Berita

Hukum yang Terutama

18 August 2010, 10:18

RENUNGAN PADA HUT LXV
PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA:
TENTANG HUKUM YANG TERUTAMA

Matius 22:37-40.
Oleh : Pdt.Hallie Jonathans

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

The summary of the Law, atau inti sari dari Hukum Taurat adalah kombinasi dari dua ayat , yakni : Ulangan 6:5, yang tertulis:Kasihilah Tuhan Allahmu, denghan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatan mu;dan Imamat 19:18 di mana tertulis: Jangan engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Rabi Akiba yang mati sebagai syahid, tahun 135 Masehi, berkata bahwa Imamat 19:18 adalah Pokok Terbesar dari Taurat.(the greatest principle of the law). Para Rabi sangat suka melakukan exemplifikasi, membuat aphorism, artinya pemberian contoh dan membuat perlawanan arti sehingga mendapatkan suatu arti yang sebenarnya. Seorang rabi menceritakan bahwa: Musa memberikan 613 perintah Taurat, Sedangkan Daud mereduksikannya menjadi hanya sebelas perintah Taurat (Lihat Mazmur 15:2-5).: 1. Dia yang tidak bercela; 2, Melakukan apa yang adil, 3. Mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya; 4. Yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya; 5. Yang tidak berbuat jahat terhadap temannya, 6. Yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; 7. Yang memandang hina orang tersingkir; 8. Tetapi memuliakan orang yang takut akan Tuhan; 9. Yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; 10. Yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba; 11. Tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Yesaya mereduksikannya menjadi enam perintah Taurat, (Yesaya 33:15),

1. Orang yang hidup dalam kebenaran.

2. Orang yang berbicara dengan jujur;

3. Yang menolak untung hasil pemerasan;

4. Yang mengebaskan tangannya, suoaya jangan menerima suap;

5. Yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah;

6. Yang menutup matanya supaya jangan melihat kejahatan.

Mika mereduksikannya menjadi tiga perintah Taurat,(Mika 6:8);

1. Berlaku adil;

2. Mencintai kesetiaan;

3. Hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.

Amos mereduksikannya menjadi satu perintah Taurat;

(Amos 5:4); “Carilah Aku, maka kamu akan hidup”. “Carilah Tuhan, maka kamu akan hidup!” (ayat 6).

Habakuk mereduksikannya menjadi hanya satu perintah Taurat.(Hab.2:4 )

“Orang benar itu akan hidup oleh percayanya”.

Dalam Injil Matius 7:12 , Tuhan menyatakan suatu Perintah Emas, Golden Rule;

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki, supaya orang perbuat kepadamu; perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para Nabi”. Dalam Yakobus 1:27 dinyatakan suatu Hukum Emas juga:
“Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia”.

Bagian Matius 22:37-40, berasal dari dari Markus 12:28-34.
Bagian ini juga diambil oleh Matius dari sumber Q, yang direpresentasikan oleh Lukas 10:25-28.
Dalam pasal atau sumber Q, dikatakan ada seorang ahli Taurat yang tidak dikenal, yang mengutarakan hukum ini dan Tuhan Yesus memujinya untuk hal tersebut.
Dalam Injil Markus hukum utama tersebut merupakan summary atau ringkasan yang dibuat oleh Tuhan Yesus, dan seorang rabi menyambut apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan appresiasi yang hangat dan sungguh-sungguh. Tuhan Yesus dengan demikian bukanlah orang yang pertama yang membuat kesimpulan atas hukum Taurat; ( summing up the law); pada bagian ini Tuhan Yesus dan Para Farisi berdiri di atas tanah yang sama. (stand on common ground). Perbedaannya adalah bahwa Tuhan Yesus menafsirkan secara bebas apa yang dituliskan secara positif dari tradisi lisan dan tradisi tertulis, (oral and written law) dari Taurat itu. Ahli Hukum atau Lawyer adalah Nomikos, sama arti katanya dengan Ahli Kitab atau Scribe,(Skriba dalam bahasa Indonesia lama sering berarti Sekretaris), artinya Rabbi atau Rabi , seorang yang terpelajar dalam hukum agama, one learned in the religious law.
Yudaisme memiliki wawasan etis dan religius yang indah.
Hubungan kita dengan seama kita akan menjadi kekacauan (chaos) kecuali kita pertama-tama mengasihi Allah. Sesama kita tidak memiliki hikmat yang terakhir, mereka adalah juga ciptaan, oleh karena itu mereka adalah bagaikan lampu-lampu yang berkelap-kelip di kejauhan pelabuhan yang kita tuju. Olehnya kita tidak bisa mendapatkan bimbingan untuk memasuki pelabuhan dengan aman dan tepat dan sempurna. Oleh sebab itu ikatan kita yang terdalam adalah dengan Allah Sang Pencipta. Hanya di dalam Dialah kita belajar tentang maksud hidup, dan menemukan kuasa untuk memenuhinya.
Garis vertikal dari hidup adalah garis, hanya apabila kita secara benar meneguhkan atau mendirikan hubungan dengan Allah maka kita dapat mengharapkan suatu persahabatan-persahabatan yang stabil dan bersinar dengan sesama kita.
Hukum Terbesar atau the Greatest Commandment hanya dimungkinkan dalam Kasih Allah, seperti dinyatakan dalam
1 Yohanes 4:19:
”Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”.
Hidup kita tidak cukup panjang untuk menyatakan kepatuhan kita, Tuhan, perintah itu pada dirinya menyembunyikan janji kekekalan.
Dalam 1 Yohanes 4:20 dinyatakan: Jikalau seorang berkata:”Aku mengasihi Allah” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.
Pertanyaan yang terbesar dari abad ke abad adalah :”Siapakah sesamaku?/Who is my neighbor?”. Kisah Orang Samaria yang baik hati, merupakan karya klasik yang luar biasa yang dikisahkan atau dinarasikan oleh Tuhan Yesus, tercatat dalam Lukas 10:29-37. Tuhan Yesus tidak mengenal adanya tembok-tembok bagi kata sesama kita, Tidak ada kekurang-berhagaan seseorang , bukan pula warisan rasial maupun nasional, tiada halangan kelas, kebudayaan, dapat membuat sesorang berbeda dari sesamanya. Dengan narasi itu, Tuhan Yesus meruntuhkan semua tembok yang didirikan di antara manusia, ras, bangsa agama, kebudayaan, bahkan apapun yang membedakan dalam membangun suatu masyarakat dunia yang sama dan sederajat.

A neighbor is anybody to whom I can be a neighbor.
Sesama adalah siapa saja yang kepadanya saya dapat menjadi sesama.
Tuhan Yesus menggambarkan kasih itu secara baru dalam suatu gambaran baru dari Allah dan suatu perumusan baru tentang sesama.
Filsuf Immanuel Kant berkata: “True neighborliness means treating every man not as a means, but as an end”. Artinya :Kesesamaan berarti memperlakukan setiap orang bukan sebagai suatu alat, tetapi sebagai suatu tujuan. Tetapi tiada manusia yang dapat menjadi suatu akhir bagi dirinya, sebab ia hanyalah makhluk ciptaan. Hanya Kristus yang adalah Alpha dan Omega. Yang Awal dan yang Akhir. Kita harus mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi Allah. Kita harus mengasihi sesama kita dalam Allah yang sedemikian besar kasih-Nya akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, agar siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. (Yohanes 3:16).
Kasih sedemikian inilah yang membebaskan pelayanan sosial dari materialisme, sebab kita adalah anak-anak Allah. Human love stands in the background of what God has done for us in Christ, and can never therefore be exempt (dibebaskan) from any needful ministry; the world that shapes a neighbor’s soul must itself be shaped. Kasih manusia berdiri di latar belakang dari apa yang dilakukan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus bagi kita, dan tidak dapat dibebbaskan dari suatu pelayanan yang dibutuhkan, dunia yang membentuk jiwa sesama, harus pada dirinya juga dibentuk kembali.
Love God with all our powers. Kasihilah Allah dengan segenap kekuatan atau kuasa yang ada pada kita.
We are made to love and worship; Hidup kita bukanlah bagaikan danau yang tidak mempunyai saluran air keluar, tetapi kita adalah bagaikan sungai yang mengalir ke laut. Kalau kita terhenti pada diri kita, maka kita akan mengalami stagnasi dan akan mati.
We are made to love with the whole self. Mengasihi dengan seluruh diri kita. Dalam Filipi 3:13 Rasul Paulus berkata:’Tetapi ini yang kulakukan!”.
Hidup kita bagaikan suatu sungai yang mengalir dan bermuara di laut tujuan ilahi. Bagi sungai yang demikian tidak ada kisaran atau penyesalan dan tiada stagnasi atau kematian. Kedalaman menelannya, sebab ia digerakkan oleh kasih bagi Allah dan sesama!.
Sebagaimana Allah mengasihi kita di dalam Yesus Kristus, sedemikian kita harus juga menghormati hidup kita sendiri. Honor our own life !. Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia, pada HUT ke 65, Proklamasi Kemerdekaan RI. Merdeka! Merdeka Tenan Yah!
Amin.