Deprecated: Function split() is deprecated in /home/gpib/public_html/textpattern/lib/txplib_misc.php(594) : eval()'d code on line 408
GPIB

Berita

Jemaat Suam-Suam Kuku

11 November 2009, 09:24

Wahyu 3:14-22
oleh : Pdt.Hallie Jonathans

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Selamat HUT LXI GPIB. HUT itu tepatnya kemarin, 31 Oktober 2009. Kita bersyukur karena GPIB telah memasuki usia akil balignya. Banyak yang telah dicapai. Kuncinya sekarang bukan lagi peralatan teologisnya, tetapi kemampuan para Pendeta, Penatua dan Diakennya. Apakah kuat atau lemah, apakah membawa kemajuan menuju Kristus atau malah sebaliknya? Apakah Gereja Tuhan ini adalah Gereja yang suam-suam kuku? Bagaimana Gereja di Laodikea? Kota Laodikea adalah sebuah kota yang sangat kaya. Dibangun oleh Antiochus II, yang menamakan kota itu menurut nama istrinya, Laodice(Loadais). Kota itu terletak amat strategis sebab merupakan pertemuan dari tiga jalan raya besar saat itu. Dengan demikian kota Laodikea amat komersial , Pusat Perdagangan yang amat besar dan berpengaruh. Saat itu Industri Perbankannya sudah maju. Industri manufakturnya yang terkenal adalah Wool Hitam. Kota Laodikea memiliki sebuah Sekolah Medis atau Sekolah Tinggi Kedokteran. Sekolah Medis itu menciptakan Zalf (Salp)/Obat Mata. (Eye Oint -ment). Kekayaan kota itu digunakan untuk membangun Teater, sebuah Stadion Yang Besar, memiliki Tempat Mandi Publik dan mall-mall perbelanjaan yang amat moderen tentunya. Terdengar seperti kota-kota di USA. Begitu kaya kota itu sehingga kota itu atau Walikotanya menolak bantuan dari pusat Negara, Roma, untuk membangun kembali kotanya pasca suatu gempa yang melanda kota itu.Kota Laodikea hampir seluruhnya hancur. Tetapi tetap ia tidak membutuhkan bantuan Ibu Kota Negara dengan sekalian dana bantuannya. Perusahaan Real Estate pasti amat berkesempatan dan kemudian berkembang. Juga saat kota ini hancur oleh gempa bumi yang kuat. Sebuah kota utk tempat tinggal yang nyaman. Kota ternyaman di antara Tujuh Gereja yang tersebut dalam Wahyu. Kota terkaya di Asia Kecil. Dari antara semua Gereja Bersaudara dalam Gereja Protestan di Indonesia , Gereja GPIB adalah Gereja terkaya. Dalam sudang-sidang GPI, para Pendetanya dan Presbiter lainnya sangat menonjol dalam cara berbusana,nampak amat sejahtera, , sehingga disebut Pendeta Pengusaha Sukses. Satu-satunya kekurangan kota itu adalah Sistim Supply Airnya yang tak berjalan baik. De stad had problemen met het aanvoer van water. Pada suatu saat dibangun suatu Aquaduct, suatu Terowongan Air yang Mengalir Masuk, untuk menampung Air Dari Sumber Air panas itu yang dialirkan ke kota. Tatkala air panas dari sumber air panas mencapai Kota Laodikea, maka keadaannya tidaklah panas lagi. Air panas itu telah menjadi dingin. Tetapi air itu tidak juga menjadi air yang dinginnya menyegarkan. Itulah sebutannya, air itu menjadi suam-suam kuku. Air lauw-lauw. Air lauw-lauw inilah yang memasuki kota Laodikea. Air suam-suam kuku pastilah bukan air yang enak. Demikianlah Jemaat di Laodikea telah menjadi suam-suam kuku. Oleh karena itu tidak menyegarkan, tidak enak, semangat setengah hati, weerzinwekkend, reluctant. Ketidak-pedulian mereka membuat mereka menjadi sia-sia. Dan dengan cara membiarkan tak dikerjakan dan tak dipelihara suatu pekerjaan bagi Kristus Tuhan, maka Jemaat menjadi keras dan menjadi berpuas diri, zelfingenomen. Orang yang merasa puas dengan dirinya seolah semuanya baik-baik, tidak akan beroleh kemajuan. Dengan cara itu jemaat sedang meruntuhkan dirinya. Keadaan Jemaat atau Gereja Laodikea, adalah keadaan di mana kekayaan dan kecemerlangan terlihat dengan nyata. Bukan hanya cara berbusana tetapi cara penyelenggaraan gerejanya amat luxirious. Gereja mempunyai peraturan yang amat ampuh, hebat. Semua dapat diatur dengan memuaskan semua pihak. Kita masih ingat tentang seorang Raja yang dibodohi oleh Penjahit Ulung. Penjahit ini menyatakan sanggup membuat pakaian kebesaran bagi raja, sebuah pakaian yang terindah dengan model yang paling mutakhir. Tatkala pakaian itu jadi, maka penjahit itu memperlihatkan hasil busana agungnya kepada Raja. Raja menjadi bingung sebab apa yang dikatakan pakaian yang sudah jadi dan agung itu sebetulnya tidak nampak sama sekali. Tetapi Penjahit dan Pembesar atau Menteri-Menteri Raja itu menyatakan bahwa pakaian itu amat indah. Raja membuka seluruh pakaian luarnya dan kemudian menjadi telanjang, sebab sekarang ia hendak memakai pakaian barunya yang agung itu. Setelah mengenakan pakaian nan indah , demikian pengakukan profesional Sang Penjahit itu, maka Raja berjalan memasuki kota untuk mendapatkan eluan Warga Kerajaan itu. Mereka yang memuji kehebatan pakaian Raja. Padahal sebenarnya pakaian itu tidak ada sama sekali. Tetapi Penjahit itu berkata barangsiapa menyatakan tak melihat maka itu bukan karena pakaian itu tak ada. Sebabnya adalah karena mereka Tidak Memiliki Kompetensi yang Cukup untuk melihat pakaian itu. Alasan kedua mereka tidak melihat pakaian dan keindahan pakaian itu adalah karena mereka itu orang bodoh. Siapa dari antara Menteri mau disebut orang bodoh dan tidak kompeten. Termasuk Para Panglima Angkatan Perang, Petinggi Hukum dan HAM saat itu, semua tak mau disebut Tidak Memiliki Kompetensi yang Cukup atau Bodoh. . Dus, semua mengumandangkan Koor:”Indah sekali pakaian Baginda Raja. Raja tampan sekali, Agung sekali”. Hanya orang yang Iri, Jealous. Jaloers, dan yang dipenuhi kebencian yang akan menyatakan Raja telanjang, tak berbusana sama sekali. Jadinya saya teringat akan Cerita Cicak lawan Buaya. KPK lawan Polisi. Dan seterusnya, dan seterusnya. Lalu menghadapkan Presiden yang harus menilai semua ini dan membuat keputusan. Siapakah yang benar? Kita prihatin apabila keadilan diperjual-belikan. Tetapi kita juga harus menghormati seluruh proses penyidikan dan kemudian peradilan yang terbuka dan transparan. Kita tidak dapat mempertaruhkan segalanya, seperti keberadaan negara hanya untuk tegaknya satu hal seperti hukum dan keadilan. Hukum dan Keadilan harus memang ditegakkan. Tetapi penegakkannya janganlah sampai mau mengorbankan persatuan dan kesatuan, tekad dan komitmen serta praxis berbangsa dan bernegara. Kalau kita harus menempuh jalan yang agak panjang untuk itu, marilah kita menempuhnya. Sebab masih ada Kebenaran, Pengampunan,Pertobatan, Rekonsiliasi, Kesejahteraan, Rasa Aman, Semangat Cinta dan Bela Negara, Pemerintahan yang Bersih atau Clean Governance, semangat dasar berdiri untuk Negara dan Banga , Kesatuan dan Persatuan, Tegaknya Trias Politica, Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif, membela semua ini dalam keadaan apapun dan terhadap siapapun. Ada seorang anak kecil yang berada di pinggir jalan. Ia tidak punya kepentingan apapun. Memihak Penjahit tidak berarti apapun sebab ia tidak mengerti perang politik yang terjadi. Ia tidak ikut menirukan pujian para Menteri dan Pembesar Sipil dan Militer saat itu, sebab ia masih terlalu kecil dan belum bisa ikut memilih apabila ada Pemilu. Anak Tanpa Kepentingan itu berkata dengan apa adanya, jujur dan polos saja: “Bapak Raja, Bapak telanjang, Bapak telanjang!”. Mungkin seruannya berkali-kali tetapi para satuan Pengaman segera meringkusnya. Mungkin mereka berkata kepada anak itu: Anakku, engkau sama sekali tidak memiliki kompetensi untuk menilai sesuatu. Bahkan Para Pembesar dan Para Ahli melihat bahwa Raja saat ini berpakaian, bagaimana mungkin kamu ini mau melebihi para Pembesar dan para Cendekia ini dengan menyatakan Raja telanjang? Jangan-jangan kamu iri kepada Raja. Jangan-jangan ada partai yang mempengaruhimu untuk membenci Raja. Lalu kamu mengeluarkan kata dan penilaian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran. Bagaimana mungkin kamu menyatakan Raja telanjang!. Ayo ikut ke Tempat Tahanan Anak”. Itulah yang terjadi dengan Sang Saksi. He is the Final Word. Ialah Amin artinya Kata Terakhir pastilah akan keluar dari Sang Saksi, The Witness ini. Sekarang betapa banyaknya Saksi Koma. Ada memang Teater Koma. Mungkin karena hendak terus berkarya memagelarkan pertunjukkan Teater. Bintang-bintangnya keren-keren. Cerita lakonnya pilihan. Sindiran dan banyolannya selalu punya alamat tertentu sebagai tujuan. Kita juga sedang berada dalam pentas sandiwara akbar. Sandiwara Kehidupan Nyata dengan banyak banyolan dan sindiran, kepentingan dan perseteruan, kebencian dan kemunafikan. Sandiwara itu adalah sebenarnya kehidupan nyata. Kita tak dapat berdiri dan menyatakan kebenaran. Kita memiliki banyak kepentingan dan memerlukan perlindungan tertentu. Kita menggunakan kata Amin dengan cara kita. Amin digunakan sebagai Kata Terakhir Kita. Amin kita sebut untuk menyatakan persetujuan kita. Amin kita katakan sebagai kata final, tatkala menurut kita semua sudah mencapai akhir. Amin juga berarti penuh kepastian. Amin artinya kepastian sebab merupakan akibat-akibat dari Kebanaran yang Absolut, yang tak terbantahkan. Tatkala kita berkata amin, maka kita hendak menyatakan adalah sia-sia dan bodoh untuk masih berdebat atau berargumentasi, sebab apa yang telah dikatakan adalah Kebenaran. Tuhan Yesus adalah Amin bagi Gereja-gereja-Nya. Juga Amin bagi GPIB. Amin inilah yang berkata kepada Gereja yang Kaya, yang amat maju seara material, dan merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi, secara mengejutkan berkata tanpa takut terhadap apapun:”Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas.Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan meuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata:”Aku kaya dan telah memperkayakan diriku, dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasehatkan engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumasi matamu, suaya engkau dapat melihat. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor, dan Kuhajar, sebab itu Relakanlah Hatimu dan Bertobatlah!. Perkataan Tuhan, Saksi dan Amin itu dapat berarti bahwa Ia menyalahkan , mengutuk, atau membebaskan mereka. Oleh sebab itu apa yang dikatakan Tuhan, Saksi dan Amin itu janganlah kita anggap enteng. Bukankah Ia yang menjadi Sebab Pertama dari segala ciptaan, permulaan dari semua ciptaan. Kristus adalah Pembuat Ciptaan ini. Dia yang di dalam Dia, kita segenap Ciptaan menemukan Permulaan kita, (Yohanes 1:1-3). Juga Gereja-Nya adalah ciptaan-Nya. Oleh karena itu sebagai Gereja kita patut menjawab-Nya. Kita harus memberikan jawab kepada-Nya. Kata Laodikea berarti Kedilan Rakyat. Justice of the People.Kata yang dekat adalah Laos dan Dikaiosune. Ini penting kita ingat, sebab sering keadilan bukan milik rakyat. Keadilan itu milik orang lain, atau keadilan itu tidak pernah berpihak kepada rakyat. Sering juga perwakilan mereka kurang memberikan apa yang diharapkan rakyat. Jadinya kita akan terus menelusuri jalan mencari keadilan. Keadilan menjadi mahal dan sukar ditemukan. Kembali pada kata Loadikea, artinya bahwa Kota itu milik rakyat Laodikea, dan bahwa rakyatlah yang memiliki kata terakhir menentukan apa yang benar bagi kota mereka. Tuhan Yesus berkata: Jemaat Laodikea, telah melenceng dari arah yang harus ditempuh dan pengertian yang harus dimilikinya. Gereja Laodikea adalah milik orang Laodikea. Jadi bukan milik Tuhan. Sebab mereka berkata merekalah yang membangunnya. Mereka yang mengusahakannya. Uang merekalah yang dipakai untuk mendirikan gereja ini. Keringat merekalah yang telah keluar tatkala membangunnya. Lalu Jemaat atau gereja Laodikealah yang menentukan apa yang harus diajarkan, dan apa yang harus dikhotbahkan, dan apa yang harus dipraktekkan. Tuhan berkata keberadaan mereka atau hal mereka hadir menjadi manusia dan berada saat itu di Laodikea, adalah karena kasih karunia-Nya. Mereka ada di Laodikea karena Tuhan. Mereka di sana atau kita di sini adalah untuk Kemuliaan Tuhan. Dus bukan untuk kemuliaan atau kebesaran kita sendiri. Sebagai Amin ,maka Ialah yang mene ntukan bagaimana Gereja harus nampak, dan apa yang harus dikerjakan Gereja-Nya. Sebagai Saksi yang Setia dan Benar, maka kita harus mendengarkan-nya, dan belajar dari Saksi dan Amin. Kita sebagai Gereja harus menjadi sama seperti yang dikehendaki oleh Kristus atau kalau kita melawan maka kita akan dipersalahkan atau dihukum. Apa kesalahan Gereja yang nampak? Salahnya adalah bahwa ia tidak panas, tidak dingin alias suam-suam kuku. Kita menjadi gereja yang netral, penuh kompromi. Kita memihak semua dan tak pernah menentang sesuatu. Kita serba permisif, semua ajaran kita terima saja. Semua gaya hidup dan gaya kepemimpinan kita terima saja. Kita membangun tenda besar bagi pelbagai pandangan hidup, atau filsafat pribadi atau kelompok. Kita menjadi Gereja Yang Berpuas Diri, sudah cukup keren, sudah cukup bagus, dan bahkan menganggap diri tidak tertandingi. Berbahaya menjadi Gereja yang Memuakkan. Sepertinya membuat orang lain senang atau betah, tetapi sebenarnya kita membuat Kristus menjadi sakit. Lukewarmness makes Christ sick. Gereja yang Puas pada Dirinya adalah justru menjijikkan bagi Kristus. (Jesus finds it repulsive). Gereja yang berpikir bahwa harta bendanya dan kekayaannya akan menyelamatkan perjalanannya atau praktek bergerejanya, maka Kristus akan berkata: Berhenti dan Bertobatlah!. Jangan menjadi Gereja yang hanya melihat kepada kekayaannya, apa yang dapat diharapkannya sebagai Resources yang pasti itu. Gereja yang demikian tidak melihat atau menaruh perhatian pada apa yang tak nampak dan yang kekal itu. Gereja dapat sekali memikirkan bahwa dirinya kaya, tetapi sebanarnya amat miskin sebab tidak memiliki apa-apa. We think we have everything, but in fact we have nothing. Gereja tidak memiliki apa yang seharusnya dimilikinya. Mimbar Khotbahnya tidak mempunyai kuasa untuk merubah, atau membawa kepada pertobatan dan perubahan budi, tak ada doa yang sungguh dari Mimbar Doa. Tak ada kerinduan untuk menjamah jiwa-jiwa baru. Kristus tidak hadir dalam ibadah-ibadah Gereja itu. Gereja Laodikea demikian akan dimuntahkan Kristus. Gereja yang menjijikkan sebab mereka telanjang. Bukan hanya pemimpin politik yang bisa telanjang, pemimpin rohani juga, atau persekutuan Gereja juga dapat telanjang. Seluruh praktek pelayanannya dapat memalukan. Kita seperti Raja yang dikatakan para Pembesar, sudah berpakaian tetapi kenyataannya adalah telanjang. Kita dapat menjadi Gereja yang tak mau tahu akan kondisi kita yang sebenarnya, sebagai pribadi Kristiani atau Persekutuan atau juga Majelis atau juga Jemaat. Gereja Tuhan haruslah Gereja yang membuka pintunya bagi Tuhan, tatkala Tuhan mengetuk pintu Gereja kita, baik sehari-hari, maupun dalam Sidang Majelis Jemaat maupun dalam Persidangan Sinode Tahunan mamupun Persidangan Sinode Lima Tahunan. Tuhan Yesus berkata:”Jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku, dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya, dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”. Apakah kita mendengar suara Tuhan mengetuk Pintu GPIB , apakah itu dalam Sidang Majelis Jemaat atau Sidang Majelis Sinode atau Persidangan Sinode Tahunan, atau Persidangan Sinode Lima Tahunan kita? Apakah kita mendengarkan suara-Nya tatkala kita memilih Fungsionaris Majelis Sinode? Ataukah sudah ada semacam rekayasa? Apakah ada kepentingan yang harus kita pertahankan, bukan bagi kemuliaan Kristus tetapi bagi kemuliaan kita? Kita terus diuji lewat evaluasi demikian. Gereja yang merayakan HUT LXI seharusnya bertobat dari Tiga Hal yang selalu dapat terulang pada kita.
1. Bertobat dari sifat Suam-suam kuku. Tak boleh menjadi Gereja Lauw-lauw.(Lukewarm Church).
2. Bertobat dari Berpuas Diri. Janganlah pula menjadi gereja yang berpuas diri. (Complecent Church).
3. Jangan menjadi Gereja yang terus menerus melakukan Kompromi.(Compromising Church).

Mari kita beriman teguh. Hanya dengan iman kita belajar mendapatkan sesuatu dari Tuhan saja. Iman membuat kita memiliki Kerinduan akan Kebenaran. Kita tak akan terperangkap oleh kedegilan kita, kebaikan kita. Tuhan Yesus berkata hanya ada satu yang baik yaitu Allah Bapa di surga. Tetapi kitapun harus memiliki kerinduan akan kebenaran. Terkadang Gereja merasa dirinya kaya dan tak butuh apapun. Tetapi Kristus berkata bahwa kita harus datang membeli emas yang telah teruji (karatnya). , Kekayaan Kerajaan Surga yang harus dikenakan baik dalam bentuk busana (Fashion) yang memuliakan nama-Nya, maupun pilihan warna yang amat menarik bahkan memukau ketakjuban rohani atau ketakjuban spiritual banyak orang. (Laodikea terkenal sebagai Kota Fashion dan Pabrik Cat yang sangat terkenal saat itu). Terkadang kita merasa sudah penuh, tak kekurangan apapun. Kita harus memiliki Kerinduan mendapatkan Spiritualitas yang Benar, True Spirituality; yang memungkinkan kita melihat hal-hal sebagaimana Tuhan melihatnya. Jangan membiarkan Kristus di luar Gereja kita, sehingga Ia sia-sia berdiri dan mengetuk. Persilahkanlah Dia masuk dandengarkanlah Dia. Never shut Christ out of the GPIB.
Let Him in. Listen to Him. Obey Him. Biarlah Roh Kudus Allah memerintah dalam kehidupan kita pribadi, persekutuan dan Gereja kita. Kalau kita melakukan semua itu, maka kita akan menjadi Gereja yang Menang,(A Victorious Church), bahkan akan memerin -tah bersama-sama dengan Kristus di atas Takhta-Nya. Pastikan bahwa Kristus hadir dalam GPIB. Biarkanlah pintu GPIB tetap terbuka bagi Kristus. GPIB hanya akan tenang apabila memiliki Kristus di dalam dirinya dan di dalam semua Presbiternya dan dalam semua tatanannya. Biarlah hati kita demikian peka tatkala ia mengetuk pintu hati kita. Dialah yang memiliki kehadiran yang berkuasa merubah hidup kita. Peringatan dan prinsip-prinsip ini bukan hanya bagi Jemaat atau Gereja Laodikea, Gereja yang Sempurna, bagi GPIB saja. Bukan, Semua ini adalah bagi Seluruh Gereja Tuhan di dunia. Jadilah demikian. Lakukanlah Perubahan yang Signifikan, Bertobatlah dan kita pasti akan menjadi Gereja Pemenang. GPIB, Ekklesia Nike! Amin.