Segala puji bagi Tuhan Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus yang telah membawa GPIB memasuki HUT ke 60, 31 Oktober 2008 ini. Waktu begitu cepat berlalu, perjalanan berkarya di dalam Gereja Tuhan ini terasa terlalu singkat. Life is too short, itulah rasanya pengabdian dalam Gereja ini. GPIB yang mulai dengan kesadaran kenasionalan yang segera terasa pada saat pemisahan bahasa dengan demikian memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa peribadahannya dan bahkan bahasa administrasi dan persidangannya. Berada di dua pertiga dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dipaterinya dalam nama Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat. Nama ini tidak pernah ingin dilepaskannya , meskipun pernah melalui trend untuk bahkan menambahkan kata Injili pada nama ini. Negara Kesatuan republik Indonesia dijunjungnya tinggi berkat kehadiran dan komitmen pelayanannya dalam suatu tatanan Negara Hukum.
Denominasi sebagai Gereja Protestan bukan saja menyatakan dengan tegas warisan teologi dan ekklesiologinya tetapi ia juga memilih konteksnya di Indonesia, di wilayah sebelah barat dari wilayah Pelayanan GMIM, GPM dan GMIT. Gereja ini pernah melalui suatu tatanan Klasis sebagai perwujudan pemerintahan gerejanya. Namun ia akhirnya tiba pada tatanan yang langsung yang dikenal sebagai pemerintahan Presbiterial-Sinodal. Warna Calvinistis dipegangnya dengan erat. Namun perkembangan selanjutnya memerlukan perubahan yang perlu dilakukan tetap harus dilakukan. Tatanan inilah yang dikembangkan memiliki sistim check and balance, dengan menetapkan apa yang dahulunya hanyalah merupakan Musyawarah Majelis Sinode dengan Mupel-mupel GPIB, menjadi Rapat Kerja Sinodal dan kemudian menjadi Persidangan Sinode Tahunan. Keuntungannya adalah bahwa perjalanan sinodal lima tahunan mempunyai stasiun antara untuk check and balance setiap tahunnya. Dari semangat dan format sebagai Rapat Kerja ia kemudian berubah menjadi suatu Persidangan Sinode Midi, sebab menghabiskan anggaran yang hampir separuh harga suatu Persidangan Sinode Lima Tahunan.
Namun apabila kita melepaskan diri dari hitungan biaya saja, kita dapat melihat adanya perkenalan dan pengenalan terhadap Pemerintah Daerah/Propinsi lengkap dengan Kepala Daerah Tingkat I dan seluruh eselon pentingnya, pengenalan akan Wilayah Musyawarah Pelayanan GPIB yang merupakan bentuk kolektif sebagian Jemaat-Jemaat dalam satu Wilayah Pelayanan tertentu. Biasanya Menteri Agama atau Menteri Koordinator yang membuka Persidangan Sinode GPIB Lima Tahunan, dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dengan megahnya. Namun setelah ada Rakerdal dan PST , Lagu Kebangsaan , Indonesia Raya berkumandang setiap tahun. Promosi Wilayah Pelayanan Gereja dan Pemerintahan Daerah Tingkat I terpadu dengan indahnya. GPIB yang lahir dua puluh tahun setelah dan tiga hari setelah Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 dan empat puluh tahun setelah Kebangkitan Nasional, 1908, memang merupakan Gereja Tuhan di Nusantara Indonesia, terdiri dari pelbagai suku bangsa di Indonesia dan Warga Luar Negeri yang bermukim di wilayah pelayanan GPIB dan menggunakan bahasa kesatuan bangsa, bahasa Indonesia.
Pemekaran pelayanan GPIB terasa benar dengan makin bertemunya titik-titik pelayanan di suatu regio tertentu dengan regio di dekatnya. Titik-titik pelayanan makin hari makin mendekat satu dengan lainnya. Warga gereja yang merupakan barisan imamat am yang amat beragam latar belakang budaya, bahasa daerah, wilayah dan sosial ekonominya terasa merupakan barisan yang tengah berjalan bahkan menembusi wilayah yang tadinya tidak terbayangkan akan mengenal Injil Kristus. Profesionalitas dan kompetensi, ilmu, teknolgi dan ketrampilan bahkan sampai wira-usaha, baik sebagai pegawai negeri sipil, militer , swasta , karyawan dan karyawati, semuanya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, menempatkan diri sebagai satu umat tanpa penghalang sosial apapun di antaranya.Dari yang menjabat Menteri sampai Anggota Legislatif, Yudikatif sampai usaha kecil catering makanan Manado, Jawa serta panganan kue Balapis, Pisgor gaya Natsepa Ambon dan berbagai panganan lainnya lainnya dalam kesehariannya nampak begitu berpadu.
Bagaimana dengan perupaan Para Pendeta GPIB. Tuhan mempersiapkannya dari Warga Jemaat-Jemaat GPIB yang tersebar luas di Tanah Air ini. Dari Wilayah yang nampaknya memiliki semacam preferensi, muncul kepemimpinan pada periode pertama GPIB. Dari Pendeta B. Supit yang mengkhotbahkan Khotbah Monumental Kemandirian GPIB,berdasarkan Keluaran 33:15.pada tanggal 31 Oktober 1948 di Willems Kerk, Gereja Immanuel DKI sekarang, sampai kepemimpinan Pdt. C.Ch Kainama yang membangun birokrasi GPIB melalui peraturan yang sederhana, mulailah Bahtera GPIB melakukan pelayaran perdananya dan pelayanan peralihan historis dari suasana Pra Kemerdekaan RI yang diakui Dunia Internasional (1949) sampai dengan terbitnya kepemimpinan baru GPIB ditandai oleh peranan serba flamboyan dari Pdt. D.R. Maitimoe. Gaya lokal, sinodal dan ekumenikal terasa terpadu kental, bahkan merambah sampai dunia pendidikan Teologi seperti STT Jakarta. Sayangnya cita-cita keesaan yang terdekat dalam Gereja Protestan di Indonesia amat kurang mendapat perhatian GPIB. Apalagi cita-cita keesaan dalam PGI , terasa peranan GPIB makin marginal saja. Dahulu, keesaan adalah bagian dari kesatuan GPIB. Institut Oikoumene Indonesia tak terpisahkan dari PWG GPIB. Kita senantiasa memiliki alasan untuk menyatakan kepedulian kesatuan Gereja GPIB dengan Keesaan Gereja-Gereja di Indonesia, dan bahkan sampai di pusat Dewan Gereja_Gereja se-Dunia dengan lembaga pembinaan Ecumenical Institute Bossey, Celigny, Geneve, Swiss. Juga dengan gereja-gereja Protestan se-Dunia, dalam WARC dan bahkan dalam kebersamaan Gereja-Gereja di Asia melalui CCA. Dalam era enam-puluhan dan tujuh-puluhan dimulailah Persekutuan pembaca Alkitab atau Scripture Union, yang sangat berjasa dalam membangun upaya membaca dan merenungkan Alkitab pada tataran Warga Jemaat. Kini ia berkembang menjadi SBU, SGD, SGK.
Kepemimpinan dan kependetaan GPIB juga berasal dari bukan wilayah GPIB tetapi oleh karena suatu sejarah pelayanan memasuki GPIB dan kepemimpinan GPIB. Karena alasan sejarah dan keterkaitan historis, pelayanan dalam bahasa Belanda di GPIB Immanuel DKI masih terus dipertahankan. Pengunjungnya makin banyak. Dari Duta Besar Republik Suriname sampai dengan Pejabat-Pejabat Negara Belanda atau fungsionaris lainnya yang sedang melakukan kunjungan kerja di Jakarta. GPIB yang juga hadir di wilayah industri, turisme dan bisnis nya, memerlukan pengembangan pelayanan dalam bahasa Inggris. Bila ada Teaching Hospital terasa tak terbendung keinginan untuk menjadikan pelayanan dalam kedua bahasa tadi di Gereja Immanuel DKI sebagai Teaching Service Church. Bila perlu dilaksanakanlah kerja sama dengan STT Jakarta. Hal demikian penting sekali. Banyak sekali permintaan agar ibadah peneguhan dan pemberkatan nikah , baptisan bahkan masuk rumah baru dilakukan dalam kedua bahasa itu. Pendeta GPIB haruslah merupakan pendeta global dalam kinerja pelayanannya. Indah sekali menyaksikan Go Global Self Confident Pastors yang terampil dan percaya diri.
Bagaimana dengan rencana penulisan Buku Sejarah GPIB? Baru-baru ini Dr.Th van den End mampir di MMT 10 , Kantor PHSA GPI, dan terjadilah pembicaraan tentang pembuatan Buku Sejarah GPI. Rasanya patut juga pada saat yang sama dilakukan pembuatan Buku Sejarah GPIB. Ada banyak kekayaan historis-ekklesiologis dan yang non ekklesiologis yang perlu kita ketahui dan tarik ke permukaan. Kekayaan kepustakaan kita sebagian telah berada di Arsip Nasional. Selebihnya tersebar atau tersimpan entah di mana. Sekali lagi, jangan lupa , semua bahan dan dokumen yang kita perlukan tersedia. GPIB juga mempunyai program seperrti itu. Tinggal melaksanakannya. Mari kita doakan agar hal itu tercapai.
Oikoumenitas atau rasa keesaan mungkin agak tersisih oleh karena amat banyaknya agenda pembinaan dan perupaan di samping pelayanan yang cukup menguras baik daya dan dana. Salah satu indikator kelemahan ini nampak dalam duduknya Pejabat GPIB dalam MPH PGI. Pendidikan Strata 2 dan 3 merupakan kebutuhan untuk merebut posisi-posisi tersebut. Juga pengambilan bidang studi yang harus lebih inovatip dan berujung transformatip baik bagi kehadiran gereja maupun dalam kehidupan berbangsa. Hubungan dengan Gereja di Asia dan Amerika Serikat serta dengan Gereja-gereja di Eropa terasa juga amat langka. Rasanya bukan karena nasionalisme yang berlebihan, tetapi rasanya memang tidak menganggap itu perlu. Iuran bagi WCC., WARC, CCA hampir selalu terlambat atau hanya separuh terbayar. Itupun dengan berimbal return ticket pesawat termasuk board and lodging menghadiri World Assembly di mana GPIB tercatat sebagai anggota. Kerja sama dalam bidang ini penting sebab memiliki hubungan langsung dengan badan-badan dunia seperti PBB, WHO, Unicef, MDG, Global Christian Forum, Inter Faith bahkan harus mempunyai link dengan OKI ,Green Peace, dan Environmental Strategy Foundations, Uni Eropa dan Moral Foundations of Commerce and Politics, LSM HAM Internasional, ILO, Red Cross International di samping kerja sama dengan Pendidikan Teologi Dunia dalam rangka pengadaan tenaga-tenaga strategis baik dalam bidang teologi maupun dalam pelbagai bidang multi disiplin yang menyangkut berbagai bidang hidup dan pelayanan. Peranan GPIB dalam PGIW memang sudah amat lama bahkan pernah amat mendominasi wilayah-wilayah PGI. Penajaman peran itu dan peran serupa di Lelbaga-Lembaga Oikoumenis seperti juga di STT –STT yang diakui GPIB menjadi amat penting.
Keesaan dalam GPI sebagai Gereja-Gereja Bagian Mandiri dalam GPI merupakan suatu keharusan untuk memeliharanya dengan sepenuh hati. Dalam ikatan ini bukan sekedar ikatan organisatoris belaka tetapi ikatan latar sebagai satu gereja yakni GPI . juga satu latar belakang teologis dan ekklesiologis yang sama pula. Dari pola penyebaran warga Jemaat maka kita adalah benar-benar Gereja Saudara, Sister Churches. GPIB adalah gereja terkaya di antara GBM GPI. Dari skala gaji sampai semua fasilitas yang dimilikinya, semua membuat GBM GPI yang lain ingin juga ikut serta mendapatkan berkat itu. Melalui upaya apa? Melalui upaya membangun GPI bersama-sama dalam melaksanakan program dan anggarannya. Melalui pertukaran pelayan Firman, TUG, dll. Yang paling menantang adalah menurut sertakan PHSA GPI dalam pelantikan Majelis Sinode GPIB terpilih. Dengan cara itu melakukan penerusan ikatan sejarah bersama dalam GPI.
Dengan mengemukanya masalah pasar dunia maka kita memang harus berhubungan juga dengan OECD (Organization for Economi Co-operation and Development).Wilayah Pelkes kita penuh dengan kemungkinan pembangunan agraris modern yang juga harus memiliki pola berdasarkan sifat agraris wilayah atau sifat kelautan dan sungai yang dimilikinya. Pelkes dapat dijadikan wilayah produksi yang potensial. Bahkan menghadirkan GPIB sebagai Gereja yang peduli dan menjaga lingkungan, maka pola suatu Green Church harus juga kita miliki.
Setiap kali rasa hati tersayat melihat gedung gereja monumen nasional yang tersebar hampir di semua alun-alun kota besar di mana GPIB melayani, justru kebanyakan kurang terawat, Penerangan dalam Gereja yang amat minim seperti di Kafe saja, alat pengatur suhu atau air conditioner yang sudah lama tidak dirawat, kotor dan smellynya “ruang penting” yakni toilet, sound system yang sama sekali tidak menunjang ditambah tidak disediakannya operator light and sound dan gen-set terasa melengkapi semua kekurangan dalam bidang perawatan dan keindahan Gedung Gereja. Bahkan ada konsistori yang udaranya sama dengan cafe tempat merokok. Merokok di Konsistori sambil menghitung uang persembahan amat tidak pantas. Apakah merokok benar-benar berakibat serius atas kesehatan, memang mungkin masih harus diteliti. Tetapi kebiasaan tersebut nampaknya bertentangan dengan baik dengan diperlukannya udara yang bersih, lingkungan yang bersih dan rasa bersih rohani. Merokok merupakan hak asasi. Tempat dan kesempatannya yang memerlukan regulasi. Sudah ada Perda yang melarangnya. Akhirnya diperlukan Peraturan Pemeliharaan Gereja Bersejarah (Cagar Budaya) yang standard. Penyelamatan asset bersejarah ini penting sebab GPIB memiliki legacy ini.
Krisis keuangan GPIB sudah terlampaui, GPIB mandiri seratus persen. Krisis manajerial GPIB telah teratasi. Krisis ini sejak terciptanya sistim check and balance memerlukan latihan pemenuhannya melalui PST-PST yang akan datang. Sistim Presbiterial Sinodal hendak juga dirubah prakteknya melalui penciptaan Sinode-sinode Wilayah. Hal demikian menarik. Namun, apabila sistim ini hanya hendak mereduksi jumlah Peserta PS dan PST, maka semangat memperkenalkan daerah pelayanan dan menekankan strategi sinodal pengatasannya akan terkendala. Apabila hendak menekankan karakter dan kekhasan wilayah serta plus-minus SWOTnya yang membutuhkan sinergi dari Wilayah pelayanan GPIB lainnya, maka menjaga agar jarak rentang antara Majelis Sinode dan Jemaat dapat dijembatani melalui suatu tatanan semi struktural yang tetap dalam kesepakatan presbiterial sinodal, maka upaya itu harus hati-hati dikerjakan. Apabila tidak maka GPIB akan jatuh ke dalam kongregasionalisme.
DR. W.I.M Poli menyampaikan pesan yang kuat bagi GPIB apabila hendak memasuki masa depannya dengan penuh kepastian. Beliau menyatakan GPIB harus membangun tiga hal, yaitu Vision Building, Capacity Building dan Team Building. Setelah pencangan Pembangunan Jemaat Missioner oleh Ketua Majelis Sinode GPIB , Pdt.D.R.Maitimoe yang diteruskan beliau dengan Pembinaan Warga Gereja dan penggeloraan Penelitian dan Pengembangan oleh Ketua Majelis Sinode GPIB Pdt. A.J. Sahetapy-Engel,M.Th, Cand. Doctor, yang atas kebijakannya dibuat Buku Sejarah GPIB Bahtera Guna Dharma. Pelbagai Pengadaan Pejabat Gereja dan Pemantapan Jemaat-Jemaat dan Regio/Mupel GPIB ,upaya Pembangunan Finansial dan Ekonomi Jemaat, Pendasaran Tata Ibadah GPIB, Konsultasi Pendeta Wanita yang pertama di era tujuh-puluhan, pelaksanaakn Perelevansian Tata Gereja dan Ordinansi-Ordinansi serta Peraturannya menjadi Tata Gereja tahun 1972, lalu Tata Gereja 1982, hubungan kerja salma dengan OMF dalam pelaksanaan Pendidikan Theolgia Extension (PTE) GPIB hubungan keesaan yang akrab dengan DGI/PGI, serta masih tetap bersama dalam GPI melalui BaPeAm GPI, kesemuanya oleh Pdt.B.Simauw S.Th sebagai Ketua Majelis Sinode GPIB. Peranan para Penasehat Majelis Sinode GPIB seperti Prof.Dr.J.l.Ch Abineno, Pdt.Prof.Dr.P.D Latuihamallo, Pdt. Dr. Liem Khiem Yang, juga jasa Pdt. DR(HC) D.J Lumenta , Laksamana (Purn) Soedomo, dan Pdt Prof. Dr John Titaley dan Pdt. Prof Dr. G.I Singgih, sungguh harus disyukuri oleh GPIB.
Peranan Pdt.Dr.O.E.Ch Wuwungan amat penting dalam pengadaan Griya Sekesalam , PPWG Giya Bina Lawang, Rumah Sakit GPIB Dukuh Pakis. Saya masih ingat perumusan dasar yang kemudian dikembangkan menjadi Pemahaman Iman GPI dibuat oleh Pdt. Dr.O.E.Ch Wuwungan dan Bapak Pdt Obed Sahulata bertindak sebagai editor dan PHMJ Effatha sebagai Sekretaris/Fasilitator. Fasilitator merangkap Peranan para Ketua-Ketua Majelis Sinode kemudian yakni Pdt R.A Waney M.Th dan Pdt. S.Th Kaihatu, M.Th melakukan langkah-langkah penerusan yang dilakukan melalui pemformulasian yang lebih tepat atas praxis berteologi dan berekklesiologi serta berkeesaannya GPIB di tengah pelbagai tantangan Gereja, Bangsa dan Negara. Saya juga berterimakasih kepada para Ketua II, Majelis Sinode, Pen.DR.S.W Lontoh,(Alm) , dan Pdt. J.D Sihite M.A serta Prof.Dr. John FoEh, yang bersama beliau-beliau banyak pekerjaan telah dilakukan pada level Majelis Sinode. Terimakasih juga kepada semua Para Pendeta , para Penatua dan Diaken GPIB, atas semua kerjasama dan bantuan , jalan keluar yang diberikan dalam masa pelayannan saya.
Perjalanan GPIB dieteruskan nuansa baru. GPIB telah dibekali dengan Pemahaman Iman yang meskipun pengalimatannya atau formulasinya terdapat banyak sekali kelemahan akibat kejanggalan teologis yang dipaparkannya karena dirumuskan terlalu terburu-buru. Tata Gereja is in the making. Fondasinya sudah ada. Rektifikasi teologis sudah dilakukan. Sistematisasinya harus benar-benar akurat dan tidak bertentangan dengan dasar ekklesiologis GPIB yang sudah tertanam sejak pemandiriannya. PKUPPG sebagai pembangunan dalam skala waktu guna mengukur tingkat keberhasilan berdasarkan visi bersama dan missi yang beragam, serta masuknya Psikologi sebagai ilmu bantu Teologi dalam merekrut bakan Pendeta GPIB menandakan terbukanya GPIB untuk melihat penataan pelayanannya secara komprehensif dan holistik. Eksplorasi baru dalam penataan bergereja yang dapat menjawab tantangan zaman harus dimasuki GPIB. Sebuah catatan kecil adalah perlunya pelayanan Counseling Rohani ditingkatkan. Konsultasi dalam bidang lainnya seperti bantuan hukum, pengatasan bahaya dan akibat dari HIV/Aids, pelbagai upaya pendampingan bagi warga jemaat yang menderita penyakit yang terminatip, di samping ketidakpercayaan diri karena takut memasuki menopause , takut menghadapi masa pensiun, perlunya ketrampilan wiraswasta menjadi kebutuhan.
Dalam rangka rangka 60 tahun GPIB, kita jangan melupakan peranan dari para Istri Pendeta yang tergabung dalam Forum Komunikasi Istri-Istri Pendeta (FKIP) GPIB. GPIB harus berterimnakasih kepada para Istri Pendeta yang telah dan masih mendampingi para Pendeta dalam masa pelayanannya dengan tingkat kesulitan hidup yang rata-rata tinggi. Juga kita berterimakasih atas para Suami Pendeta GPIB yang memberikan support bagi Istrinya yang adalah pelayan Firman dan Sakramen GPIB. Saya amat berterimakasih kepada Istri saya, Inneke Jonathans-Huwae atas semua yang dilakukannya sampai saya menjelang pensiun. Masih terdapatnya uang pensiun bagi Janda Pendeta GPIB yang amat tidak masuk akal apabila diukur oleh ukuran Upah Minimum Regional atau Kota. Dana Pensiun GPIB juga menghadapi hutang Past Service Liability, yang berjumlah dua puluh milyar rupiah. Upaya kupon partisipasi membayar PSL ini memang tengah dilakukan. Apakah akan mencapai target? Perlu didoakan dan perlu lagi usaha keras mengatasinya. Jangan pula terus menerima sanksi karena belum membayarnya, upaya penghentian hutang PSL tersebut melalui pemutihan-pemutihan yang pantas dilakukan merupakan suatu keharusan. Entah, apabila kita juga turut mencari biaya talangan dari Gereja-Gereja Luar Negeri dengan cara BOT dll. Diperlukan suatu Komisi PSL dan Masalah Pensiun Pdt/Pegawai GPIB yang berbobot terdiri dari Ahli Perbankan /Moneter /Keuangan,, Pensiun , Saham, dll.
GPIB dan Pluralisme. Sejak aksi pembakaran Gedung Gereja di Jawa Timur, maka kerja-sama Jemaat-Jemaat dengan Organisasi Nahdlatul Ulama menjadi nyata dan bahkan akrab. Pendidikan dan penyiapan upaya membangun pluralisme sekarang diperlukan. Perlu diciptakan pengertian yang lebih baik tentang Iman Kristen dalam hubungan dengan Iman Kepercayaan Lain. Pengalaman Di Jawa Barat juga menmberikan bukti yang sama, bahwa kerja sama GPIB dengan Umat Beragama Lain juga melalui Forum Antar Umat Beragama tengah dilakukan dengan baik. Untuk itu haruslah dibangun rasa hormat yang lebih besar terhadap Iman Kepercayaan Lain yang dianut oleh tetangga atau saudara kita. Dalam pluralisme yang dewasa, tidak terdapat ketakutran untuk kehilangan iman. Dari suatu masa yang penuh dengan kecurigaan dan bahkan permusuhan, kita harus memasuki suatu rasa percaya atau trust terhadap saudara kita. Melihat dunia ini dengan mata dan hati dan akal yang lebih humanistis seperti yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Agenda WCC atau Dewan Gereja-Gereja Se-Dunia menciptakan Keadilan dan Perdamaian serta Keutuhan Lingkungan masih merupakan panggilan kita yang beluim sepenuhnya . Disamping itu kita juga menghadapi kenyataan permusuhan akibat perebutan lahan, ada juga dendam karena alasan politik, ekonomi lainnya dan diperlakukan tidak adil. Upaya Rekonsiliasi bagi pihak-pihak yang bersengketa harus diupayakan agar dapat membangun masyarakat-masyarakat yang diperdamaikan. Klarifikasi Nilai-Nilai Pribadi dan Kelompok perlu diadakan. GPIB ke depan harus memiliki Pusat Pelatihan dan Pengembangan Pluralisme.
Pada momen perayaan ini, haruslah kita menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan ingat akan jasa pelayanan para Pendeta, Penatua dan Diaken GPIB dan Para Mahaguru STT yang telah dimuliakan Tuhan, yaitu mereka yang telah memberikan segala-galanya bagi upaya memperlengkapi warga gereja bagi pembangunan tubuh Kristus, bahkan lengkap dengan pengabdian istri atau suaminya, bagi kemajuan GPIB. Ziarah Ke Tempat Makam terkait seharusnya dilakukan, namun apabila tidak, maka paling tidak ziarah imajiner ini dilakukan dengan hati yang penuh rasa terimakasih.
Dengan apakah dapat kita imajinasikan GPIB sekarang ini? Saya tertarik untuk mengemukakan Mazmur 48. Suatu tamasya ekklesioligis futuristik nampak di sana dengan segera. Gereja masa Depan Allah ini telah menyataklan dirinya dalam motto GPIB dalam Lukas 13:29:”Dan orang akan datang dari Timur dan Barat, dan dari Utara dan Selatan, dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah”. Dalam ayat 12 dinyatakan tentang sukacita anak-anak perempuan Yehuda, daughters of Zion yang identik dengan warga gereja GPIB, sebabagai Gereja Kristen Yang Esa, mengucapkan syukur pada perjalanan 60 tahun GPIB ini. Kita harus berjalan dan mengedari Sion, menghitung menaranya dan memperhatikan temboknya, menjalani puri-purinya supaya kita dapat menceritakan tentangnya kepada angkatan yang kemudian. Sion adalah Gereja yang dibayar tunai oleh Darah Anak Domba Allah. Itulah Tuhan Yesus Kristus. Mari kita mengukur dan mengedarinya. Mari kita periksa kemuliaannya. Pertama perhatikanlah menara-menaranya. Maksudnya kebenaran-kebenaran spiritual atau rohaniahnya yang transendental. Itulah kemuliaan Gereja Tuhan ini. Lambang GPIB yang tercantum dalam Stempel GPIB sebenarnya tidak sekedar berlatar belakang gunung dan lembah di mana GPIB hadir tetapi bergambar penuh menara-menara gedung gereja GPIB yang begitu banyak dan tersebar di pelbagai kota dan desa, pulau dan pelosok di Tanah Air Indonesia. Doktrin Alkitab tentang Allah yang Esa dan Tritunggal, Allah penuh kuasa , hikmat , kasih. Termasuk dalam ajaran tentang atribut-atribut ke-Allah-an dan kekudusan-Nya. Kasih karunia dan pemerintahan Allah yang tak terbatasi. Karya penyelamatan oleh Kristus di salib, pembenaran karena iman, kasih karunia dan Alkitab. Kita lihat tembok-temboknya. Ini bagian pertahanan internal GPIB. Pertahanan dalam oleh Allah, pertahanan luar adalah bagian dari karya warga gereja, yang membangun rupa gereja, di atas bumi. The outer human ramparts. Bukankah kita telah membangun Pengakuan dan Pemahaman Iman, Tata Gereja dan Missi Gereja GPIB? Lalu kita menjalani puri-purinya atau istananya. Apakah itu. Itu adalah hak-hak istimewa para orang kudusnya. The priveleges of the saints. Jumlahnya di GPIB saja terlalu banyak. Istana selalu bicara tentang keindahan, maksudnya keindahan kemuliaan para warga gereja yang diberkati oleh Tuhan. Istana atau puri yang melambangkan semua janji Allah kepada umat-Nya yang adalah tidak lain ya dan amin. Apakah kita adalah anak-anak Allah. Pewaris bersama Kristus atas kemuliaan yang akan datang? Kita harus menceritakan kepada angkatan yang kemudian. Apakah kegembiraan sejati kita? Mengelilingi dan mengedarinya, menghitung menaranya dan memperhatikan temboknya serta menjalani puri-purinya atau istana-istananya. Suatu ziarah rohani yang juga futuristik, sebab Allah yang kita himbau untuk memimpin pelayaran Bahtera GPIB , pada saat pemandirian GPIB dari GPI melalui Keluaran 33:15”Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini”; adalah Allah kita seterusnya, Dialah yang memimpin kita(Maz.48:15). Terpujilah Kristus Tuhan dan datanglah ya Roh Kudus. Selamat meneruskan Pelayaranmu, Bahtera GPIB. Vaya con Dios GPIB. . Amin.
Berita
Enam Puluh Tahun GPIB Mengarungi Pelbagai Krisis Zaman 31 Oktober 1948-31 Oktober 2008
10 February 2009, 14:02
