutup mulutnya rapat-rapat. Harus ada saat berdiam diri , menutup mulut seperti ini untuk sampai saat sukses yang diingini tiba. Baru pada saat itulah akan ada kesempatan untuk mempengaruhi Raja Ahasyweros. Esther justru merubah perjalanan sejarah suaminya, Ahasweros, Raja Persia itu.

Amsal 18:2: “Orang bebal, tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya”. Pikiran orang sedemikian adalah tertutup, tetapi mulutnya yang terbuka. (A person with a close mind and an open mouth). Kita harus justru mampu mendengar sehingga menemukan perspektif baru bagi kita. Umat Beragama janganlah amat banyak bicara, sebab kita semua perlu mendengar dengan baik dan penuh pengertian lalu membangun perspektif baru. Jangan cepat-cepat membangun Redenominasi sebab Bidang Ekonomi masih amat rawan. Kedengarannya seperti Re-domino-sasi. Siapakah yang sebenarnya diuntungkan oleh kebijakan yang belum dipahami apapun, selain hanya merupakan buah pikiran elit tertentu.

Gereja juga jangan membangun Re-Domine-sasi , sebab keberadaan dan peran Presbiter non Pendeta dan Umat Tuhan haruslah mengemuka juga.

Esther adalah Simbol Perlawanan dan Penolakan atas semua Upaya Kebencian Rasial apapun. Kebencian terhadap Yudaisme, Bangsa Yahudi dengan segala Implikasinya juga harus kita tolak. PGI harus berhenti mengutuk Israel dengan alasan apapun. Mengutuk artinya menyetujui pemunahan Isreal seperti yang dinyatakan oleh seorang Presiden, hendak menghapus Israel dari Peta Timur Tengah.

Mungkin contoh dalam bidang politik amat banyak. Cepat bicara, bahkan suka curhat, tetapi yang diinginkan adalah mampu mendengar apa yang sesungguhnya dibutuhkan rakyat, mampu menemukan perspektif baru untuk membuat kebijakan baru, mengarahkan sesuai dengan pertimbangan hati nurani dan dengan fokus pada kesejahteraan rakyat. Di tengah sukarnya membangun Pluralitas, maka tidak hanya dibutuhkan “Rechtvaardigheid” atau selalu mengedepankan Hukum seperti yang diperjuangkan oleh Ratu Vasthi, artinya hal Bertindak Sesuai Hukum dan Aturan, tetapi juga diperlukan Jangan Cepat Bicara, jangan cepat Curhat. Kalau perlu, membisu dahulu. Dengar dengan baik, dengar dengan seksama. Punyalah kemampuan menyimak yang besar ketimbang hanya membuka mulut dan bicara besar saja. Apalagi bicara besar dilakukan dengan Pikiran Yang Tertutup. Jangankan membangun Pluarlitas atau Pengakuan akan Keberagaman Bangsa Indonesia, membangun Kasih Persaudaraan saja sangat sulit. GPIB adalah Gereja Terkaya di antara Gereja Bagian Mandiri. Pensiun Pendeta Emeritus GPIB mungkin yang menurut ukuran Pendeta GPIB sangat kecil masih lebih besar dari gaji Pendeta Organik Pendeta Gereja Bagian Mandiri lainnya, artinya selain GPIB. Kasih Persaudaraan? Bagaimana membangun kepedulian akan Saudara kita dalam GBM, dalam dan di antara Gezusters Kerken ini, Gereja Basudara. Jangan pernah disebut Gebroeders Kerken sebab Gender Gereja atau Ekklesia adalah He, bukan Ho. Kata Kuriake juga adalah Gender Feminin, jangan pernah disebut Kuriakos. Banyak sekali kita Bicara tentang The Serving Church, Gereja yang Melayani, yang adalah Pelayan, The Servant Church, pokoknya Gereja yang Melayani, yang harus sekarang bersedia mendengar keadaan masyarakat yang sebenarnya. Tata Gereja yang menghadirkan semua Pelayan dalam GPI sebagai Pelayan Satu Persaudaraan, A Sisterhood Serving Church. Mari kita bangun kasih Persaudaraan Gerejawi itu dengan segenap daya dan dana kita. Policy TUG dalam bentuk baru bahkan Berbagi Tenaga Ahli dalam Berbagai Ilmu dari Teologi sampai Psikologi. Rencana Kerja mungkin sudah agak matang, tetapi alokasi Anggarannya masih dinantikan. Apakah pekerjaan kita satu tahun ke depan dapat memuat banyak komponen Kasih Persaudaraan atau masih hanya An Attempt to Survive? Artinya, upaya untuk survive saja? GPI adalah Entitas Kebersaudaraan Gereja Saudara. GPI adalah Gereja yang terwujud dalam kehadiran GBMnya tetap secara Satu Tubuh GPI. Zelfstandige Deel van de Protestanse Kerk in Indonesie. GBM adalah Gereja Bagian Mandiri tetapi jangan Berdiri Sendiri-sendiri. Berdiri Bersama sebagai satu Tubuh Kristus, yang Esa, Kudus, Am dan Rasuli. GPI kalau dirumuskan sebagai Wadah Keesaan, maka Wadah itu harus dan adalah tetap Gereja. Pohon cengkeh meskipun menghasilkan banyak buah cengkeh , adalah tetap suatu pohon cengkeh. Lima tahun ke depan, setelah sungguh mendengar suara Tuhan serta jeritan Masyarakat Bangsa dan Umat Tuhan, bangkitlah untuk membangun Persaudaraan yang lebih kuat dan kokoh dan berikanlah sumbangan yang besar dan berarti bagi Pembangunan Pluralitas Bangsa ini, suatu Pluralitas yang didasarkan atas Pengakuan Kebhineka-Tunggal Ika-an Masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Pluralitas dan pengakuan atasnya bukan tujuan tetapi alat untuk melaksanakan perjalanan sebagai Bangsa, di mana Umat Kristiani dan Semua Umat Beragama dan Berkeyakinan lainnya adalah bagian yang tak terpisahkan, suatu integritas yang berada bersatu padu menuju Pembanguan suatu Masyarakat yang Adil dan Makmur penuh Kesejahteraan,penuh Syaloom!.

Allah bekerja dalam sejarah Bangsa Indonesia. Allah bekerja dalam sejarah GPI dan Umat Kristiani serta seluruh Gereja yang ada di tanah air dan bahkan dunia. Harga yang diminta Gereja Tuhan di Indonesia hanyalah Pengakuan yang Konstitusional dan Fungsional dan Faktual akan Keberagaman Adat, Budaya dan Agama di Indonesia. Bukan suatu tuntutan yang asing bagi semua. Bukankah ini merupakan Kesepakatan Dasar tatkala Memproklamirkan NKRI, 17 Agustus 1945? It was A Basic Deal, now it must become Real. Itu suatu Kesepakatan, Harus menjadi Kenyataan. Terimakasih Tuhan atas pekerjaan Para Fungsionaris BPHSA 2005-2010,beserta Badan Penasehat dan Badan Pemeriksa Perbendaharaan-nya, Selamat Bekerja Para Fungsionaris BPHSA GPI 2010-2015, beserta BP dan BPP-nya. Tuhan Yesus bersabda:”Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga”.(Yohanes 5:17). Sekali lagi Selamat Bekerja!. Tuhan beserta dengan Jemaat Tuhan yang melaksanakan Firman Tuhan dalam hidupnya. God Be With You. Amin.

Khotbah disampaikan pada Ibadah Minggu di Jemaat GPIB “Petra”,08 Agustus 2010, jam 09.00 yang berisi pula Serah Terima Jabatan Badan Pelaksana Harian Sinode Am dari BPHSA GPI tahun 2005-2010 kepada BPHSA GPI 2010-2015.