Dalam mencapai usia yang ke 60 tahun, GPIB sedang menjalani masa 20 tahun langkah panjang ke dua dan mem-positioning-kan dirinya untuk menjadi Jemaat yang Misioner. Mem-‘positioning’-kan berarti berupaya untuk dapat mencapai suatu ‘position’ yang dicanangkan atau dicita-citakan. Untuk itu GPIB sedang dan akan melakukan segala upaya gerejawi untuk kelak dikemudian hari dapat diakui sebagai Jemaat yang Misioner. Hal tersebut tidaklah mudah, apalagi ditengah-tengah masyarakat pluralistik yang terdiri dari berbagai suku, budaya dan agama.
Dalam pembahasan lebih lanjut, penulis lebih memfokuskan pada konteks keberadaan GPIB di tengah-tengah masyarakat Indonesia, dan bagaimana wujud kemisioneran itu diupayakan dan dicapai.
1. Apa itu Jemaat yang Misioner?
Jemaat Misioner, jemaat yang menjalankan tugas panggilan dan pengutusan, bukan saja dalam arti terbatas melaksanakan Amanat Agung (Matius 28:19-20), tetapi menjalankan seluruh aspek kehidupannya dengan berpedoman pada ajaran Kristus Raja Gereja yang terdapat dalam Kitab Suci Kristen Perjanjian Baru. Meminjam pernyataan Conrad Love : ”Sementara gereja bertumbuh, pelayanan yang diwariskan gembala harus berkurang dan pelayanan yang diwariskan jemaat harus bertambah”
Dalam menjalankan tugas panggilan dan pengutusan tersebut, tidak dapat dipisahkan dengan konteks dan dinamika perkembangan masyarakat Indonesia, baik dari aspek sosial budaya, ekonomi, hukum, politik dan terutama aspek spiritualnya.
2. Bagaimana GPIB dapat menjadi Jemaat yang Misioner?
Dalam proses memposisikan dan akhirnya mencapai posisi sebagai Jemaat yang Misioner, GPIB memiliki potensi kunci faktor keberhasilan.
a. Sistim pemerintahan GPIB
Sistim pemerintahan GPIB adalah ’Presbiterial-Sinodal’, dengan titik tolaknya Jemaat (Gereja) setempat. Pimpinan Gereja dipercayakan pada Presbiter yang beranggotakan para pejabat-pejabat Gerejawi, yang secara bersama-sama memikirkan, merencanakan, menerapkan dan mempertanggung jawabkan (Sunhodos) seluruh kegiatan pelayanan dan pengutusan Gereja. Dengan sistim pemerintahan ini, dalam menjalankan misinya, GPIB berpeluang untuk lebih fleksibel, kreatif dan ’independen’ untuk merespon dan beradaptasi sejalan dengan kebutuhan dan dimamika masyarakat sekitarnya.
b. Pemahaman Iman GPIB
Dalam Pemahaman Iman GPIB menyangkut tujuh pokok : Keselamatan, Gereja, Manusia, Alam dan Sumber Daya, Negara dan Bangsa, Masa Depan dan Firman Allah.
Beberapa hal terkait dari Pamahaman Iman tersebut yang menjadi landasan bagi terwujudnya Jemaat Misioner, GPIB menyadari bahwa : Keselamatan yang dikerjakan Kristus terbuka bagi seluruh umat yang ada di muka bumi, GPIB terpanggil untuk turut berperan serta dalam menjaga kelestarian Alam dan Sumber Daya, GPIB ingin memberi nilai tambah atas keberadaannya dilingkungan masyarakat pluralis dan bagian dari Bangsa dan Negara Republik Indonesia.
c. Visi dan Misi GPIB
Visi ”GPIB menjadi Gereja yang mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaanNya”
Misi “Mewujudkan kehadiran GPIB yang membawa damai sejahtera Allah agar menjadi berkat ditengah-tengah masyarakat dan dunia”.
Berlandaskan Visi/Misi tersebut, lebih lanjut GPIB secara terpola menjabarkan perencanaan strategis dalam Pokok Pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan (PKUPPG) jangka panjang, menengah dan tahunan. Dengan demikian GPIB mempunyai tujuan dan sasaran yang jelas, disertai perangkat tolok ukur untuk mengevaluasi pencapaian pada setiap tahapnya.
Dari Visi/Misi diatas, secara tulus dan jujur GPIB bercita-cita untuk memposisikan dirinya sebagai gereja yang terbuka dan gereja yang membawa damai sejahtera ditengah-tengah masyarakat dimana dia berada.
d. Kualitas Kepemimpinan
Walaupun dalam sistim pemerintahan Presbiterial-Sinodal dipahami kepemimpinan adalah bersifat kolektif, tetaplah para pemimpin gerejawi, dalam hal ini para ketua-ketua majelis, baik ditingkat Sinodal maupun ditingkat Jemaat , dituntut untuk memiliki kualitas kepemimpinan yang melayani, tulus, jujur, misioner dan terampil dalam manajemen pelayanan gereja.
Gereja tumbuh oleh kuasa Roh Kudus melalui tangan-tangan pemimpin-pemimpin yang terampil dan berintegritas.
e. Sumber Daya Insani dan Finansial.
Dari sudut sumber Daya Insani, secara demografi warga jemaat GPIB terdiri dari berbagai tingkat, baik sosial, ekonomi dan pendidikan yang heterogen. Namun kalau disatukan potensinya dan dengan prinsip saling menopang, secara keseluruhan dapat dikatakan warga jemaat GPIB berpotensi untuk menjadi warga yang memberi nilai tambah dilingkungan masyarakat disekitarnya.
Dari sudut finansial, dengan memiliki aset yang begitu ’banyak’ tersebar diberbagai lokasi yang strategis di Indonesia, apabila dikelola secara lebih profesional, tepat guna dan hasil guna, dapat menjadi sumber finansial untuk menunjang kegiatan operasional dan misi pelayanan gereja ditingkat Sinodal/Nasional.
Untuk tingkat Jemaat, beberapa warga jemaat di kota-kota besar, sangat berpotensi untuk mendukung pendanaan kegiatan diakonia dan pelayanan lainnya. Pertanyaannya: ”apakah warga jemaat termotivasi untuk berpartisipasi sebagai bentuk rasa syukur atas berkat dan karunia yang mereka peroleh?”, itu masalah lain.
Kita menyadari di GPIB, ketersediaan data akurat tentang hal-hal tersebut diatas sampai saat ini ’belum tersedia’, penulis hanya berasumsi berdasarkan informasi yang diperoleh secara parsial dan diekstrapolasikan. Untuk itu, sudah saatnya GPIB memiliki departemen Litbang yang profesional dan departemen khusus untuk pengelolaan aset-aset GPIB.
3. Siapa yang melegitimasi atau memberi pengakuan?
Pengakuan/legitimasi terhadap adanya tindakan nyata yang sedang berlangsung sebagai upaya memposisikan diri, atau kelak kemudian sudah tercapainya posisi sebagai Jemaat yang Misioner, dapat dilihat dari dua sisi yang tidak terpisahkan. Pertama pengakuan yang berasal dari anggota Jemaat itu sendiri, yang dirasakan langsung oleh warga jemaat sebagai hasil dari upaya gereja yang terprogram dan intensif, berupa meningkatnya Iman jemaat yang terlihat lewat kebersamaan dan partisipasi jemaat dalam berbagai pelayanan dan pengutusanNya. Kedua pengakuan dari masyarakat sekitarnya, karena dapat merasakan kehadiran dan partisipasi nyata gereja dalam mengatasi masalah-masalah krusial yang dihadapi masyarakat, dan gereja dapat diterima menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dengan sukacita.
4. Apa bentuk upaya konkrit GPIB menuju Jemaat Misioner?
Upaya konkritnya terlihat dari seberapa jauh tingkat kepedulian dan keterlibatan warga jemaat GPIB dalam hal-hal krusial yang sedang dihadapi masyarakat saat ini seperti: masalah kemiskinan, kebodohan, ketidak adilan, korupsi, konflik horizontal dan lain-lain.
Ada 2 langkah strategis yang perlu dilakukan GPIB secara simultan yaitu pendekatan Internal dan Eksternal
a. Pendekatan Internal
GPIB perlu lebih memberdayakan unit-unit Misioner ujung tombak, khususnya :
i. Bidang pelayanan kategorial
Memantapkan Pemahaman Iman dan pengertian tentang jemaat misioner, untuk meningkatkan pelayanan dan kesaksian serta partisipasi jemaat dalam membangun masyarakat ditempat mereka berinteraksi, melalui keterampilan masing-masing kategori jemaat
ii. Kelompok Fungsional dan Profesional
Memberdayakan dan meningkatkan keterlibatan para fungsional dan profesional sebagai ’think tank’ dalam mengembangkan konsep-konsep bagaimana GPIB sebagai institusi gereja, dan mereka secara individu ditempat berkarya masing-masing, dapat berpartisipasi dalam membangun Bangsa dan Negara.
iii. Bidang Gereja dan Masyarakat
Secara khusus lebih diintesifkan untuk mengembangkan komunikasi dan kerjasama, baik antar denominasi maupun antar umat beragama.
b. Pendekatan Eksternal
Dalam berperan serta membangun Bangsa dan Negara, GPIB sebaiknya memilih strategi berpartisipasi yang lebih realistis dan berdampak langsung dirasakan masyarakat, sesuai dengan situasi dan kondisi keberadaan Sumber Daya yang dimiliki,
i. Partisipasi dalam tingkat Sinodal dan/atau Mupel.
1) Dalam bidang pendidikan: mendirikan sekolah-sekolah formal yang difokuskan pada jenjang pendidikan SD, SMP, SMU, dan Sekolah Menengah Kejuruan lainnya yang dapat menyiapkan anak didik yang ’siap kerja’
2) Dalam bidang Kesehatan : mendirikan Rumah Sakit Umum kelas menegah-bawah dan sejenis klinik praktek dokter umum bersama, sehingga lebih diutamakan penyebaran /pemerataan pelayanan daripada kelengkapan dan sopistikasi pelayanan kesehatan yang disediakan
ii. Partisipasi di tingkat Jemaat
Jemaat GPIB diharapkan aktif berpartisipasi dalam pemberantasan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan melalui 3 bidang sebagai perwujudan nyata kehadiran GPIB sebagai Jemaat Misioner ditengah-tengah masyarakat sekitarnya.
1). Dalam bidang Pendidikan.
Setiap jemaat GPIB perlu dipersiapkan untuk mampu melakukan tindakan langsung dan konkrit, sekecil apapun itu, untuk mengupayakan bantuan pendidikan, utamanya bagi anak-anak usia 3-12 tahun dari masyarakat yang tidak/kurang mampu. Hal ini dapat diwujudkan, tergantung pada kemampuan jemaat setempat, dalam variasi penyediaan fasilitas yang sesuai, antara lain : – Mendirikan sekolah TK dan SD – Menyediakan tempat dan sarana belajar bersama secara informal. – Menyediakan perpustakaan khusus untuk anak-anak
2). Partisipasi dalam pelayanan Kesehatan. – Menyediakan klinik pengobatan gratis. – Menyediakan pos-pos pelayanan kesehatan terpadu – Bekerjasama dengan PMI, Yayasan Kanker dan Institusi sejenis lainnya.
3) Pertisipasi dalam menyediakan lapangan kerja. – Memberikan pembinaan kewirausahawan bagi warga jemaat dan masyarakat sekitar. – Memberikan pembinaan pengembangan usaha dan pemasaran bagi usaha-usaha kecil/ usaha rumahan warga masyarakat sekitar – Membangun database tentang informasi lowongan kerja dan pencari kerja yang dapat diakses warga jemaat dan masyarakat sekitar.
Kesimpulan
Dalam memposisikan diri sebagai Jemaat Misioner, dengan sistim pemerintahan presbiterial –sinodal, ketersediaan perangkat gerejawi dan potensi sumber Daya yang dimiliki, GPIB berpeluang untuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi Jemaat yang Misioner.
Dengan tuntunan Roh Kudus, Iman percaya dan ketulusan seluruh warga jemaat GPIB untuk menjalankan tugas panggilan dan pengutusanNya dan warga jemaat termotivasi dengan penuh sukacita meningkatkan kesaksian dan pelayanan yang berlandaskan prinsip tanpa pamrih, hanya untuk kemulianNya, maka kehadiran GPIB akan membawa damai sejahtera Allah dan menjadi berkat ditengah tengah masyarakat dan dunia”.
